Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 17 May 2016

HIKMAH — ‘Dan Kita Semua adalah Batu-Batu Biasa’


Wa Nahna Jamian Kal Hajar

IslamIndonesia.id–Keadaan setiap Mukmin senantiasa baik. Jika dapat karunia dia bersyukur, saat diuji dengan musibah dia bersabar. Itu kata Nabi Muhammad saw.

Orang Mukmin, karena yakin bahwa apa saja yang dikaruniakan Tuhan sebagai yang terbaik, selalu senang. Tak ada kebahagiaan yang berlebih, waktu bersedih tak histeris. Begitupun saat marah, dia tak meledak-ledak dengan sumpah-serapah. Dan bila sedang stabil emosinya, dia akan membuat orang di sekitarnya merasa aman dan nyaman dari pengaruh pembicaraan (mulut) dan akibat tindakan (tangan)nya. Maka beruntunglah si mukmin, di dunia ini dan di akhirat nanti.

Sedangkan orang-orang yang tak beriman, justru sebaliknya. Saat beroleh nikmat dia lupa bersyukur (kufur nikmat), seolah nikmat itu memang sudah menjadi haknya. Namun bila ditimpa musibah, dengan mudahnya dia mengutuk dan menyalahkan Tuhan. Saat senang dia kerap tak sudi menjaga pembicaraan (mulut)nya, apalagi mengendalikan tingkah dan perilakunya. Bila sedang labil emosinya, apa dan siapapun yang ada di hadapannya tak mustahil akan terkena bahaya. Begitulah orang-orang tak beriman memperlakukan Tuhan, diri dan orang lain di sekitarnya. Maka celakalah mereka akibat perbuatannya di dunia, sebelum tiba saat menanggung murka dan pembalasan Allah kelak di akhirat.

Salah satu ciri Mukmin, adalah tingginya kesadaran dalam meng-hisab dan menghitung-hitung dirinya sendiri setiap akhir hari. Untuk itu, sebelum beranjak tidur, biasanya dia akan bertanya: apa saja hal baik dan amalan mulia yang telah dilakukannya bagi kebaikan dirinya dan orang lain. Dia pun akan menimbang: apa saja hal buruk yang akibat kelalaiannya menjaga diri, telah menjerumuskannya ke dalam kekhilafan dan dosa? Dia akan berhitung, antara kebaikan dan keburukan, manakah yang prosentasenya lebih besar dan lebih berat timbangannya? Dan seterusnya.

Maka akibat positif dari penghisaban diri di setiap akhir hari itu, setidaknya adalah keinsyafan bahwa dirinya sebagai hamba Tuhan, masih penuh dengan dosa dan kekurangan. Pada gilirannya, hal ini akan tercermin dalam tindakan nyata dan akan membuahkan sikap serta perilaku mulia, yaitu kerendahan hati sebagai akibat kemudahan melihat kelebihan-kelebihan orang lain. Orang-orang dengan karakter seperti inilah yang termasuk dalam kriteria pribadi si wasis yang mawas diri, berbeda dari orang-orang yang tidak mampu melihat kekurangan-kekurangannya sendiri sehingga kerap kesulitan melihat kelebihan-kelebihan orang lain.

Mukmin dengan karakter rendah hati, tak akan gampang menghujat dan menghakimi sesamanya, dengan tujuan merendahkan martabat dan harga diri orang yang dihujatnya. Dia akan berfokus pada upaya berkesinambungan dalam memperbaiki diri dan penyempurnaan insania, ketimbang meneropong kesalahan dan kekurangan orang lain yang derajatnya dianggap lebih rendah daripada dirinya. Dia tidak akan merasa mulia dengan apa yang dianggapnya kelebihan, dan bahwa semua keberlimpahan yang diterimanya sebagai buah dari hasil usahanya, sebab sesungguhnya semua karunia itu berasal dari kemurahan Tuhan belaka.

Dengan kesadaran itulah dia tak akan gampang menuduh orang lain sebagai manusia rendah, apalagi menyebutnya sebagai sampah atau semacamnya. Karena dia yakin, mengutip Emha “Cak Nun” Ainun Najib, bahwa Tuhan Maha Suci tak akan pernah menciptakan sampah. Melainkan diri mereka sendiri dan masyarakatlah yang sejatinya merupakan produsen sampah. Maka logis dan pantaskah mereka mengutuk sampah, padahal itu produk mereka sendiri? Bukankah yang memproduksi sampah lebih hina dari sampah, sebab mereka justru pabriknya?

Menyikapi tabiat sebagian orang yang suka menghujat dan merendahkan orang lain, dalam salah satu tulisannya, Cak Nun menegaskan bahwa orang-orang yang mendalami ilmu dan mengembarai hamparan pengetahuan, oleh Allah akan diberi pemahaman mendalam atas makna kalimat “Rabbana ma khalaqta hadza bathila”, wahai Tuhan sungguh tak sia-sia Engkau ciptakan semua ini. Maka bagi orang-orang berpemahaman mendalam itu, seperti diibaratkan Cak Nun, bahkan bagi mereka, maaf, tlethong lembu pun bukanlah sampah. Karena jika Allah menghendaki, barang yang biasanya dianggap menjijikkan itupun bisa diubah-Nya menjadi batu akik yang akan dibeli para penggede dengan harga mahal. Itu sebabnya, dalam pandangan Mukmin dan mereka yang benar-benar paham makna kalimat “Rabbana ma khalaqta hadza bathila”, maka secara otomatis akan mampu menilai bahwa apa saja ciptaan Tuhan, bukanlah sampah. Karena semua yang disampahkan oleh manusia, bisa saja diawetkan oleh Tuhan, diproses menjadi mutiara, berlian, intan, batu mulia, dan seterusnya.

Tak heran bila para Mukmin, kekasih yang paling dicintai oleh Tuhan digelari oleh para filosof dan pemakrifat kehidupan sebagai “Yaqut”. Dan semua yang bukan kekasih utama Tuhan ikhlas dan tahu diri, lalu berendah hati di hadapan mereka dengan mengucapkan “Wa nahna jami’an kal-hajar”, dan kita semua adalah batu-batu biasa.

Maka apa sebenarnya maksud sebagian orang yang merasa dirinya paling mulia, lalu dengan mudahnya merendah-rendahkan dan menyampah-nyampahkan orang lain, padahal dirinya sendiri bukan kekasih utama Tuhan? Apa maksud mereka saat mengatakan bahwa orang lain, selain dirinya layak dimurkai dan diazab Allah?

Kepada orang-orang semacam itulah Cak Nun bertanya, “Siapa nama Ustadz Syekh Kiai Ulama Mursyid yang menjabat sebagai Menteri Humas-nya Allah? Sekjen Akhirat? Kepala Takmir Neraka, yang memegang daftar calon-calon penghuninya? Atau siapa nama keponakan Tuhan, nak-ndulur Tuhan, atau mungkin besan-nya Tuhan, sehingga mulutnya membunyikan kalimat yang seharusnya hanya diucapkan oleh Tuhan?”

Masih kata Cak Nun, “Tahu apa mereka tentang neraka dan surga. Tentang surga yang neraka dan neraka yang surga. Tentang seolah surga padahal neraka, seakan neraka padahal surga. Tentang surga yang diinformasikan sebagai neraka, dan neraka yang diiming-imingkan sebagai surga. Tentang surga dunia yang menjelma neraka, tentang neraka dunia yang diolah menjadi surga?”

Dengan memohon kasih sayang, taufik dan lutf Allah yang Maha Lembut, semoga kita tergolong manusia yang sadar akan kekurangan dan kelemahan diri, sadar pada kekhilafan dan dosa-dosa kita. Tidak mudah menghina, menghujat, merendahkan dan menghakimi orang lain yang belum tentu derajatnya lebih rendah dari diri kita di hadapan Allah.

Daripada merasa paling mulia dan sok paling benar sendiri, membiarkan ananiyah kita tak terkendali dan merajalela, mungkin akan lebih baik bila di hadapan sesama, dengan kerendahan hati dan keinsyafan, kita tanamkan dalam hati kita, kalimat berikut berulang-ulang: “Wa nahna jami’an kal-hajar”, dan kita semua adalah batu-batu biasa. Bukan batu mulia, bukan kekasih utama Tuhan..

Sebagaimana diriwiyatkan Nasa’i, al-Bazzar & al-Hakim, putri Rasulullah, Fathimah az Zahra yang sadar sepenuhnya betapa penyakit hati berupa ananiyah dapat menjebak manusia pada kebinasaan, maka karena itulah beliau senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari diri sendiri, dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah kepada beliau:

Wahai Yang Maha Hidup, wahai Yang Maha Berdiri Sendiri

Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan

Perbaikilah untukku segala urusanku

Dan janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri

Walau dalam sekejap mata

 

EH/IslamIndonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *