Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 03 October 2018

Bala, Azab dan Bencana Menurut Quraish Shihab


quraish-shihab

islamindonesia.id – Bala, Azab dan Bencana Menurut Quraish Shihab

 

 

 

Ketika bencana alam datang, banyak orang yang menjadi korban. Padahal, sebagian dari korban dikenal sebagai orang baik semasa hidupnya.

Karena itu, tidak sedikit orang yang bertanya-tanya tentang filosofi bencana, apalagi dikaitkan dengan Tuhan.  “Bukankah Allah maha baik, lalu mengapa ada tsunami?” tanya sebagian kalangan.

Para filsuf hingga ulama berupaya menjawab pertanyaan di atas. Salah satu jawabannya: tidak semua yang dianggap baik oleh manusia itu baik menurut Tuhan.

Mufasir Quraish Shihab lalu memberikan analogi berdasar premis di atas. Ia bilang, manusia umumnya hanya dapat melihat sebatas tahi lalat.  Jika ia hanya melihat “titik hitam” itu, ia tidak akan menemukan keindahan.

Namun jika ia melihat keselurhan wajah wanita tempat tahi lalat itu berada, ia mungkin akan melihat keindahan. Artinya, cara pandang manusia umumnya masih parsial.

Di sisi lain, Penulis kitab tafsir Al Misbah ini mengatakan, orang yang beriman pasti meyakini Allah Maha Baik. Karena itu, orang beriman juga meyakini apapun yang datang dari-Nya pasti kebaikan.

“Jika saya memukul anak saya, apakah saya bermaksud jahat pada anak saya?” katanya dalam sebuah majelis ilmu seperti disiarkan kanal Youtube Quraish Shihab. Tentunya analogi ini tak dapat diterapkan pada orang-orang yang belum mengimani Allah Maha Baik.

Secara bahasa, musibah dapat dikatakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Orang yang lalai mengendarai kendaraan lalu kecelakaan disebut musibah baginya. Namun orang yang taat lalu lintas tapi ditabrak hingga tewas oleh pengendara lalai juga disebut musibah.

Dalam konteks ini, kata Quraish Shihab, Al-Quran memiliki ragam terminologi. Salah satunya ialah bala atau ujian.

Sebagian orang mengatakan musibah itu buruk, padahal menurut Al-Qur;an tidak demikian. Musibah dalam arti bala itu baik.

“Sedemikian, sehingga mahasiswa di kampus mendesak dosennya dengan berkata: kapan saya diuji,” kata Quraish. Nabi Sulaiman pun pernah bersabda, “Ini adalah anugrah Tuhanku untuk mengujiku.”

Bala bukan murni berasal dari perbuatan manusia. Bala datang dari Allah dan pasti dialami oleh setiap manusia.

Dalam Surat Al Mulk ayat 2 disebutkan, Allah menciptakan hidup ini untuk bala. Tentunya, ujian untuk menyaring siapa saja orang yang benar-benar bersabar, beriman dan tidak berputusasa pada rahmat-Nya.

Di sisi lain, bala tidak hanya berbentuk derita seperti bencana alam, penyakit dan kekurangan harta. Bala bisa juga dalam bentuk pemberian kekayaan. Dibandingkan penyakit, kata Quraish Shihab, memikul bala berupa kekayaan sejatinya lebih sulit.

Orang yang diberikan kekayaan cenderung mudah lupa dengan Tuhan. Sedangkan orang yang diberikan penyakit cenderung ingat kepada Tuhan.

Istilah lainnya dalam Al-Quran ialah azab. Azab berarti siksaan yang disesuaikan oleh beratnya perbuatan buruk seseorang.  Jika berdasarkan keadilan Ilahi, setiap orang akan mendapatkan setimpal dengan apa yang pernah mereka perbuat.

“Hanya saja, karena kasih sayang-Nya, Allah sering mengurangi siksaan,” kata Qurasih Shihab.

Al-Qur’an juga menyebut istilah fitnah yang  berarti bencana. Fitnah dapat muncul akibat ulah manusia yang menimpa orang salah dan orang yang tidak salah.

Contonya, banjir yang diakibatkan oleh menumpuknya sampah di saluran air. Musibah ini akibat ulah manusia namun juga berdampak pada orang-orang yang selama ini disiplin membuang sampah pada tempatnya.

Namun menurut Quraish Shihab mengutip Al-Qur’an, tidak akan terjadi musibah yang menimpa manusia kecuali atas izin-Nya. Arti izin di sini, kata Quraish Shihab, ialah adanya sistem yang telah ditetapkan Allah. “Jadi kalau mau menghindar, ikuti sistem yang ditetapkan oleh-Nya,” katanya.

 

 

 

YS/Islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *