Satu Islam Untuk Semua

Monday, 16 April 2018

RENUNGAN – Kejahilan


GettyImages_587169617.0

islamindonesia.id –  RENUNGAN – Kejahilan

 

 

Oleh Abdillah Toha, Pemerhati sosial, politik dan keagamaan

 

 

 

Menghadapi kejahilan atau ketidaktahuan (ignorance) dikalangan umat adalah hal yang pelik. Kata ketidaktahuan barangkali terlalu lunak. Yang lebih tepat kebodohan. Bagaimana kita harus menghadapi kebodohan umat yang menjadi salah satu masalah besar dalam memahami esensi Islam dan karenanya menimbulkan berbagai problema di dunia Islam?

Mayoritas muslim yang jumlahnya satu setengah milyar lebih di dunia kebanyakan memahami Islam sebagai agama yang mewajibkan ibadah sholat, puasa, haji, zakat dan lain-lain. Sedang agama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad sebenarnya sebuah revolusi besar pada zamannya yang berintikan ajaran tentang tauhid, akhlak, ilmu, kesamaan gender, kasih sayang, keadilan, dan tertib hukum.

Esensi Islam itu pada umumnya absen di dunia Islam tapi justru hadir di banyak bagian dunia non Islam (kecuali sisi tauhid atau ketuhanan). Jawaban yang sering kita baca tentang keterbelakangan dunia Islam adalah akibat kemiskinan, dampak ratusan tahun kolonialisme yang masih terasa sampai sekarang, penguasa-penguasa otoriter yang tidak memberi keleluasaan dan kebebasan berpendapat, kualitas pendidikan yang rendah, serta takluk dan tersanderanya negeri-negeri muslim pada hegemoni berbagai kekuatan adi daya dunia.

Bila demikian maka perubahan hanya bisa diharapkan dalam jangka panjang, dan itupun kalau berbagai sistem, ekonomi, dan pendidikan diperbaiki secara kontinu dan konsisten. Jangka panjang itu sampai kapan, kita tidak tahu. Sementara itu kerusakan terus terjadi. Lalu apa yang dapat kita lakukan dengan cepat dan dalam waktu singkat untuk memperbaiki keadaan?

Tampaknya satu-satunya jalan pintas adalah sebuah revolusi yang dipimpin oleh orang kuat, seorang diktator jujur dan bersih (benevolent dictator). Kebebasan yang berlebihan di alam demokrasi liberal dengan penduduk yang rata-rata masih rendah tingkat pendidikannya, sering membawa ekses-ekses negatif sebagai akibat ulah pemburu kekuasaan.

Terlebih lagi ketika sentimen agama dan ras ikut dimainkan. Di Cordoba 1000 tahun yang lalu, seorang filosof muslim Ibn Rusyd atau yg dikenal dengan nama Averroes, mengatakan “Jika kau ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah segala hal dengan agama.”

Tentu saja gagasan benevolent dictatorship tidak populer. Pertama, mencari diktator yang jujur, bersih, dan niatnya sepenuhnya untuk rakyat dan lillahi ta’ala tidak mudah. Kedua, diktator betapapun jujurnya, bila terlalu lama berkuasa akan lupa daratan.

Revolusi yang dikenal dengan Arab Spring yang dicoba beberapa tahun lalu di beberapa negara Arab umumnya gagal. Kalaupun berhasil, belum tentu membawa pemahaman esensi Islam yang dimaksud diatas karena agendanya bukan untuk mencerahkan umat Islam menuju pemahaman dan praktik keislaman yang benar.

Barangkali harapan kita tinggal satu. Kebangkitan Islam yang benar akan dimulai dari dunia Barat seperti telah mulai tampak dengan munculnya berbagai ulama progresif disana seperti Hamzah Yusuf, Jeffrey Lang, Hossein Nasr, Dalia Mogahed, dan lainnya.
Wallah a’lam

 

 

 

 

 

YS/Islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *