Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 21 June 2017

Menanam Lelaku Baik Dahulu, Menuai Nasib Baik Kemudian  


Menanam Lelaku Baik Dahulu, Menuai Nasib Baik Kemudian

islamindonesia.id – Menanam Lelaku Baik Dahulu, Menuai Nasib Baik Kemudian

 

Setiap orang pasti menginginkan nasib baik dalam hidup. Namun tak semuanya sadar bahwa nasib baik mesti didahului dengan upaya sungguh-sungguh dengan cara menjalankan secara konsisten kebiasaan atau lelaku baik. Berikut di antara beberapa kebiasaan baik yang insya Allah akan menuntun kita pada nasib baik.

Kebiasaan Bersyukur

Bersyukur adalah kebalikan dari mengeluh. Dengan mengeluh, beban batin makin berat, batin makin tidak tenang, fokus hidup tertuju pada masalah-masalah, bukan pada upaya perbaikan. Jadi jangan hanya mengeluh. Hellen Keller yang terkenal itu, yang buta tuli sejak umur 2 tahun, membuat pernyataan syukur sebagai berikut: “Aku bersyukur atas cacat yang kualami karena melalui cacatku ini aku menemukan diriku, pekerjaanku dan Tuhanku.” Dengan bersyukur, batin lebih tenang, fokus hidup tertuju pada upaya-upaya perbaikan, agar nasib jadi lebih baik. Lebih dari itu, syukur adalah jaminan ditambahnya karunia dan kenikmatan. Sebaliknya, ingkar nikmat akan mendatangkan kesengsaraan.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]:7)

Kebiasaan Berpikir Positif

Berpikir negatif sebagai antisipasi adalah sesungguhnya berpikir positif karena sejak awal ditujukan untuk kepositifan. Sedangkan berpikir negatif berawal dan berujung kenegatifan. Pikiran itu seperti tanah. Positif atau negatif itu seperti benih. Menanam benih positif pada pikiran menghasilkan ucapan dan tindakan positif, yang berlanjut pada kebiasaan-kebiasaan positif, karakter positif dan nasib positif. Di sisi lain, kebiasaan berpikir positif akan menuntun kita pada keyakinan bahwa hanya Tuhanlah yang Mahatahu apa yang terbaik. Maka tugas kitalah untuk selalu berpikiran positif, tidak berlebihan dalam membenci atau menyukai sesuatu.

“Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]:216)

Kebiasaan Berempati

Berempati adalah kebalikan dari keegoisan. Biasakan menempatkan diri pada posisi orang lain, belajar melakukan apa yang Anda ingin orang lain lakukan kepada Anda, maka nasib baik lebih mudah hadir pada Anda. Apalagi agama sudah mengajarkan kepada kita bahwa peduli kepada sesama itu tak ubahnya peduli kepada diri sendiri, yang ujung-ujungnya akan berdampak pada makin lembut dan lunaknya hati.

Jika kamu ingin melunakkan hatimu maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim. (HR al-Hakim dalam al-Mustadrak)

Dalam hadis ini, Rasulullah menganjurkan orang yang keras hatinya untuk melatih diri berempati dengan orang-orang lemah. Empati tersebut diwujudkan salah satunya dengan memberi makan orang miskin dan bersikap lemah-lembut penuh kasih sayang kepada anak-anak yatim, ibarat mereka anak-anak kita sendiri.

Kebiasaan Mendahulukan Prioritas atau Hal yang Penting

Jangan biarkan diri terjebak pada hal-hal tidak penting, sehingga hal-hal penting terabaikan. Kebiasaan mendahulukan yang penting membuat hidup lebih efektif dan produktif sehingga memberi peluang lebih besar nasib baik terjadi. Ini sepenuhnya sesuai dengan anjuran agama agar kita tidak membuang-buang waktu dan harta untuk urusan yang tidak penting atau mubazir. Karena kebiasaan buruk ini termasuk tabiat setan. Demikian pula halnya dengan kaidah umum dalam bertindak yang menuntut kita agar lebih mendahulukan maslahat tertinggi dengan mudharat atau keburukan paling kecil.

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosanya lebih besar dari manfaatnya.’” [QS. Al-Baqarah [2]:219]

Ini merupakan kaidah umum bahwa segala sesuatu yang bahayanya (mudharat) dan dosanya lebih besar daripada manfaatnya, maka dengan hikmah-Nya, Allâh melarang para hamba-Nya dan mengharamkannya,  agar mereka menjauhinya.

Kebiasaan Bertindak

Banyak orang bermimpi, tapi tidak bertindak. Orang-orang sukses bertindak, bahkan berkali-kali sebelum mereka sukses. Tak akan ada hasil tanpa tindakan. Dengan bertindak, nasib baik lebih berpeluang besar terjadi dalam hidup. Hal ini serupa dengan maksud Al-Qur’an bahwa maqam orang yang bertindak atau berjihad dengan harta dan jiwanya, satu derajat lebih tinggi dari mereka yang duduk diam berpangku tangan.

“Tidaklah sama antara Mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allâh dengan harta mereka dan jiwanya. Allâh melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allâh menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allâh melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (QS. An-Nisâ [4]:95)

Kebiasaan Menabur Kebaikan

Prinsip tabur tuai berlaku dalam kehidupan. Jika tidak ingin menuai keburukan, tabur kebaikan. Jika ingin nasib baik, tabur kebaikan. Bahkan, kebaikan disini tidak terbatas maknanya hanya pada kebaikan di dunia, tapi sekaligus kebaikan di akhirat kelak.

Barangsiapa yang membantu seorang Muslim (dalam) suatu kesusahan di dunia maka Allah akan menolongnya dalam kesusahan pada hari kiamat, dan barangsiapa yang meringankan (beban) seorang Muslim yang sedang kesulitan maka Allah akan meringankan (bebannya) di dunia dan akhirat. (HR Muslim).

Kebiasaan Jujur 

Dengan jujur pada diri sendiri dan orang lain, hidup lebih nyaman dan dipenuhi kebaikan. Kalaupun kebaikan belum datang, nasib baik belum datang, namun musibah sudah menjauh.

Pengertian jujur adalah perkataan atau perbuatan yang sesuai dengan kebenaran. Maka, jujur segaris dengan kebenaran. Orang yang berlaku jujur, selain menguntungkan bagi orang lain, maka dirinya sendiri juga akan mendapatkan manfaatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw:

Kamu wajib berlaku benar, karena sesungguhnya kebenaran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu membawa ke surga. Seseorang yang selalu berlaku benar dan mengusahakan sungguh-sungguh akan kebenaran, dia akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang shiddiq (ahli benar). (HR. Bukhari dan Muslim).

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *