Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 04 February 2018

Dua Tanda Suami ‘Durhaka’


Dua Tanda Suami ‘Durhaka’

islamindonesia.id – Dua Tanda Suami ‘Durhaka’

 

Menjaga kondisi rumah tangga yang harmonis bukan perkara mudah. Tanggung jawab ini tidak hanya dibebankan pada istri, namun suami memiliki porsi lebih besar.

Sayangnya, ada suami yang tidak menyadari hal ini. Sampai-sampai mereka melakukan perbuatan yang sudah termasuk durhaka, bukan pada orang tua melainkan pada istri dan anak-anaknya.

Apa saja tanda-tanda suami durhaka?

Pertama, banyak ayah yang berpikir membesarkan dan mendidik anak merupakan investasi. Karena nantinya, mereka akan membantu orang tua di masa depan.

Pemikiran ini jelas salah. Mendidik anak merupakan kewajiban orang tua, termasuk ayah.

Jika anak dianggap investasi, biaya yang dikeluarkan untuk membesarkan dan mendidiknya tidaklah sedikit. Malah, seorang ayah justru akan merugi jika menghitung biaya yang sudah dikeluarkan.

Tetapi jika ayah berpikir membesarkan dan mendidik anak adalah kewajiban, maka tidak pernah ada kerugian. Semua bisa didapat, asal dengan keikhlasan untuk mendidiknya.

Ikhlas dan tidak berharap balas jasa. Itulah kata kuncinya. Akibatnya, seorang ayah akan mempersiapkan diri untuk anak dan dirinya sendiri.

Artinya, dia akan berusaha mencari nafkah demi anaknya tanpa melupakan persiapan masa depan untuk dirinya sendiri. Sebab, akan datang masa, ketika anak telah dewasa dan meninggalkan orang tua. Ketika itu, orang tua, selayaknya tetap berkecukupan secara materi. Karena, jauh hari sebelumnya telah mempersiapkan diri.

Kedua, pemikiran bahwa suami adalah pemimpin begitu akad nikah selesai dilaksanakan. Sebagai pemimpin, suami berpikir memiliki tugas untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Jika sudah terpenuhi, maka suami bebas di luar rumah. Sementara tugas mengurus dan mendidik anak diserahkan sepenuhnya kepada istri.

Padahal, suami juga wajib memperlakukan istri dengan penuh penghargaan. Dan terlarang bagi suami untuk menyakiti istrinya. Karena selain memenuhi kebutuhan rumah tangga, suami masih memiliki kewajiban untuk memperlakukan istri dengan sepenuh penghargaan dan kelembutan.

Seorang pemimpin dalam rumah tangga, bukan hanya memenuhi apa kebutuhan yang mereka pimpin. Tetapi, memastikan bahwa segala proses yang berlangsung dalam area yang dipimpin berjalan sesuai dengan kebijakan yang dibuat sang pemimpin, tanpa ada pihak yang merasa dirugikan atau ditinggalkan.

Seorang suami harus ingat, ketika mereka menikahi seorang wanita. Sesungguhnya, dia telah mengambil alih tanggung jawab seorang ayah dari wanita yang dinikahinya. Artinya, bagaimana sang ayah berusaha untuk membahagiakan anaknya seumur hidup sang ayah, demikian pula yang harus dilakukan seorang suami. Bagaimana seorang ayah berusaha agar anak wanitanya tak tersakiti dan tersia-sia dalam kondisi apapun, itu pula yang harus dilakukan oleh seorang suami pada istrinya.

Sehingga, ketika seorang auami akan menyakiti atau menyia-nyiakan istrinya, seharusnya dia bertanya, apakah hal demikian, mungkin dilakukan oleh ayah dari wanita yang dinikahinya itu? Jika jawabannya tidak mungkin, maka jangan lakukan itu.

Menjamin kebahagiaan seumur hidup terhadap wanita yang dinikahi, akan melahirkan pola pikir bagaimana menjamin kepastian terpenuhinya kebutuhan jasmani dan rohani dari wanita yang dinikahi. Suami hendaknya memastikan kebahagian yang dia usahakan ketika muda dulu, tetap dapat dia saksikan hingga akhir hayatnya.

Pengingkaran terhadap kewajiban seorang ayah pada anaknya, pengingkaran kewajiban seorang suami terhadap istrinya, akan berakhir pada pengingkaran kehadiran seorang ayah dan suami terhadap anak dan dan istrinya.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *