Satu Islam Untuk Semua

Friday, 19 May 2017

RENUNGAN JUMAT – Menjadi Manusia ‘Soleh’ atau ‘Muslih’?


A Muslim takes part in a special morning prayer to start Eid-al-Fitr festival, marking the end of their holy fasting month of Ramadan, at a mosque in Silver Spring, Maryland, on August 19, 2012. Muslims in the US joined millions of others around the world to celebrate Eid-al-Fitr to mark the end of Ramadan with traditional day-long family festivities and feasting. AFP PHOTO/Jewel SAMAD        (Photo credit should read JEWEL SAMAD/AFP/GettyImages)

Islamindonesia.id – Menjadi Manusia ‘Soleh’ atau ‘Muslih’?

 

Manusia yang soleh adalah manusia yang kebaikannya untuk dirinya sendiri, sedangkan manusia yang muslih kebaikannya untuk dirinya sendiri dan juga untuk orang lain. Meskipun berasal dari akar kata yang sama, muslih biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi peacemaker, reconciler, reformist, reformer, dan semacamnya. Sementara soleh diterjemahkan sebagai kind, loyal, faithful, qualified dan semacamnya.

Jadi, seorang muslih bermakna lebih luas dari soleh. Seorang yang menebarkan kedamaian dan kasih sayang bisa dikatakan seorang yang muslih. Seorang yang mendamaikan antara dua orang yang saling bermusuhan bisa dikatakan seorang muslih. Seorang yang melakukan perubahan pada suatu perusahaan, organisasi dan seterusnya bisa dikatakan sebagai seorang muslih.

Manusia yang soleh dicintai oleh manusia, sementara adakalanya manusia yang muslih dimusuhi oleh manusia lain. Mengapa?

Baginda Nabi Muhammad Saw sebelum diutus begitu dicintai oleh kaumnya karena dirinya adalah manusia yang soleh. Namun, setelah diutus sebagai Rasul dan menjadi seorang muslih, Baginda Nabi Muhammad Saw justru dimusuhi kaumnya. Bahkan mereka berkata, “Dia seorang tukang sihir, pembohong dan gila.” Na’udzu billah.

Mengapa demikian?

Karena seorang muslih menentang kehendak orang-orang yang ingin berbuat kerusakan. Lukman Al-Hakim berpesan kepada anaknya untuk bersabar dalam melakukan perbaikan karena dia akan menghadapi penentangan dari musuh-musuhnya.

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. (QS. Luqman [31]: 17)

Orang-orang arif mengatakan, “Seorang muslih lebih dicintai Allah dari seribu orang soleh.”

Sementara Allah hanya menjaga orang-orang soleh, maka dengan adanya orang muslih, Allah akan melindungi suatu penduduk bumi. Allah Swt berfirman,

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim sedang penduduknya orang-orang muslih. (QS. Hud [11]: 117)

Allah Swt tidak menyebut ‘orang-orang soleh’ pada ayat di atas. Semoga Allah berkenan memperbanyak barisan orang muslih di negeri ini. Wallahu a’lam.

Tom/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *