Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 26 September 2018

HIKMAH – Kehidupan Dunia


Mewaspadai Pesona Dunia Sepanjang Usia

islamindonesia.id – HIKMAH – Kehidupan Dunia

 

 

Oleh Abdillah Toha | Pemerhati Sosial, Politik dan Keagamaan

 

 

Islam melihat dunia dari dua sisi konsep. Dunia sebagai waktu, yakni masa dan tahap hidup disini dan kini sebelum kehidupan abadi berikutnya di akhirat, dan dunia sebagai tempat, ketika Adam diturunkan dari sorga ke alam dunia. Meski ada yang berpendapat bahwa itu semua hanya persoalan persepsi. Sesungguhnya dunia dan akhirat itu satu dan sama, hanya kita makhluk yang tak mampu menangkapnya.

Lebih lagi dari sisi Allah, waktu dan tempat semuanya tak relevan. Dan hijab yang menutup mata kita akan sepenuhnya tersingkap ketika ajal sampai, saat kita bisa melihat semua yang tadinya tak tertangkap oleh indera kita.(QS 50:22)

Islam, seperti tertera dalam berbagai ayat Al-Quran, juga membagi  dunia ke dalam kehidupan yang buruk dan yang baik. Dari sisi buruknya, Allah memperingatkan dengan keras tentang dunia sebagai tempat yang penuh dengan tipuan, yang sementara, harta dan anak yang bisa membikin lupa orang kepada Tuhan, tempat setan yang selalu menggoda, dan seterusnya. (QS 3:185, 9:85, 35:5)

Di sisi lain Allah juga menggambarkan dunia sebagai tempat yang berkenikmatan, penuh rahmat, rezeki, hasanah, dan berkah, serta kita diminta jangan sampai melupakan bagian kita di dunia, (QS Yusuf:56, A’raf:32, A’raf:96, al-Qashash:77) Secara sambil lalu terkesan ada paradoks dan kontradiksi. Apakah dunia ini tempat yang baik atau buruk?

Sesungguhnya tidak begitu. Baik dan buruknya dunia bergantung kepada pilihan manusia yang memang diberi kebebasan memilih. Tuhan tidak melarang manusia merasakan kenikmatan dunia asalkan dalam batas aturan etika, moral, dan spiritual yang diajarkan olehNya. Asalkan kita bersyukur dan tidak mengklaim bahwa semua yang kita raih di dunia semata-mata hanya berkat jerih payah kita. Asalkan kita tidak melampiaskan cinta kita dan terikat oleh kenikmatan dunia sehingga melupakan akhirat dengan meninggalkan apa-apa yang diwajibkan dan disarankan kepada kita sebagai seorang Muslim.

Sebagai Muslim kita diajarkan bahwa kehidupan di dunia sifatnya sementara dan transisional. Kita semua adalah musafir. Berangkat dari rahim ibu, transit di dunia, bergerak lagi  ke arah akhirat sebagai tujuan akhir. Dunia hanyalah sebuah tempat transit dalam perjalanan pulang kita ke haribaan Ilahi. Dalam perjalanan, kita tidak dilarang menggunakan kendaraan yang menyenangkan asalkan niat dan tujuan kita tidak berbelok ke arah yang tidak diridhoi Allah.

Salah satu doa Muslim yang sangat populer adalah permohonan untuk mendapatkan kebaikan (hasanah) di dunia dan di akhirat. Sudahkah hasanah di dunia diraih oleh umat Islam sejauh ini? Bila hasanah di dunia diartikan sebagai kesejahteraan ekonomi, kekuatan militer, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kreatifitas, keindahan seni dan budaya, dan lain sejenisnya, maka tampaknya hasanah itu selama beberapa ratus tahun terakhir ini justru berada di luar jangkauan dunia Islam.

Penyebabnya banyak sekali dan.terlalu panjang bila akan diuraikan disini satu per satu. Namun ada beberapa yang menonjol. Pertama, mundurnya kekuasaan politik global Islam sejak abad ke-18 sampai dengan bangkrutnya kekhalifahan Ottoman pada awal abad ke-20 yang disusul dengan penjajahan dan penjarahan kolonialis Barat di negeri-negeri muslim. Kedua, adanya kejumudan dalam interpretasi ajaran Islam yang mematikan ijtihad dan kreativitas guna mengikuti perkembangan zaman.

Ketiga, kemunduran dan kekalahan demi kekalahan selama beberapa abad terakhir ini menimbulkan dua jenis reaksi. Reaksi pertama adalah munculnya keputus-asaan yang kemudian berdampak pada tumbuhnya kecenderungan asketisme atau kezuhudan yang salah arah. Semua yang bersifat duniawi cenderung dianggap tidak penting demi meraih kehidupan ukhrawi. Dan ini tercermin dari berbagai khotbah dan dakwah para ulama yang lebih menganjurkan kegiatan ibadah ritual daripada ibadah sosial dan kemasyarakatan.

Reaksi kedua dalam bentuk merasa terancam oleh berbagai kekuatan di luar Islam sehingga terjadi kecenderungan menutup diri dan menganggap semua yang datang dari luar sebagai tidak Islami dan berbahaya. Reaksi pertama menimbulkan apatisme sedang reaksi kedua mengakibatkan dibangunnua “benteng” pertahanan yang bermuatan kecurigaan dan kebencian. Ujungnya, dunia lepas dan akhirat belum pasti tergapai.

Sorga dan neraka pada hakekatnya sudah mulai terjadi di kehidupan dunia, bila sejuknya sorga digambarkan sebagai keindahan, ketenangan batin, kemajuaan, dan keterpenuhan hasrat, sedang membakarnya api neraka diartikan sebagai panas dan rasa sempit di dada yang disebabkan oleh kebencian dan kesumpegan sebagai akibat dari keterasingan.
Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanatan, wa qina adzabannar.
Wallah a’lam.

AT – 27092018

 

 

 

YS/Islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *