Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 08 March 2016

Gerhana dari Sisi Sains dan Islam


gerhana-dari-sisi-sains-dan-islam

Pada 9 Maret 2016, para saintis dari NASA (National Aeronautics and Space Administration) akan melakukan ujicoba sebuah kamera baru. Alat ini akan membantu mereka mengukur cahaya yang terpolarisasi. Dengan demikian mereka akan mempelajari elektron apa saja yang terdapat pada mahkota matahari. Sejauh mana kamera ini mampu mengukur polarisasi cahaya matahari juga akan terjawab esok.

Eksperimen alat ini akan dilaksanakan di Indonesia, karena gerhana ini akan berlangsung lebih dari dua jam di hampir seluruh wilayah di Indonesia.

Bagi penikmat dunia sains tentu saja peristiwa ini akan menjadi tontonan menarik dan gratis, hampir seperti planetarium nasional. Berbagai lembaga menyelenggarakan nobar alias nonton bareng gratis atas peristiwa langka ini.

100 Laskar gerhana dari Rukyatul Hilal Indonesia dan Jogja Astro Club siap memandu Nonton Bareng Gerhana Total di Jogjakarta

100 Laskar gerhana dari Rukyatul Hilal Indonesia dan Jogja Astro Club siap memandu Nonton Bareng Gerhana Total di Jogjakarta

Sementara bagi orang yang menjalankan syariat Islam, sudah selayaknya mereka melaksanakan shalat Kusuf sebagai bentuk rasa syukur atas kebesaran tanda-tanda keagungan Allah swt. Hal ini sebagaimana himbauan untuk melaksanakan shalat Kusuf yang disampaikan Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Dirjen Bimas Islam.

Shalat Kusuf adalah salah satu shalat sunnah yang didirikan pada waktu terjadi gerhana matahari, sedangkan shalat Khusuf adalah shalat yang didirikan pada waktu terjadi gerhana bulan.

Terkait fenomena alam tersebut, Masjid Istiqlal menjadwalkan pelaksanaan shalat gerhana ini (Kusuf) pada jam 6.20 WIB sampai selesai. Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA dijadwalkan akan menjadi khatib, sedangkan Ust. H. Husni Ismail, SQ, MA akan menjadi imam.

Dalil

وَمِنْ آَيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah menyembah matahari dan bulan, tetapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, jika kalian hendak beribadah kepada-Nya saja.” (QS. Fushshilat [41]: 37)

“عن أبي بكرة قال: كنا عند رسول الله صلى الله عليه وسلم، فانكسفت الشمس، فقام النبي صلى الله عليه وسلم يجر رداءه، حتى دخل المسجد، فدخلنا فصلى بنا ركعتين، حتى انجلت الشمس، فقال صلى الله عليه وسلم: “إن الشمس والقمر لا ينكسفان لموت أحد، فإذا رأيتموهما فصلوا وادعوا حتى يكشف ما بكم”.

Dari Abu Bakrah r.a ia berkata, “Dahulu pernah terjadi gerhana matahari. Nabi saw pun berdiri sambil memanjangkan sorbannya. Kemudian beliau memasuki masjid dan kami mengikutinya. Lalu kami shalat dua rakaat hingga matahari tersingkap (gerhana selesai). Rasulullah saw kemudian bersabda, “Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan tidaklah terjadi akibat kematian seseorang. Jika kalian melihat keduanya (gerhana matahari dan bulan), maka shalatlah dan berdoalah kalian sehingga selesai gerhana itu.” (HR. Bukhari, Kitab Al-Kusuf)

عن ابنِ عمر عن النبي قال: “إِن الشمس والقمر لا يخسفانِ لموت أَحد ولا لحياته ولكنهما آيتانِ من آيات اللّه فإِذا رأَيتموها فصلوا”

Dari Ibnu Umar r.a, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan tidaklah terjadi akibat kematian atau hidupnya seseorang. Namun keduanya adalah dua dari tanda-tanda Allah. Jika kalian melihat keduanya (gerhana matahari dan bulan), maka shalatlah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hukum

1. Hukum mendirikan shalat gerhana adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw).
2. Disunnahkan pula mendirikannya secara berjamaah. Boleh dilaksanakan sendiri-sendiri.
3. Disunnahkan memperpanjang rakaat pertama dari rakaat kedua.
4. Disunnahkan untuk melaksanakannya di dalam masjid.
5. Disunnahkan sang imam berkhutbah setelah shalat berjamaah, menyampaikan pesan-pesan kebaikan dan mengingat kembali kepada Allah.
6. Disunnahkan memperbanyak dzikir, takbir, tahmid, tahlil, istigfar (mohon ampunan), dan berdoa dengan mengangkat kedua tangan.

Tata cara pelaksanaan

Shalat gerhana matahari dan bulan dilaksanakan tanpa adzan dan iqamah, hanya seruan ‘as-shalatu jaami’ah’ . Sebagaimana shalat sunnah pada umumnya, shalat gerhana berjumlah dua raka’at, hanya saja berbeda pada jumlah rukuknya. Pada shalat gerhana, masing-masing raka’at berjumlah dua kali rukuk dan dua kali membaca Surah Al-Fatihah dan Surah lain. Berikut ini rinciannya:

1. Niat shalat sambil menghadap kiblat.
2. Takbiratul ihram
3. Membaca Surah Al-Fatihah
4. Membaca Surah lain (panjang).
5. Rukuk (1)
6. Berdiri kembali dan membaca Surah Al-Fatihah dan Surah lain.
7. Rukuk (2)
8. I’tidal.
9. Sujud (1)
10. Duduk di antara dua sujud
11. Sujud (2)
12. Bangkit untuk raka’at kedua dan mengerjakan sebagaimana rakaat pertama.
13. Duduk Tasyahud
14. Salam

Waktu Pelaksanaan

Waktu pelaksanaan shalat gerhana Rabu, 9 Maret 2016, menyesuaikan waktu gerhana matahari di wilayah masing-masing sebagai berikut:

Pertama, untuk Waktu Indonesia Barat (WIB): Aceh (07:22 –  08:27), Sumatera Utara (07:21 – 08:27), Sumatera Barat (07:20 – 08:27), Riau (06:22 – 08:30), Bengkulu (06:20 – 08:28), Jambi (06:21 – 08:29), Kepulauan Riau (06:22 – 08:33), Sumatera Selatan (06:19 – 08:29), Lampung (06:20 – 08:31), Bangka Belitung (06:21 – 08:35), Banten (06:19 – 08:31), DKI Jakarta (06:20 – 08:32), Jawa Barat (06:20 – 08:32), Jawa Tengah (06:20 – 08:35), D.I. Yogyakarta (06:20 – 08:35), Jawa Timur (06:21 – 08:39), Kalimantan Barat (06:23 – 08:42), dan Kalimantan Tengah (06:22 – 08:47).

Kedua,  untuk Waktu Indonesia Tengah (WITA): Kalimantan Selatan (07:23 – 09:48), Kalimantan Timur (07:26 – 09:54), Bali (07:22 – 09:42), Nusa Tenggara Barat (07:23 – 09:45), Nusa Tenggara Timur (07:27 – 09:51), Sulawesi Barat (07:26 – 09:57), Sulawesi Selatan (07:26 – 09:54), Sulawesi Tengah (07:29 – 10:04), Sulawesi Tenggara (07:28 – 10:01), Gorontalo (07:31 – 10:09), dan Sulawesi Utara (07:34 – 10:15).

Ketiga, untuk Waktu Indonesia Timur (WIT): Maluku Utara (08:35 – 11:21), Maluku (08:35 – 11:17), Papua Barat (08:40 – 11:30), dan Papua (08:49 – 11:40).[]

Tom/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *