Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 11 April 2018

HIKMAH – Siapakah Muslim Itu?


abdillah toha

islamindonesia.id -HIKMAH – Siapakah Muslim Itu?

 

 

Oleh: Abdillah Toha, Pemerhati Sosial, Politik, Ekonomi, Keagamaan

 

 

 

Saya pernah menulis dengan judul “Menjadi Muslim: Sulitkah?
Renungan ini akan mengulas beberapa hal yang tidak tercakup dalam tulisan itu.

Pertama, disamping kata muslim sebagai pemeluk agama Islam atau orang yang menjalankan syariat Islam seperti dalam tulisan diatas, muslim dalam arti yang lebih luas adalah dia yang berserah diri sepenuhnya kepada Allah Sang Pencipta dan Pemelihara seluruh alam semesta.

Kedua, keberserahan diri itu berlaku tanpa kecuali bagi seluruh makhluk alam termasuk manusia, yakni keberserahan secara terpaksa ataupun sukarela. (QS 3:83)

Ketiga, bulan, bintang, matahari, malaikat, dan sejenisnya tak punya pilihan kain kecuali berserah diri sepenuhnya mengikuti aturan sunnatullah, sedang bagi manusia yang diberi fakultas akal, bagian-bagian yang membentuk tubuhnya berserah diri tanpa kecuali tapi akal budinya diberi kebebasan memilih untuk berserah diri atau tidak. Meski seseorang pada zahirnya kafir namun jantung, liver, dan paru-parunya muslim.

Dengan demikian akal budi manusia yang bebas inilah yang kemudian menentukan dan mengendalikan perilakunya yang di Hari Akhir akan dinilai dan dihisab.

Karenanya yang disebut manusia itu bukan tangan, kaki, atau wajahnya, tetapi akal budinya, yakni intelek dan kecenderungan hatinya. Sesungguhnya manusia itu tak dapat dilihat oleh manusia lain karena yang tampak dan tertangkap oleh indra hanyalah tubuhnya.

Kita dapat mengukur tinggi dan berat badan manusia tetapi tak dapat dengan pasti mengukur niat, harapan, keyakinan, dan perasaan manusia lain. Paling banter kita hanya dapat menebak-nebak apa yang dipendam didalam diri manusia lain atas dasar penglihatan kita atas perilakunya dan kata-kata yang diucapkan.

Bila demikian, dimana sebenarnya batas keberserahan diri manusia? Bukankah ketika Tuhan mengatakan nahnu atau inna, kata sebagian ulama, ada keterlibatan atau peran selain Tuhan? Apakah kemunduran ummat selama ini karena terlalu banyak “berserah diri”?

Jelas kita semua sepakat bahwa berserah diri itu bukan berarti pasrah penuh tanpa upaya dan menanti keputusan Tuhan. Berserah diri dengan pasrah penuh tanpa kerja keras itulah barangkali salah satu penyebab kemunduran umat.

Karena kita tak akan bisa mengetahui apa rencana Tuhan terhadap kita, maka berserah diri yang Islami adalah dengan bekerja semaksimal mungkin dalam segala upaya kita, seakan kita sedang menggiring Tuhan untuk mengambil keputusan yang sesuai dengan rencana kita.

Kata orang, usaha adalah doa. Upaya keras kita bisa dilihat olehNya sebagai doa yang tulus dan Tuhan bebas berkehendak mengarahkan atau mengubah keputusannya sesuai dengan kehendak kita.

Sejauh mana manusia boleh berkeyakinan tentang adanya kebebasan berkehendak dan berupaya? Batasnya adalah percaya bahwa pada akhirnya, berhasil dan gagal atau apapun yang terjadi setelah upaya maksimal, adalah kehendak Sang Pemilik bumi dan langit. Dia lebih tahu apa yang baik dan apa yang buruk buat kita. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa bagi muslim sejati, tidak ada yang lain kecuali kemenangan.
Wallah a’lam

 

 

 

 

YS/Islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *