Satu Islam Untuk Semua

Friday, 09 November 2018

Pilih Pemimpin yang Ngayomi Ngayemi Ngayahi


Pilih Pemimpin yang Ngayomi Ngayemi Ngayahi

islamindonesia.id – Pilih Pemimpin yang Ngayomi Ngayemi Ngayahi

 

Adanya beberapa jenis ungkapan merupakan salah satu kekayaan Bahasa Jawa. Ada ungkapan yang disebut sanepa, yaitu penggunaan lawan kata sebagai kiasan. Contohnya adalah “rasane legi brotowali” yang berarti rasanya begitu pahit. Ada pula kerata basa atau jarwo dhosok, menafsirkan makna dari suku katanya. Contohnya adalah ”kerikil = keri ing sikil”. Ada pula saloka atau peribahasa yang juga lazim ditemukan pada berbagai bahasa lainnya. Contohnya: asu gedhe menang kerahe, atau becik ketitik ala ketara, dan sebagainya.

Ada satu saloka Bahasa Jawa yang mungkin familiar di telinga kita: Ngayomi, Ngayemi, Ngayahi. Saloka ini sering dipakai untuk mendeskripsikan kepemimpinan. Pemimpin itu ngayomi (melindungi), ngayemi (menenangkan), ngayahi (melaksanakan). Sejauh yang kita baca, ungkapan ini kerap dipakai sebagai jargon para kandidat baik dalam Pilkada maupun Pilpres. Dan begitulah, untuk kepentingan kekuasaan filosofi Jawa yang sarat makna itu akhirnya acapkali dijual, bahkan dipakai untuk membual.

Pemimpin itu ngayomi, memberi perlindungan. Disinilah nilai rasa seorang pemimpin berbeda dengan seorang bos. Terkait dengan tanggung jawab, pemimpin yang bijak adalah orang pertama yang mengambil risiko dalam organisasinya. Ia akan menghadapi dan memberi solusi atas semua masalah yang ada. Ia tenggang rasa, toleran dan punya empati yang tulus. Sebaliknya, pemimpin yang culas selalu memperalat bawahannya untuk menghadapi risiko sendirian. Dia selalu menyalahkan, mengkambing hitamkan dan memimpin secara otoriter tanpa kepedulian sedikitpun pada jajarannya.

Pemimpin itu ngayemi, memberi ketenangan. Ngayemi bukan nggayemi, alias mengunyah anak buahnya. Pemimpin yang baik tak hanya memosisikan diri sebagai atasan, namun bisa sebagai orang tua, sahabat, guru atau kiai. Hal tersebut terekspos dari gaya bertutur, gestur dan ekspresi wajah. Ciri-ciri pemimpin baik adalah tidak membuat jarak dengan bawahan, kehadirannya disenangi dan ketidakhadirannya akan dikenang. Sebaliknya, pemimpin sontoloyo adalah pemimpin yang menciptakan teror, wajahnya selalu bersungut-sungut, kata-katanya menyakitkan, tindakannya hipokrit alias munafik. Suka menuduh orang lain pembohong padahal dirinya tukang ngibul. Pemimpin model ini biasanya akan dibenci bukan ditakuti, dan dienggani bukan disegani.

Pemimpin itu ngayahi, melaksanakan tugasnya, menjalankan amanah dan janji-janjinya. Mari kita mengingat sabda Kanjeng Nabi: sayyidul qaum khadimuhum, pemimpin umat adalah pelayan bagi umatnya. Pantang bagi seorang pemimpin hanya berleha-leha lalu memerintah orang untuk mengerjakan sesuatu yang sebenarnya menjadi tugas si pemimpin. Pantang seorang pemimpin mencari-cari alasan untuk menghindar dari pekerjaan lalu menimpakan tugas itu kepada bawahannya. Pantang seorang pemimpin memaksa orang untuk bekerja dan menagih-nagih pekerjaan, sementara pada saat yang sama ia tidak memberi ide apapun dalam bekerja dan tidak berkontribusi apapun pada pekerjaan.

Saloka ngayomi, ngayemi dan ngayahi hanyalah sebuah inspirasi tentang karakter ideal seorang pemimpin. Banyak pemimpin telah mengetahui itu, namun masih banyak yang belum mengamalkannya. Tentu bukan salah peribahasa.

Ketiadaan pemimpin yang baik adalah fakta adanya banyak orang lalim di sekitar kita. Dan sejarah telah mencatat betapa banyak pemimpin yang dikutuk, dilaknat, dibenci dan dijauhi. Sebagai penderita, kebanyakan kita tak bisa berbuat apa-apa. Kita hanya meyakini bahwa Tuhan telah menyediakan tempat bagi para pemimpin yang lalim di dasar neraka.

Pemimpin yang baik dan benar adalah harapan kita semua. Untuk mendapatkannya melalui Pilpres atau Pilkada, silakan pilih calon pemimpin yang sudah memiliki rekam jejak yang jelas, dengan menelisik apakah yang bersangkutan berkarakter ngayomi, ngayemi dan ngayahi. Jika sebaliknya, maka lebih baik jangan dipilih dan tinggalkan saja. Agar tak membuka peluang merusak negara dan melapangkan kemungkinan hidup rakyat menjadi sengsara.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *