Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 06 October 2018

HIKMAH – Kematian


flatline

Islamindonesia.id– HIKMAH – Kematian

 

Oleh Abdillah Toha | Pemerhati Sosial, Politik dan Keagamaan

 

 

Kemarin ketika mengantar jenazah seorang kerabat dan saat jenazah diturunkan ke liang lahat, tak tampak wajah-wajah yang muram. Bahkan sebagian pengantar jenazah ada yang menunjukkan senyum di wajahnya kecuali dengan sendirinya kerabat yang sangat dekat dengan yang meninggal.

Barangkali itu sudah kodrat manusia yang merupakan hikmah dari Tuhan bahwa kita diciptakan optimis, kata kawan di sebelah saya. Barangkali kita berpikir bahwa yang bisa mati itu hanya orang lain. Barangkali karena peristiwa kematian Itu sudah merupakan peristiwa yang sangat rutin dan berulang-ulang, sehingga kita tak tersentuh lagi.

Mungkin juga penyebabnya tak ada seorangpun dari kita yang akan terhindarkan dari kematian pada akhirnya, sehingga kita merasa tak ada gunanya berkeluh kesah. Padahal manusia pada umumnya takut akan kematian. Bagi kebanyakan kita kematian adalah sebuah misteri dan manusia takut menghadapi sesuatu yang tidak dikenal dan tidak diketahui. Bagi orang beriman sesungguhnya kematian tidaklah demikian karena segala sesuatunya telah dijelaskan di dalam kitab suci. Namun tetap saja beriman atau tidak, bila mungkin orang umumnya ingin
menghindar dari kematian dan kalau bisa mau hidup selamanya

Kematian sering disebut sebagai musibah dan Allah memerintahkan kita untuk mengucap inna lillah wa inna ilaihi rojiun yang artinya sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesunghuhnya kepadaNyalah kita semua akan kembali. Benarkah bahwa kematian itu sebuah musibah?

Bila musibah diartikan sebagai bencana, dapatkah kematian yang terjadi kepada setiap manusia dikatakan sebagai bencana? Sebagai Muslim kita percaya bahwa kematian sesungguhnya adalah kehidupan baru menuju  yang abadi sehingga tidak bisa dikatakan sebagai bencana. Kecuali bagi mereka yang akan terkena siksa sebagai akibat dari perilaku buruknya di kehidupan dunia. Kematian mungkin bukan bencana bagi yang mati tetapi musibah bagi yang masih hidup dan ditinggalkan oleh yang mati.

Ada sebagian manusia yang tidak takut akan kematian. Mereka adalah pengecualian dari manusia pada umumnya dan sering disebut sebagai manusia berani mati. Banyak sekali contohnya, seperti para pejuang dalam berbagai bidang yang berani merisikokan hidupnya demi kemanusiaan, kemerdekaan bangsa, harga diri dan lain sebagainya. Bahkan ada yang melakukan bunuh diri demi kehormatannya seperti adat harakiri di Jepang. Ada pula manusia beragama yang berjihad debgan alasan yang keliru dan mencari kematian karena tidak sabar menunggu terlalu lama ganjaran sorga dengan segala kenikmatannya.

Orang-orang yang dikecualikan ini mencari kematian dengan berbagai alasan yang berbeda. Ada pula orang yang mendambakan kematian dan melakukan bunuh diri karena menganggap kematian adalah akhir dari segala penderitaan yang dialaminya di dunia. Mereka adalah orang-orang yang putus harapan dan tidak beriman kepada adanya kehidupan setelah kematian. Jadi, sebagai Muslim bagaimana kita seharusnya bersikap menghadapi kematian?

Pertama kita harus yakin bahwa kematian adalah awal dari kehidupan baru yang menyenangkan atau mencelakakan, bergantung kepada baik buruknya amal kita selama hidup di dunia. Kematian bukan akhir dari segalanya.

Kedua, kita juga tidak tahu persis kapan hidup kita akan berakhir. Berdasar statistik, makin tambah usia kita makin dekat kita kepada kematian. Namun kematian juga bisa datang sekonyong-konyong,. Karenanya kita seharusnya tidak menunda-nunda melakukan perbuatan baik karena bisa saja besok atau lusa kita mati.

Ketiga kita tidak dibenarkan untuk menghendaki dan mencari kematian dengan berbuat konyol yang berisiko sangat membahayakan nyawa kita. Apa lagi bila perbuatan konyol itu juga berisiko menghilangkan nyawa orang lain yang tidak bersalah, seperti perbuatan bom bunuh diri teroris.

Keempat, putus asa dan hilang harapan bukanlah perbuatan orang beriman, apalagi sampai kepada tahap niat menghilangkan nyawa sendiri. Sesungguhnya Allah menjamin akan mengabulkan doa dan mengubah nasib kita dengan syarat kita berupaya mengubah diri dan pandangan hidup kita.

Kelima, diantara berbagai doa yang dianjurkan adalah doa memohon dipanjangkan umur. Namun doa panjang umur yang benar bukan karena takut akan kematian melainkan permohonan untuk dapat meraih berkah dengan mengisi hidup kita lebih banyak lagi dengan perbuatan baik.

Sesungguhnya kematian itu bukanlah hal yang perlu ditakutkan bila kita memandang kematian sebagai perjalanan pulang ke tempat asal kita. Sebagai musafir dalam sebuah perjalanan yang panjang, bagian dari perjalanan kita yang paling menyenangkan adalah ketika kita lelah dan sampai pada saat kita harus pulang ke rumah asal. Berani hidup dengan segala konsekwensinya lebih utama dari berani mati. Wallah a’lam

 

 

 

AT – 06102018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *