Satu Islam Untuk Semua

Friday, 11 August 2017

Ini Sebabnya Mengapa Hati Rentan Tergoda


Ini Sebabnya Mengapa Hati Rentan Tergoda

islamindonesia.id – Ini Sebabnya Mengapa Hati Rentan Tergoda

 

Setiap orang akan pernah mengalami kondisi futur, malas dan bosan setelah sebelumnya rajin dan bersemangat dalam beribadah, karena iman yang naik turun. Namun, jika hati kita begitu rentan terhadap godaan syetan, hawa nafsu dan kemaksiatan bahkan godaan yang paling lemah sekalipun, maka itu berarti kita tidak dijaga oleh Allah, sementara kita pun sangat mungkin sedang dalam kondisi tidak atau kurang “menjaga Allah”.

Mengapa hati kita begitu rentan dengan godaan? Ingatlah hadis berikut ini.

Abdullah bin ‘Abbas ra menceritakan, “Suatu hari saya berada di belakang Nabi saw. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi)

Maka periksalah hati kita, apakah hal-hal berikut ini sering kita sepelekan? Jika hati kita begitu mudah tergoda, cobalah periksa diri kita, mungkin inilah beberapa faktor dan penyebab utama hati kita begitu rentan godaan itu.

Pertama, penyakit hati memenuhi rongga kalbu. Penyakit hati ini amat berbahaya bagi diri kita. Dari mulai mendapatkan dosa hingga membakar amalan-amalan ibadah dan kebaikan yang telah kita kumpulkan.

Jika kita masih memiliki penyakit hati, seperti: dengki, ujub, sombong, benci, dendam, tidak jujur, tidak amanah, tidak bersyukur, su’udzon, tidak bertanggung jawab, ghibah, merasa paling benar, merasa paling hebat, merasa tidak berdosa, sulit mengaku salah, tidak memaafkan orang lain, egois, tidak peduli, tidak empati, meremehkan orang lain, dan lain-lain.

Mari kita jauhi penyakit hati yang bisa mendatangkan dosa juga membakar pahala-pahala kita. Berdoa pada Allah agar kita dijaga dan dijauhkan dari berbagai penyakit hati.

Semoga dengan kita mendekat Pada-Nya, Ia pun mendekat pada kita, agar setiap kesalahan yang kita lakukan langsung Allah berikan peringatan dan ampunan bagi kita yang menyegerakan tobat.

Kedua, banyak kewajiban dan amal ibadah tak tertunaikan. Faktor ini juga sangat penting kita perhatikan. Menyepelekan kewajiban atau amal ibadah yang biasa kita lakukan menyebabkan hati kita begitu rentan akan godaan.

Kewajiban yang telah menjadi kebiasaan, namun perlahan kita meninggalkannya atau mengabaikannya, seperti: shalat fardhu di awal waktu, shalat fardhu berjemaah di masjid bagi laki-laki, shalat sunnah rawatib, shalat sunnah witir, shalat tahajjud, shalat dhuha, tilawah Qur’an, zikir harian, istighfar dan lain-lain.

Sehingga kita perlu menghidupkannya kembali, jika telah lama kita mengabaikannya.

Bukankah Allah menyukai amalan ibadah yang dikerjakan secara kontinu? Mari kita lakukan amalan-amalan ibadah yang akan menjadi tabungan kita nanti di yaumil hisab.

Jika kita mudah sekali tergoda akan keburukan atau kemaksiatan, jangan pernah menyalahkan orang lain atau menyalahkan sistem.

Coba periksa diri kita, mungkin sebabnya adalah karena kita mulai menjauh dari-Nya. Jika sudah terlanjur terjadi demikian, tidak ada kata terlambat untuk memperbaikinya, memulainya kembali dari awal.

Semoga dengan usaha kita, Allah menilainya sebagai amal kebaikan dan kita dijaga dari keburukan dan kemaksiatan.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *