Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 12 July 2017

HIKMAH – Pusaka Pembebasan dari Para Nabi


rps20170712_200326

islamindonesia.id – Pusaka Pembebasan dari Para Nabi

 

Ada dua jenis belenggu yang merampas kebebasan manusia dan meniadakan potensi-potensi kreatif dan kemampuan-kemampuan besar yang terpendam di dalam dirinya. Belenggu-belenggu ini tidak hanya merintangi seseorang dalam gerakannya menuju kesempurnaan semata, tetapi juga menyeretnya ke dalam kejatuhan, kemunduran dan kehinaan.

Kedua jenis belenggu ini adalah belenggu internal dan belenggu eksternal. Belenggu-belenggu internal direpresentasikan dengan hawa nafsu dan kecenderungan-kecenderungan tak terkendali yang membelenggu keinginan manusia dari dalam diri dan memenjarakan entitas ini – yang asalnya seperti burung di taman-taman malakut – dalam tawanan kecenderungan-kecenderungan hewani yang kemudian mengubahnya menjadi orang-orang yang siap menerima belenggu-belenggu eksternal.

Apa yang dilakukan oleh para penjajah untuk menghancurkan dan memenjarakan rakyat bukanlah tindakan yang spontan. Tetapi mereka sudah melakukan usaha-usaha sebelumnya dengan menggunakan belenggu-belenggu internal.

Pada fase pertama, mereka merampas identitas diri dan kebebasan batiniah seseorang dengan mendirikan pusat-pusat hiburan erotik dan sarana-sarana pendukungnya dalam skala luas. Jika hal ini sudah dilakukan, mudahlah bagi mereka untuk merampas kebebasan eksternalnya. Bahkan – dalam penjara tawanan internal dan eksternal – kadang-kadang ia merasakan sedang menikmati kebebasan sepenuhnya.

Kebebasan Berpikir

Untuk menghancurkan belenggu-belenggu itu, para nabi memberikan kebebasan berpikir kepada manusia dengan mengeluarkan pusaka-pusaka akal yang terpendam di dalam rawa-rawa syahwat.

Karena itu, Sayidina Ali bin Abu Thalib berbicara tentang tujuan diutus para nabi: “Tujuan diutusnya para nabi dan rasul adalah membukakan pusaka-pusaka akal yang terpendam pada setiap manusia.”

Selama akal manusia dikungkung oleh syahwat, pikirannya tertawan oleh hawa nafsu, dan pelita pikiran yang redup tertutup oleh tabir-tabir penyembahan diri dan egoisme, maka pikiran dan ilmunya tak akan memiliki nyala yang kuat sehingga tidak dapat membebaskan belenggu-belenggu yang memasung kebebasan manusia dan tidak mempunyai kemampuan untuk membawanya pada tingkat kesempurnaan.

Berkaitan dengan hal ini, Sayidina Ali berkata, “Tidak mungkin (haram) mendapatkan manfaat kebijaksanaan selama akalnya terbelenggu syahwat.

Keharaman yang dimaksud Sayidina Ali adalah keharaman formatif, seperti tubuh orang sakit yang tidak bisa menikmati kelezatan makanan yang lezat. Makanan yang lezat itu tidak akan memiliki pengaruh kecil jika penyakit dalam tubuh diobati terlebih dahulu. Sebab ruh manusia terhalang untuk memperoleh faedah dari kebijaksanaan – yang merupakan makanan ruh – selama penyakit-penyakitnya tidak diobati terlebih dahulu.

Manakala penyakit-penyakit rohani diobati, belenggu-belenggu pikiran dihancurkan, tirai-tirai pikiran dihilangkan, maka pelita akal yang menyala itu akan tampak dan jalan kemajuan manusia akan menjadi terang. Berkaitan dengan hal ini, Sayidina Ali berkata, “Siapa yang mengalahkan syahwatnya, tampaklah akalnya.”

Tentang hal ini, Al-Qur’an mengabadikan firman-Nya:  Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). (QS. al-Baqarah: 257)

 

MRS/YS/IslamIndonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *