Satu Islam Untuk Semua

Friday, 02 June 2017

Sujiwo Tejo: Mari Kita Tak Hafal Pancasila


Sujiwo Tejo Mari Kita Tak Hafal Pancasila

islamindonesia.id – Sujiwo Tejo: Mari Kita Tak Hafal Pancasila

 

Ada yang berbeda dengan tanggal 1 Juni tahun ini, ketika Pemerintah menetapkannya sebagai hari libur nasional untuk memperingati hari lahirnya Pancasila. Bukan hanya sehari, tapi diplot sepekan, sebagai Pekan Pancasila.

Tak hanya itu saja, bahkan Presiden Jokowi pun mencanangkan sebuah gerakan dan mengeluarkan Perpres khusus sebagai dasar pembentukan Unit Kerja Pembinaan Ideologi Pancasila, dibarengi beredarnya video dan hestek #SayaIndonesia #SayaPancasila.

Beragam tanggapan muncul sebagai respon atas beberapa peristiwa tak biasa tersebut. Salah satunya, kembali viralnya puisi karya budayawan Sujiwo Tejo, yang sebenarnya sudah ditulisnya setahun lalu, atau tepatnya pada tanggal 4 Juni 2016. Banyak pihak menganggapnya sebagai puisi yang makjleb, memukul telak dan menyentak kesadaran anak bangsa yang selama ini kerap mengklaim diri Pancasilais dan seolah telah benar-benar berhasil mengamalkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kelima sila Pancasila itu.

Berikut selengkapnya puisi berjudul Mari Kita Tak Hafal Pancasila, yang setahun lalu sempat dibaca-pentaskan Presiden Jancukers itu pada sebuah acara peringatan hari Kesaktian Pancasila.

***

Mari Kita Tak Hafal Pancasila

 

Mari kita tak hafal Pancasila

Sebagaimana banyak orang tak hafal rumus kimia oksigen

Tetapi setiap saat menghirup oksigen …

 

Mari kita tak hafal Pancasila

Daripada kita malu

Daripada kita hafal nama-nama kucing tetangga

Tapi tak tahu ketika kucing itu mangkrak lalu mati lantaran kurang makanan

 

Mari kita tak hafal Pancasila

Kalau itu berarti kita pun selalu menghafal sakit hati kita

Kepada orang-orang yang kita hafalkan

 

Mari kita tak hafal Pancasila

Namun mendetakkannya di dalam nadi

Di larut malam

Menjelma mantra yang melarutkan

Agar kepala ini tak jadi batu

 

Ooooorang-orang dengan batu ke kepalanya

Ooooorang-orang yang kenal ari-ari dan tali pusatnya

Namun tak kenal bincang-bincang

Tak kenal musyawarah

Orang-orang itu tak guna menghafal nama-nama kucing para tetangga

Sebagaimana tak guna mereka hafalkan Pancasila

Kalau itu berarti mereka hafal di luar kepala rumus kimia oksigen

Tetapi jadi biang kerok penyebab rakyat habis nafasnya.

 

Sia-sia menghafal Ketuhanan Yang Maha Esa

Sia-sia menghafal tiada Tuhan selain Tuhan

Sia-sia menghafal Hoooong Illla Heng…Hooong Illa heng … Tiada Hong selain Heng …

Sia-sia membabtis manusia yang sia-sia menghafal Ketuhanan Yang Maha Esa bila setiap saat men-sia-siakan Tuhan

Setiap degup jantungnya menghina Tuhan

Setiap detak nadinya menyepelekan Tuhan

 

O, Marhaen, O Marsinah, O Surya, O Dharma, O Ali, O Santi, O Pangestu, O Kapitayan …

Menghina Tuhan tak harus dengan menginjak-injak Kitab Suci-Nya

Menghina Tuhan tak harus mengolok-olok para utusan-Nya

Besok kau khawatir tak bisa makan, kau sudah menghina Tuhan

Besok kau khawatir tak dapat jodoh, kau sudah menghina Tuhan

Besok khawatir tak kebagian oksigen, kau sudah menghina Tuhan

Besok kau khawatir kucing-kucing punah karena kucing-kucing telah dikebiri, kau sudah menghina Tuhan

Besok khawatir tak dihargai orang hanya gara-gara dicopot dari jabatan, kau sudah menghina Tuhan

 

Oom, Santi

Oom, Santi

I, The Soul, exist in a state of peace

Aku, Jiwa dari Jiwa Mahanya Jiwa, semayamku di pusat damai

 

Hmmm…

Mari kita tak menghafal nama Putra Sang Fajar

Yang duduk mencangkung di bawah pohon di Timur

Menggali Pancasila

Mari kita tak menghafal nama tukang gali itu

Kalau hari ini tukang-tukang gali masih keleleran di tepi-tepi jalanan tak dapat kerjaan

Beruntung Putera Sang Fajar menggali Nusantara di tahun-tahun itu: Hasil galiannya adalah Pancasila

Bila si Bung menggali Nusantara hari ini

Aku khawatir hasil galiannya hanyalah airmata …

 

Beruntung Putera Sang Fajar menggali Nusantara di tahun-tahun itu: Hasil galiannya adalah

Pancadharma

Bila si Bung menggali Nusantara hari ini

Aku khawatir hasil galiannya hanyalah mayat-mayat manusia tak seutuhnya karena telah dimakan dan

digerogoti oleh teman-temannya sendiri.

 

Robbana, ya, Robbana

Dholamna anfusana

Wainlam Taghfirlanaa

Watarhamnaa

Lana kuunanna

Minal khoosiriiin

 

Mari kita tak hafal Pancasila

Bila itu hanya berarti menghafal kata dan huruf-huruf

Pancasila bukan kalimat

Pancasila bukan aksara

O, Kekasihku …

Aku lebih suka memelukmu

Daripada menghafal kata memelukmu

Aku lebih suka mendekapmu

Daripada menghafal kata mendekapmu

Aku lebih suka memeluk dan mendekapmu

Dalam keadaan suka dan duka

Di dalam persatuan dan harga mati

 

Mari kita tak hafal Pancasila

Daripada kita malu

Daripada kita hafal nama burung kita sendiri

Tapi tak tahu ketika garuda itu mangkrak lalu mati gara-gara digondol kucing.

 

Sujiwo Tejo / 4 Juni 2016

 

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *