Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 10 November 2018

HIKMAH – Memilih Jalan


at_the_crossroad_by_hermanne_allan_poe

islamindonesia.id – HIKMAH – Memilih Jalan

 

 

Oleh Abdillah Toha | Pemerhati Sosial, Agama dan Politik

 

 

Tiap hari kita dihadapkan pada keharusan memilih. Memilih bangun atau meneruskan tidur. Memilih marah atau memaafkan. Memilih bekerja atau berlibur. Memilih membeli sekarang atau nanti. Memilih diam atau bicara. Begitu seterusnya setiap hari sampai datang saatnya dimana kita tidak bisa memilih lagi ketika harus menuju ke liang kubur.

Kemarin saya mendapat kiriman sebuah anekdot tentang lima orang berkawan yang tersesat di hutan. Masing-masing berbeda pendapat tentang pilihan jalan yang harus ditempuh agar mencapai desa atau kota terdekat. Ada yang ingin ke kanan, ada yang pilih ke kiri, ke utara, dan ke selatan. Akhirnya masing-masing berpisah, mengambil jalannya sendiri-sendiri. Ujungnya, ternyata masing-masing mencapai kota yang bervariasi dengan pengalaman yang berwarna-warni selama dalam perjalanan. Kesimpulan penulis cerita, tidak ada pilihan yang salah. Semua pilihan hidup memberi tantangan dan peluang yang berbeda.

Saya awalnya cenderung sependapat dengan kesimpulan penulis bahwa apapun pilihan kita akan membawa kebaikan buat kita bila kita selalu berpikir positif dan memandang hidup dengan penuh optimisme. Sehaliknya, bila kita berpikir negatif dan penuh dengan pesimisme, maka tantangan menjadi problem dan peluang menjadi masalah. Dengan kata lain, pilihan kita selalu benar dan baik bila kita bersikap positif dan optimis. Benarkah demikian?

Bila premis diatas benar, lalu mengapa Allah berfirman dalam surah Al-Balad ayat 10, wanhadainahunnajdain? Sebagian besar ahli tafsir sepakat bahwa maknanya adalah “Dan Kami memberi (pilihan) kepadanya (manusia) dua jalan (jalan kebaikan dan jalan keburukan)”. Dengan demikian, tidak semua pilihan itu benar menurut Islam. Yang benar adalah yang mengikuti petunjuk Allah (dan RasulNya). Apakah kemudian premis awal diatas itu salah? Tidak juga. Begini barangkali penjelasannya.

Pilihan yang ditawarkan Allah dalam Al-Quran adalah pilihan moral dan pilihan iman, sedang pilihan yang terbuka bagi kawan yang tersesat di hutan itu adalah pilihan rasional. Dalam menentukan pilihan rasional, manusia dibekali Tuhan dengan akal. Pilihan rasional adalah pilihan yang membawa kita lebih dekat kepada tujuan (duniawi) kita, sedang pilihan moral dan iman adalah pilihan yang membuat kita lebih dekat kepada kebaikan yang tidak lain adalah Allah itu sendiri. Pilihan yang sempurna adalah pilihan rasional yang dilandasi pilihan moral yang benar.

Kita ketahui bahwa agama adalah  jalan, path, sirath. Bukan tujuan akhir. Dien adalah way of life. Jalan hidup.Tidak seperti makhluk lain malaikat, langit, bumi, bintang dan sebagainya, manusia diberi kebebasan memilih dan kehendak bebas dalam batas sunnatullah. Kebebasan memilih ini tidak menjamin hasil pilihan yang maksimal karena perbedaan kemampuan manusia dalam berpikir maupun keterbatasan informasi. Karenanya, dalam pilihan rasional pun manusia masih tetap mengharapkan dan membutuhkan petunjuk Ilahi melalui doa.

Seperti telah kita bahas sebelum ini, semoga kita semua mendapatkan petunjuk atau hidayah umum yang membimbing akal kita dalam menentukan pilihan rasional, maupun hidayah khusus dan taufikNya yang membawa kita lebih dekat kepadaNya melalui pilihan moral dan iman yang benar.

 

Wallahu a’lam.

 

 

YS/Islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *