Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 08 October 2017

Lima Makna Istighfar Menurut Imam Ali bin Abi Thalib


Lima Makna Istighfar Menurut Imam Ali bin Abi Thalib

islamindonesia.id – Lima Makna Istighfar Menurut Imam Ali bin Abi Thalib

 

Istighfar bagi kaum Muslimin bukanlah sesuatu yang asing, baik dari sisi arti maupun fungsinya. Dalam kehidupannya sebagai manusia, sebagai hamba di hadapan Tuhan, sebagai makhluk yang tak luput dari salah, khilaf, dan dosa, istighfar merupakan salah satu cara dan jalan yang tersedia bagi manusia sebagai upaya memohon ampun atas dosa-dosa yang telah diperbuat. Baik perbuatan dosa yang disengaja berupa pelanggaran atas perintah Allah, maupun dosa yang disebabkan oleh keteledoran karena kurangnya pengetahuan atau kebodohan.

Meski demikian, tak sedikit pula kaum Muslimin yang belum benar-benar memahami lebih jauh tentang betapa agungnya kedudukan istighfar. Sehingga bagi sebagian mereka, istighfar tak lebih dari sekadar ucapan astaghfirullahal adzim semata.

Hal ini sebagaimana pernah terjadi pada masa Imam Ali, yang ketika melihat seseorang mengucapkan kalimat istighfar sambil tertawa, beliau berkata, “Tahukah engkau apa yang telah engkau ucapkan sambil tertawa itu? Itu adalah kalimatul illiyyin, kalimat yang diucapkan oleh orang-orang yang tertinggi kedudukannya di hadapan Allah SWT.”

Lebih lanjut, ada beberapa makna kalimat istighfar menurut Imam Ali, yang perlu kita ketahui dan pahami, agar kita tak salah menempatkan istighfar pada tempat yang tak selayaknya.

Pertama, kalimat istighfar adalah kalimat penyesalan yang mendalam di dalam hati. Tentang hal ini, para ulama menyatakan bahwa ketika kita mengucapkan astaghfirullahal adzim, Allah berseru kepada para malaikat, “Hai malaikatku, dia mengucapkan permohonan ampunan ke hadapan-Ku. Wahai malaikat-Ku seluruhnya, saksikanlah bahwa Aku telah ampuni seluruh dosa-dosanya.”

Karena itu, saat kita baca kalimat istighfar, sadarilah bahwa kita sedang berhadapan langsung dengan Dzat Maha Agung, Maha Penentu nasib kita, sementara kita tidak tahu apa yang Allah SWT telah tentukan bagi kita.
Kedua, kalimat istighfar berarti kita berniat untuk meninggalkan perbuatan dosa yang telah kita lakukan. Karena itu berniatlah dengan sungguh-sungguh untuk meninggalkan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.

Ketiga, ketika kita mengucap astaghfirrullahal adzim, ingatlah akan hak-hak hamba Allah yang harus dikembalikan.

Tentang hal ini, para ulama menyebutkan bahwa dosa kepada manusia lebih berat dibandingkan dosa kepada Allah SWT. Kenapa? Tak lain adalah karena Allah SWT adalah Dzat yang arhamar rahimiin, Dzat yang Maha Pengasih di antara para pengasih, sehingga dengan taubat nasuha, insya Allah dosa kita diampuni-Nya. Namun bagaimana halnya dengan dosa kepada sesama manusia? Jangan sampai kita tak memperoleh maaf di dunia sehingga di akhirat kelak, kita dituntut pertanggungjawaban atas dosa tersebut.

Ada seseorang yang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Ya Rasulullah, sungguh aku telah memfitnah si fulan dan kini dia telah meninggal dunia. Bagaimanakah aku dapat meminta maaf kepadanya, bukankah Anda telah berkata bahwa dosa kepada sesama manusia lebih berat daripada dosa kepada Allah SWT? Bagaimana jikalau aku dituntut di akhirat kelak?” Maka Rasulullah pun menjawab, “Beristighfarlah untuknya. Tetapi bila itu berkaitan dengan materi, carilah ahli warisnya.”

Artinya, berkaitan dengan dosa kepada sesama manusia, beristighfar memohon ampun kepada Allah SWT tidak mengubah kewajiban kita untuk mengembalikan hak-hak hamba Allah yang bersifat materi, yang telah kita rampas dan zalimi. Seperti kata Rasul, jika orang yang dimaksud telah meninggal dunia, maka kembalikanlah haknya itu kepada ahli warisnya.

Lalu bagaimana jika kita tidak mengetahui keberadaan ahli warisnya atau mereka sudah tidak ada? Terkait hal ini,  para ulama menganjurkan agar kita bersedekah dengan barang tersebut atau dengan sejumlah uang yang setara dengannya, lalu beristighfar untuknya serta bertaubat dengan taubatan nasuha. Insya Allah, Allah SWT akan mengampuni kita.

Mengapa cara demikian dianjurkan? Ada kisah menarik berkaitan dengan hal ini.

Ibnu Mubarak, seorang sufi besar, suatu ketika bersama muridnya pergi melaksanakan ibadah haji. Usai berhaji, dia pergi ke pasar untuk membeli kacang Arab. Saat membeli dan menimbang sebanyak lima kilogram, ada seraup kelebihan kacang jatuh, yang kemudian diambil dan dimasukannya ke dalam kantong tanpa seizin pedagang yang bersangkutan.

Pada saat telah sampai di Mesir, dia bermimpi dan di dalam mimpinya dia ditanya, “Ya Ibnu Mubarak, apa yang engkau inginkan?” Dia menjawab, “Aku ingin hajiku diterima.” Orang dalam mimpinya itu berkata, “Ya Ibnu Mubarak, tidak ada satupun yang kulihat dari nilai hajimu.” Ibnu Mubarak bertanya heran, “Mengapa tidak ada satupun pahala hajiku?” Dikatakan kepadanya, “Ya Ibnu Mubarak, bukankah engkau mengambil seraup kacang Arab yang bukan hak mu?”

Maka menangislah Ibnu Mubarak. Esok harinya dia bersama muridnya kembali ke Mekkah untuk meminta maaf dan mengembalikan seraup kacang Arab tersebut. Sesampainya di Mekkah ternyata pedagang tersebut telah meninggal dunia. Menangislah Ibnu Mubarak.

Setelah mendapatkan petunjuk tentang keberadaan ahli waris pedagang tersebut, dikunjunginya satu per satu ahli waris si pedagang untuk meminta maaf, meski mereka tak hanya berada di Mekkah, tapi juga di Thaif, Mizan dan Ghizan.

Keempat, kalau kita dahulu, dengan nikmat yang Allah SWT berikan, tertawa ketika berbuat dosa atau maksiat, maka menangislah ketika kita beristighfar.  Karena Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk bertaubat. Menangislah ketika beristighfar agar tiap tetesan airmata menjadi saksi atas segala pertaubatan kita.

Kelima, kalau kita dahulu, dengan nikmat yang Allah berikan, mengeluarkan harta untuk bermaksiat, maka keluarkanlah lagi harta itu (berupa sedekah) untuk menebus dosa-dosa kita. Karena bersedekah itu, selain dapat menerangi dan melembutkan hati, juga dapat menolak bala. Hati yang terang (hidup) dan lembut membuat kita lebih mudah menerima kebenaran, dan kebenaran itu akan membimbing kita kepada Allah SWT.

Itulah di antara lima makna istighfar menurut Imam Ali bin Abi Thalib.

Marilah kita memperbanyak istighfar, karena kita tidak pernah lepas dari dosa. Apalagi kita juga tidak pernah tahu pasti, kapan kita akan kembali kepada-Nya.

Mari kita lazimkan istighfar. Bukankah siapa yang melazimkan atau memperbanyak istighfar sebanyak 70 kali, 100 kali atau lebih, maka Allah SWT berjanji akan memberikan ketenangan dari setiap kegelisahan hidup kita, dan memberikan kelapangan dari setiap kesempitan hidup kita?

Ya Allah, ampuni dosa-dosa kami dan dosa kedua orang tua kami.

Ya Allah, sungguh lidah ini jarang sekali beristighfar kepada-Mu, maka ampunilah kesombongan kami ya Rabb.

Ya Allah, bantulah kami untuk taat kepada-Mu, jadikan sisa umur kami untuk selalu beribadah kepada-Mu.

Ya Allah, bimbinglah kami di dalam menjalani kehidupan di dunia ini, tetapkan iman dan Islam kami dan juga anak keturunan kami.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *