Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 31 July 2018

Zikir: Ringan di Lisan Kita Berat dalam Timbangan-Nya


Zikir Ringan di Lisan Kita Berat dalam Timbangan-Nya

islamindonesia.id – Zikir: Ringan di Lisan Kita Berat dalam Timbangan-Nya

 

Dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzaab ayat 41, Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.”

Maka tak heran bila sahabat Rasulullah saw, Ibn Abbas ra menyatakan bahwa zikir kepada Allah SWT adalah ibadah terbesar dibandingkan ibadah lainnya.

Terkait pernyataan Ibn Abbas ini, Imam Ghazali dalam kitabnya Dzikurllah menulis, “Jika Anda bertanya, kenapa zikir kepada Allah yang dikerjakan secara samar oleh lisan dan tanpa memerlukan tenaga yang besar menjadi lebih utama dan lebih bermanfaat dibandingkan dengan sejumlah ibadah yang dalam pelaksanaannya banyak mengandung kesulitan?”

Imam Ghazali menjelaskan bahwa zikir mengharuskan adanya rasa suka dan cinta kepada Allah. Maka tidak akan ada yang mengamalkannya kecuali jiwa yang dipenuhi rasa suka, dan cinta untuk selalu mengingat dan kembali kepada-Nya.

Orang yang mencintai sesuatu akan banyak mengingatnya, dan orang yang banyak mengingat sesuatu (meskipun pada mulanya ini adalah bentuk pembebanan) pasti akan mencintainya. Begitu pula halnya dengan orang yang berzikir kepada Allah.

Apabila seorang Muslim sampai pada derajat suka berzikir, maka ia tidak akan melakukan perbuatan lain selain zikir kepada Allah. Sesuatu yang selain Allah adalah sesuatu yang pasti meninggalkannya saat kematian menjemput. Nah, di sinilah urgensi mengapa setiap jiwa sangat membutuhkan amalan zikir.

Lalu apa saja manfaat utama dari amalan yang sampai dibahas secara khusus oleh Imam Ghazali ini?

Pertama, kebahagiaan setelah kematian.

Ketika seorang Muslim meninggal dunia, maka harta, istri, anak, dan kekuasaan akan meninggalkannya. Ya, tidak ada lagi yang bersamanya selain zikir kepada Allah. Saat itulah, amalan zikir akan memberikan manfaat yang luar biasa bagi diirnya.

Imam Ghazali memberikan ilustrasi menarik akan hal ini. “Ada orang bertanya, ‘Ia sudah lenyap, lalu bagaimana perbuatan zikir kepada Allah masih tetap kekal bersamanya?’”

Imam Ghazali pun menjelaskan, “Sebenarnya ia tidak benar-benar lenyap, yang juga melenyapkan amalan zikir. Ia hanya lenyap dari dunia dan alam syahadah, bukan dari alam malakut. Hal ini tertera dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 169-170.”

Kedua, senantiasa diingat oleh Allah.

Di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman, “Ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 152)

Tsabit Al-Banani berkata, “Saya tahu kapan Allah mengingatku.” Orang-orang pun merasa khawatir dengan ucapannya sehingga mereka pun bertanya, “Bagaimana kamu mengetahuinya?” Tsabit menjawab, “Saat aku mengingat-Nya, maka Dia mengingatku.”

Dalam Hadis Qudsi juga disebutkan, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku akan bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak karena Aku.’” (HR. Baihaqi & Hakim).

Subhanallah, bagaimana kalau Allah yang mengingat diri kita yang dhaif. Bayangkan saja, seorang kepala desa akan sangat senang jika dirinya senantiasa diingat oleh gubernur atau presiden. Bagaimana kalau yang mengingat kita adalah Allah SWT, Rabbul ‘Alamin!

Pantas jika kemudian sahabat Nabi saw, Muadz bin Jabal berkata, “Tidak ada yang disesali oleh penghuni surga selain waktu yang mereka lewatkan tanpa berzikir kepada Allah Ta’ala.”

Ketiga, diliputi kebaikan demi kebaikan.

Seorang Muslim yang senantiasa berzikir akan senantiasa mendapatkan kebaikan demi kebaikan. Rasulullah bersabda, “Tiada suatu kaum yang duduk sambil berzikir kepada Allah melainkan mereka akan dikelilingi oleh malaikat, diselimuti oleh rahmat dan Allah akan mengingat mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Bukhari)

Sementara itu hadis yang lain menyebutkan, “Tiada suatu kaum yang berkumpul sambil mengingat Allah dimana dengan perbuatan itu mereka tidak menginginkan apa pun selain diri-Nya, melainkan penghuni langit akan berseru kepada mereka, ‘Bangkitlah, kalian telah diampuni. Keburukan-keburukan kalian telah diganti dengan kebaikan-kebaikan’.” (HR. Ahmad)

Oleh karena itu, sangat luar biasa kasih sayang Allah kepada umat Islam. Manfaat zikir yang sedemikian luar biasa bagi kehidupan dunia-akhirat kita senantiasa Allah ulang-ulang di dalam kitab-Nya agar kita terus menerus mengamalkannya.

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab [33]: 41)

Bahkan saat kita usai shalat pun, Allah tekankan agar kita terus berzikir kepada-Nya.

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS. An-Nisa [4]: 103)

Dengan demikian, mari kita upayakan agar muncul rasa suka dan cinta untuk senantiasa berzikir kepada-Nya. Karena amalan ini sangat mudah diamalkan dengan manfaat yang sangat luar biasa. Tidak saja menjamin kebaikan di dunia, tetapi juga memastikan kebaikan di akhirat. Semoga Allah anugerahi kita hati yang senantiasa suka, cinta dan rindu untuk selalu berzikir kepada-Nya.

[Baca: Ilmu Kedokteran Ungkap Pengaruh Dahsyat Zikir Bagi Kesehatan]

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *