Satu Islam Untuk Semua

Monday, 05 November 2018

Merenungkan Makna 12 Butir Penting Ajaran Nabi


Merenungkan Makna 12 Butir Penting Ajaran Nabi

islamindonesia.id – Merenungkan Makna 12 Butir Penting Ajaran Nabi

 

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ma’rifah adalah modalku, akal sumber agamaku, cinta asasku, rindu tungganganku, ingat Allah karibku, bisa-diandalkan perbendaharaanku, kesedihan temanku, ilmu senjataku, sabar selendangku, ridha harta-karunku, zuhud keterampilanku, keyakinan kekuatanku dan shalat cahaya-mataku.”

Sebagai bahan perenungan, berikut makna dari butir-butir penting ajaran Nabi dalam hadis di atas.

  1. “Ma’rifah adalah modalku”: Manusia adalah khalifah Allah. Ma’rifah atau mengenal-Nya adalah mengenal akhlak-Nya. Dan inti akhlak-Nya adalah kasih sayang. Maka memiliki kasih sayang adalah modal menjalani hidup melaksanakan tugas kekhalifahan kita.
  1. “Cinta adalah asasku”: Ajaran Islam yang dibawa Nabi SAW didasarkan atas cinta: Cinta kepada Allah dan sesama. Hal ini sebagaimana firman Allah: “Orang-orang beriman amat dalam cintanya kepada Allah (QS 2:165). Nabi pun mengajarkan: “Tak masuk surga kalian hingga saling mencinta” (maka) “kalau mau dicintai yang di langit, cintai yang di bumi.”
  1. “Rindu adalah tungganganku”: Rindu (syawq) adalah wahana Nabi menuju Sang Kekasih, Allah SWT. Pernah sekali kerinduan beliau terpuasi saat bertemu dengan-Nya dalam mi’raj. Sejak itu, shalatlah tunggangan beliau. “Shalat adalah penyejuk-mataku” (seperti beliau sampaikan di akhir hadis ini juga).
  1. “Ingat Allah adalah karibku”: Kedekatan Rasul kepada Allah selalu melahirkan kerinduan bertemu. Meski seluruh hidup untuk-Nya, beliau diriwayatkan sebagai “rahib” (ahli ibadah) di malam hari hingga kakinya bengkak. Beliaulah orang yang paling paham firman Allah: “…dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS 13:28)
  1. “Bisa diandalkan adalah perbendaharaanku”: Bisa diandalkan bermakna bersifat amanah. Nabi digelari al-amin (yang amanah). Itulah modal beliau dalam menjalankan kenabiannya. Begitu pentingnya sifat amanah hingga Nabi mengajarkan: “…jangan khianati orang yang mengkhianatimu” (HR Abu Dawud & Tirmidzi)
  1. “Kesedihan adalah temanku”: Kesedihan (khuzn) melahirkan kerinduan kepada Allah Sang Pelipur lara. Dalam sebuah hadis qudsi difirmankan: “Aku berada di dekat orang yang patah hati”. Maka, jika Allah cinta kepada seseorang (dan ingin mendekatkan orang tersebut kepada-Nya), Dia uji orang itu (dengan kesusahan).
  1. “Ilmu adalah senjataku”: Rasul SAW banyak mendapatkan penentangan dan tindakan meremehkan. Tapi, seperti diajarkan Tuhan-Nya, beliau menghadapi semuanya itu dengan hikmah (ilmu) dan ajakan yang baik. Kalau pun harus berdebat, Rasul mendebatnya dengan cara-cara yang lebih baik, dengan argumentasi yang meyakinkan.
  1. “Sabar adalah selendangku”: Selendang berfungsi sebagai hiasan dan pelindung. Begitu pula, sabar mengundang perlindungan Allah dan keintiman-Nya. “Sungguh Allah bersama orang-orang sabar.” (QS 2:153). Kesabaran juga membebaskan kita dari kemarahan dan kegetiran, menjadikan orang baik dan senang kepada kita.
  1. “Ridha adalah harta-karunku”: Saat keadaan sulit, harapan tak tercapai, upaya sudah maksimum dan doa belum terkabul, maka ridha adalah penyelamat terakhir kita. Ridha tak lagi memilah apa yang datang dari Allah sebagai baik dan buruk. Mata ridha melihat semua yang datang dari-Nya baik dan membahagiakan.
  1. “Zuhud adalah keterampilanku”: Zuhud adalah menahan diri dari sesuatu yang sesungguhnya halal. Ia mengajar kita bijaksana memilah mana yang kita butuhkan dan mana yang merupakan dorongan hawa nafsu. Dengan zuhud kita akan hidup dalam keseimbangan dan terhindar dari sikap berlebihan yang merugikan.
  1. “Keyakinan adalah kekuatanku”: Kita semua tahu bahwa tanpa keyakinan kita ini lemah, betapa pun sesungguhnya kuat. Sebaliknya keyakinan bisa menjadikan kita mampu melampaui kelemahan kita. “Sungguh orang-orang yang… meneguhkan pendirian mereka, malaikat akan turun (menolong) mereka…” (QS 41:30)
  1. “Shalat adalah penyejuk mataku”: Shalat adalah sarana kita bermunajat (bermesraan) dengan Tuhan. Jika Rasul bersedih, dia akan berkata kepada Bilal: “Rehatkan kami, wahai Bilal”. Maka Bilal pun akan melaungkan azan, dan Rasul pun shalat, menemui Kekasihnya, Sang Pengasih dan Penyayang.

 

EH / Islam Indonesia – Sumber: @Haidar_Bagir 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *