Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 28 January 2018

Pesan Untuk Para Ayah: Hadirlah Dalam Jiwa Anak Gadismu Sedari Dini


Pesan Untuk Para Ayah Hadirlah Dalam Jiwa Anak Gadismu Sedari Dini

islamindonesia.id – Pesan Untuk Para Ayah: Hadirlah Dalam Jiwa Anak Gadismu Sedari Dini

 

Berbahagialah orangtua yang dikaruniakan anak gadis sebab Rasulullah telah menjamin baginya surga jika sabar dan sukses mendidiknya.

Barangsiapa yang diuji dengan memiliki anak gadis, lalu ia asuh mereka dengan baik, maka anak itu akan menjadi penghalangnya dari api neraka (HR. Bukhari).

Sebagian orangtua menganggap remeh mendidik anak gadis, bahkan lebih mengunggulkan anak laki-laki. Padahal anak gadislah yang kelak akan menjadi wanita, tiang peradaban dunia.

Itulah kenapa, jika gagal mendidik anak gadis berarti kita telah memutus kebaikan untuk generasi masa depan.

Gagal mendidik anak gadis berarti kelak kita akan kekurangan ibu baik di masa depan. Dan ujung-ujungnya rusaklah masyarakat.

Ajarilah anak gadis kita akan keutamaan menjaga kesucian diri bukan sekadar menjaga keperawanan. Suci dan perawan itu beda!

Perawan terkait dengan faktor fisik, soal selaput dara tidak robek. Sementara suci terkait dengan faktor akhlak dan sikap.

Banyak gadis yang bisa jadi masih perawan tapi ia sudah tidak suci. Ia membiarkan badannya disentuh, bibirnya dikecup lelaki, asal tidak bersetubuh.

Sementara banyak juga gadis yang tidak perawan atas sebab kecelakaan, terjatuh, tapi masih suci. Sebab ia tak membiarkan lelaki menyentuhnya.

Quran memberikan gelar wanita terbaik kepada Maryam karena ia selalu menjaga kesucian dirinya dalam kata, sikap dan tingkah laku

Maryam tidak sembarang gaul dengan lelaki asing. Maka, saat ia dinyatakan hamil, ia tetap suci di mata Allah.

Demikian pula dengan Bunda Khadijah, istri Rasulullah yang tidak lagi perawan tapi digelari ‘Ath Thahirah‘ atau gadis suci.

[Baca: Mengenang Pribadi Mulia Sayyidah Khadijah]

Dari rahim wanita suci kelak akan muncul generasi berkualitas. Nabi Isa adalah bukti keberkahan dari wanita yang menjaga kesuciannya.

Maka, tugas utama orangtua yang memiliki anak gadis adalah mengingatkan pentingnya kesucian bukan sekadar keperawanan.

Ajarkan anak gadis untuk bersikap sepatutnya terhadap lelaki asing atau yang bukan mahram. Ramah boleh tapi tetap wajib menjaga kemuliaan diri.

Saat anak gadis belum balig atau masih anak-anak, ajarkan ia untuk membedakan 3 jenis sentuhan: pantas, meragukan dan haram.

Sentuhan pantas itu muaranya kasih sayang. Ini dilakukan oleh orang lain kepada anak gadis yang belum balig di bagian sekitar kepala dan pundak.

Sentuhan yang meragukan, yakni antara kasih sayang versus nafsu. Biasanya berpindah-pindah tempat. Dari kepala turun ke bahu terus ke pinggang.

Jika sudah melewati batas bahu, yakni ke pinggang, atau ke perut, ajarkan anak untuk menolak dengan kalimat “Jangan lakukan itu. Sungguh aku tak suka!”

Terakhir, sentuhan haram yakni di wilayah sekitar kemaluan dan buah dada. Ajarkan anak kemampuan untuk menolak dan menghindar.

Dengan mengajari anak gadis kita tentang sentuhan, mengajarkan juga kepada mereka tentang berharganya tubuh mereka. Tidak sembarangan boleh disentuh.

Selain itu, ajarkan juga kepada anak gadis kita tentang siapa itu saudara, sahabat, kenalan dan orang asing. Sikapi masing-masing dengan cara berbeda.

Buatlah anak gadis tidak membutuhkan sosok lelaki lain yang menjadi ‘pahlawan’nya selain ayah, kakek dan kakak serta adik kandungnya.

Saat mereka tumbuh remaja, jangan sekali-kali jual murah dirinya demi hanya sekadar untuk dicintai lelaki lain. Sebab sudah ada sosok lelaki idola dalam hidupnya, khususnya ayahnya.

Sebagian besar remaja gadis yang memutuskan untuk pacaran, karena tak punya lelaki idola di rumahnya sebagai tempat berbagi. Dengan ayah dan kakak kandungnya tidak akrab. Sehingga ia membutuhkan figur lelaki lain. Akhirnya, perlahan kesuciannya pudar. Jadilah mereka “cabe-cabean.”

Itulah mengapa Ayah perlu hadir dalam jiwa anak gadis sedari dini. Harus ada ikatan batin di antara mereka agar anak gadis tak mudah mencari idola lain.

Ayah harus sering berkomunikasi dengan anak gadisnya saat dalam kandungan. Saat lahir, anak mengenali suara ayahnya pertama kali yang didengar.

Saat lahir, jadikan wajah Ayah lebih banyak di-scan dalam memori anak. Hadirkan ekspresi saat menggendong anak.

Ikatan batin antara ayah dan anak gadis semacam inilah yang akan memberi pengaruh saat anak tumbuh dewasa dan mengalami persoalan hidup.

Saat anak gadis mulai jatuh cinta, ia akan menjadikan Ayah sebagai mentor cintanya. Tak ingin ditipu lelaki buaya. Nasihat ayah yang akan dijadikannya panduan.

Saat anak gadis siap menikah, ia mencari sosok lelaki yang seperti ayahnya. Atau setidaknya pilihan ayahnya.

Bahkan saat anak gadis menjalani gonjang-ganjing pernikahan. Ia tak butuh lelaki lain sebagai tempat curhat. Ayahnya-lah yang jadi labuhan.

Peran ayah dalam menjaga kesucian anak gadis sangat vital. Rusaknya moral anak gadis saat ini salah satunya karena ketidak-terlibatan ayah dalam mengasuhnya.

Karena itu, ajaklah para ayah agar terlibat dalam pengasuhan. Tak cuma sekadar cari nafkah. Tapi peduli akan anaknya, khususnya anak yang masih gadis.

Semoga para anak gadis kita di negeri ini selalu mampu menjaga kesuciannya sehingga kelak mereka siap untuk membina rumah tangga.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *