Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 08 November 2018

Kisah Semangka Hambar dan Amarah Istri Syeikh Syaqiq


Kisah Semangka Hambar dan Amarah Istri Syeikh Syaqiq

islamindonesia.id – Kisah Semangka Hambar dan Amarah Istri Syeikh Syaqiq

 

Alkisah, pada suatu hari Syeikh al-Imam Syaqiq al-Balkhi membeli buah semangka untuk istrinya. Saat disantap ternyata buah semangka tersebut terasa hambar. Sang istri pun marah.

Syeikh Syaqiq menanggapi dengan tenang amarah istrinya itu. Usai amarah istrinya mereda, beliau bertanya dengan halus, “Kepada siapakah kau marah wahai istriku? Kepada pedagang buahnya kah? Atau kepada pembelinya? Atau kepada petani yang menanamnya? Ataukah kepada yang Menciptakan Buah Semangka itu?”

Melihat istrinya terdiam, sembari tersenyum, Syeikh Syaqiq melanjutkan perkataannya.

“Seorang pedagang tidak menjual sesuatu kecuali yang terbaik… Seorang pembeli pun pasti membeli sesuatu yang terbaik pula… Begitu pula seorang petani, tentu saja ia akan merawat tanamannya agar bisa menghasilkan yang terbaik… Maka sasaran kemarahanmu berikutnya yang tersisa, tidak lain hanya kepada Yang Menciptakan semangka itu…”

Pertanyaan dan penjelasan Syeikh menembus hati sanubari istrinya. Terlihat butiran air mata menetes perlahan di kedua pelupuk mata wanita itu.

Syeikh Syaqiq pun melanjutkan ucapannya.

“Bertakwalah wahai istriku…Terimalah apa yang sudah menjadi Ketetapan-Nya. Agar Allah memberikan keberkahan dan ridha-Nya kepada kita.”

Mendengar nasihat itu, sang istri pun sadar, menunduk, menangis mengakui kesalahannya dan ridha dengan apa yang telah Allah tetapkan.

Dari sekelumit kisah di atas, pelajaran terpenting yang dapat kita petik adalah bahwa setiap keluhan yang terucap sama saja kita tidak ridha dengan ketetapan Allah SWT, sehingga berkah Allah jauh dari kita.

Karena yang disebut berkah itu bukanlah serba cukup dan mencukupi saja, akan tetapi berkah ialah bertambahnya ketaatan kita kepada Allah SWT, dengan segala keadaan yang ada, baik yang kita sukai atau sebaliknya.

Makanan berkah itu bukan yang komposisi gizinya lengkap, tapi makanan yang mampu membuat yang memakannya menjadi lebih taat setelah memakannya.

Hidup yang berkah bukan hanya sehat, tapi kadang sakit itu justru berkah sebagaimana sakitnya Nabi Ayyub, yang menjadikannya bertambah taat kepada Allah SWT.

Berkah bukan saja soal panjang umur, ada orang yang berumur pendek tapi dahsyat taatnya kepada Allah.

Tanah yang berkah itu bukan karena subur dan panoramanya indah, karena tanah yang tandus seperti Mekkah pun justru punya keutamaan di hadapan Allah SWT.

Ilmu yang berkah itu bukan yang banyak riwayat dan catatan kakinya, akan tetapi ilmu yang mampu menjadikan seorang meneteskan keringat dan darahnya dalam beramal dan berjuang untuk agama Allah.

Penghasilan berkah juga bukan semata gaji besar dan berlimpah, tetapi sejauh mana ia bisa jadi jalan rezeki bagi yang lainnya dan semakin banyak orang yang terbantu dengan penghasilan tersebut.

Anak keturunan yang berkah bukan hanya yang saat kecil mereka lucu dan imut atau setelah dewasa sukses bergelar dan mempunyai pekerjaan atau jabatan hebat, melainkan yang senantiasa taat kepada Rabb-Nya dan kelak mereka menjadi lebih salih dari kita dan senantiasa mendoakan kedua orangtuanya.

Semoga kita semua dianugrahi kekuatan untuk senantiasa bersyukur kepada Allah, agar kita mendapatkan keberkahan dan ridha-Nya.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *