Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 26 July 2015

KISAH – Sultan Turki dan Hatim At Tha’i yang Dermawan


kuda

Pada abad VI Masehi, sebelum lahirnya Nabi Muhammad saw, hidup seorang pemimpin Arab dari Yaman yang terkenal dermawan. Namanya Hatim At Tha’i. Selain dikenal dermawan, Hatim dikenal punya kuda yang tangkas dan larinya sangat cepat.

Nah, kabar ini menyebar hingga ke telinga Sultan Turki. Sebab penasaran, sultan mengirim seorang intelijen untuk mencari tahu kebenaran berita.

Singkat cerita, saat intelijen itu kembali ke istana Turki, dia pun bercerita kepada Sultan.

“Tidak ada yang menyamai kemurahan hati Hatim At Tha’i, dan tak ada kuda yang menyamai kecepatan dan ketangkasan kuda yang ia miliki. Dengan kudanya, ia mampu melintasi gurun laksana perahu yang berlayar di lautan, sementara burung elang kelelahan dan ketinggalan di belakangnya,” katanya.

“Aku akan meminta kuda itu dari Hatim,” kata sang Sultan semakin terobsesi pada kuda Hatim. Setelah merenung sejenak, Sultan lalu berkata, “jika dia memang dermawan dan  memberikan kudanya kepadaku, aku bakal termasuk orang yang percaya bahwa sifat dermawannya yang terkenal itu benar adanya. Namun jika dia menolak memberikan kudanya, seluruh berita tentang kedermawanannya itu hanyalah dusta belaka.”

Atas perintah sultan, berangkatlah seorang utusan  dengan sepuluh pengawal untuk menemui Hatim. Setelah berhari-hari menempuh perjalanan, tibalah utusan itu di Yaman. Dengan segera Hatim menjamu tamu dari negeri yang jauh itu dengan menyembelih kudanya. Setelah menikmati jamuan tuan rumah, utusan itu menjelaskan tujuan kedatangannya.

Hatim tersentak. “Mengapa kalian tidak mengatakan sejak awal?” katanya  separuh menyesalkan. “Kuda yang larinya cepat itu telah ku sembelih tadi malam sebagai sajian makan malam untuk kalian. Aku tidak memiliki hewan sembelihan lainnya lagi selain kuda itu. Karena aku tak ingin kalian tidur malam ini dalam kelaparan, maka kuda itu satu-satunya yang dapat ku hindangkan.”

Ketika utusan itu hendak kembali ke Turki, Hatim memberikan uang dan jubah yang bagus ke setiap tamunya. Meskipun kembali tanpa membawa kuda, namun mereka sekali lagi membawakan berita tentang kedermawanan Hatim. Sang Sultan yang mendengarkan berita utusannya itu tak sanggup berkata apapun selain memuji-muji kemuliaan Hatim.

 

Edy/ Islam Indonesia/ Bustan/ Foto: Animals.desktopnexus.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *