Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 07 January 2014

Ketika Doa Berbayar Sedekah


Indonesia ramai sedekah berbayar. Bermula dari ajakan seorang perencana keuangan dan juga dewan pembinan komunitas @sedekahHarian, Ahmad Gozali, lewat media sosial twitter. Lewat akun twitternya, Ahmad Gozali menawarkan program sedekah harian dengan memberi kesempatan donator menitipkan doa yang akan dia bacakan pada waktu dan tempat khusus ketika berada di Tanah Suci Mekkah.

Berbagai respon muncul dengan cepat menanggapi ajakan tersebut. Ada pengikut @SedekahHarian yang antusias dan ada juga yang mencaci ajakan Ahmad Gozali karena dianggap menjual doa juga menipu. Tentu kecaman lebih banyak datang sebab nominal minimal donasi Rp 100 ribu tidak memperlihatkan wujud dari sedekah yang bergantung dari pemberi sedekah.

Wakil Menteri Agama, Nasaruddin Umar, turut mengomentari kegiatan titip doa ini. menurutnya praktik layanan doa berbayar sebagai bentuk pembodohan masyarakat dan meminta para pelaku segera menghentikan praktik mereka.

“Janganlah ada pembodohan masyarakat dengan jaminan bahwa doanya akan terkabu. Berdoa erat kaitannya dengan tingkat keihklasan seseorang. bisa jadi doa seseorang dapat dikabulkan Allah lantaran yang bersangkutan melakukannya dengan kesungguhan secara mendalam. Cara berdoa yang dilakukan sesuai tuntunan agama bakal diridhoi Allah,” beliau menjelaskan

Ahmad Gozali pun mengakui kesalahan ketika mencantumkan harga bagi yang ingin menitipkan doa. “Sekali lagi saya akui keteledoran saya yang tidak melakukan crisscheck secara mendalam krn terburu-buru sebelum keberangkatan ke Turki,” kata Ahmad Gozali lewat akun twitternya. Ahmad Gozali juga menjelaskan bahwa titip doa dimaksudkan karena sebagian orang ingin didoakan secara khusu di tempat dan waktu yang khusus pula.

Program sedekah harian  itu bermaksud untuk memberi kesempatan pada donatur untuk menitipkan doa kepadanya yang sedang berada di Tanah Suci. “Nominal tersebut tadinya dimaksudkan sebagai contoh bagi donator dan untuk memudahkan untuk identifikasi program sedekah yang diadakan.”

Bila dicermati dengan bijak, ajakan bersedekah, lalu didoakan oleh Ahmad Gazali yang kebetulan berada di Mekah tidaklah sepenuhnya salah. Bersedekah saat ini perlahan menjadi sebuah kebiasaan bagi warga Indonesia yang mayoritas berada di kelas menegah. Kebiasaan bersedekah pun menjamur dengan diiringi menjamurnya komunitas bersedekah, @SedekahHarian salah satunya. Sayangnya, ajakan Ahmad Gazali menjadi terlihat berbayar karena donator diharuskan mendonasikan dengan angka minimal seratus ribu rubiah. Pembatasan minimal dalam bersedekah tentu mengingkari makna dan nilai dari bersedah berupa keikhlasan dan ketulusan berbagi dari seseoang yang jumlahnya berbeda Bisa saja kurang atau lebih dari dari seratis ribu rupiah.

Titip doa atau meminta tolong seseorang yang masih hidup untuk mendoakan sebenarnya ada dalam ajaran syariat Islam. Praktik ini disebut dengan istilah Tawasul bil-Ahya atau bertawasul dengan orang yang masih hidup. Tawasul adalah bentuk meminta seseorang yang dianggap memiliki derajat atau indikasi kesolehan kepada Allah sebagai perantara. Orang tersebut mendoakan apa yang kita minta lewat lisannya kepada Allah. Hanya saja di Indonesia istilah tawasul berubah menjadi titip doa.

Praktik bertawasul tidaklah dilarang sebab telah dilakukan sejak zaman sahabat ketika rasulullah masih hidup. Para ulama pun sepakat bahwa bertawasul diperbolehkan. Tawasul adalah bagian dari usaha seorang muslim agar keinginannya dapat terkabulkan oleh Allah. Meski harus diwaspadai bahwa bertawasul terhindar dari perilaku syirik dengan meyakini bahwa seseorang yang yang dimintai untuk berdoa memiliki kemampuan sehingga doa dapat terkabulkan. Semua upaya doa dikembalikan pada Allah untuk mengabulkan. Bertawasul adalah bagian dari upaya tersebut selain sebagai invidiu juga berdoa dengan baik.

Dalam sebuah riwayat pun tidak diketemukan pernyataan bahwa berdoa hanya boleh dilakukan diri sendiri. Riwayat Imam Tarmdizi (5/559) melalui sahabat Utsman bin Hunaif, Rasulullah pernah didatangi seorang buta. Beliau meminta kepada sahabat Rasulullah untuk didoakan agar kebuataannya diangkat Allah dan dapat melihat kembali. Rasulullah tidak menolak atau memberikan sebuah gerakan penolakan pada peristiwa itu.

Riwayat lain, yaitu dari Imam Muslim dalam kitab shahihnya diceritakan bahwa Rasulullah sedang khotbah Jumat kemudian ada seseorang yang masuk masjid lalu meminta agar kampungnya yang paceklik didoakan.

“wahai Nabi harta kami hancur, jalan-jalan (rezeki) telah terputus. Berdoalah kepada Allah untuk menolong kami”, kemudian Rasul saw mengangkat tangannya dan berdoa: “ya Allah tolonglah kami, tolonglah kami, tolonglah kami”. Seketika langit mendung dan hujan turun lebat sejak Jumat itu sampai Jumat berikutnya terus menerus tanpa henti.

Riwayat tadi bisa menjawab bahwa praktik bertawasul diperbolehkan. Hanya saja seorang muslim tetap harus menyerahkan ketentuan pada Allah serta menghindari perilaku syirik dengan menganggap seseorang dapat mengabulkan permintaannya.

Perihal titip doa dari Ahmad Gozali sebenarnya baik, meski disayangkan tersandingkan dengan cara yang tidak baik. Bersedakah biarlah tanpa ada sebuah batas nominal. Semoga masyarakat Indonesia gemar bersedekah dan doa-doanya dapat terkabulkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *