Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 30 January 2018

HIKMAH – Hikayat Pohon Cantik


HIKMAH – Hikayat Pohon Cantik

islamindonesia.id – Hikayat Pohon Cantik

 

Alkisah, di sebuah hutan belantara tumbuhlah sebatang pohon yang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan jutaan pohon lainnya. Ia memiliki batang sangat lurus dan tegak, akarnya kokoh, dan aroma khasnya yang harum, semerbak, memenuhi seluruh isi hutan. Sehingga tak heran, ramai sekali para pencari kayu bakar yang merasa tertarik pada pohon itu. Bahkan banyak yang berniat baik untuk turut memelihara keindahannya. Dengan senang hati mereka membiarkan pohon tersebut tetap tumbuh.

Seringkali mereka menyempatkan diri untuk menyiraminya dengan air yang diperoleh dari lubuk bening di pinggir hutan. Semua itu mereka lakukan dengan penuh harap agar suatu saat kelak, di alam yang mulai penuh dengan kerusakan ini, Sang Pohon Cantik akan tumbuh dengan sejuta pesona. Memberikan warna perubahan bagi siapa saja, untuk lebih mencintai lingkungan mereka dan berhenti membuat kerusakan.

Sementara bagi para penebang pohon yang liar, keberadaan pohon cantik itu sangatlah mengganggu. Mereka sadar, bila pohon tersebut tumbuh dengan baik, maka akan banyak perhatian yang akan tertuju ke hutan itu. Perhatian yang tentu saja akan membuat langkah mereka semakin sulit dalam membuat kerusakan di dalamnya.

Para penebang pohon yang liar itu pun berikrar, mereka akan memindahkan pohon cantik itu ke halaman rumah-rumah mereka. Namun bila tujuan itu tidak tercapai, maka mematikan pohon itu adalah cara terbaik yang harus mereka tempuh.

Beruntung, pohon cantik tersebut mendapat penjagaan yang sangat rapi dari para pencari kayu bakar yang baik hati. Mereka secara bergiliran menjaganya dengan sangat waspada agar pertumbuhan Sang Pohon terjaga. Selain itu, pohon tersebut rupanya memiliki akar yang dapat tumbuh dengan cepat. Sehingga sari-sari makanan yang ada dalam tanah dapat diserap dengan baik. Demikian juga dengan air yang ada, dapat digunakan oleh Sang Pohon untuk menopang kehidupannya.

Singkat cerita, pohon itu pun tumbuh besar, daunnya yang rimbun menghijau membuat mata tak lelah untuk memandang. Dari dahan-dahannya lahir wewangian semerbak harum yang menyelimuti seluruh hutan. Dan satu lagi, pohon cantik tersebut memiliki buah yang sangat manis. Selain dapat menghilangkan dahaga, juga dapat mengenyangkan para penikmatnya. Terasalah berkah Sang Pencipta bagi para pencari kayu bakar, meskipun para penebang pohon yang liar masih saja mencari celah untuk menyingkirkan pohon itu.

Namun, demikianlah kodrat keberadaan setiap makhluk yang hidup dan tumbuh di atas muka bumi ini, tak satupun yang abadi! Tak terkecuali dengan pohon cantik yang disanjung para pencari kayu bakar dan seluruh penghuni hutan.

Pada suatu petang, ketika langit mulai gelap, angin pun kencang berhembus. Pucuk pohon cantik bergoyang dengan hebatnya. Ia sekuat tenaga mengimbangi keadaan agar angin tak menumbangkannya. Sang Pucuk terus bergerak, awalnya hanya berniat untuk mempertahankan diri dari keadaan alam yang ia hadapi.

Tetapi lama-kelamaan ia sadar, bahwa sebenarnya ia dapat mengatasi sepenuhnya serangan angin tersebut. Ia yakin benar telah ditopang oleh akar yang kuat, dan dahan-dahan yang kokoh, serta dedaunan yang dapat menahan laju dan kencangnya angin dengan sempurna. Kerana keyakinannya itulah tiba-tiba ia membuat sebuah gerakan yang tidak disangka-sangka oleh Sang Akar, yang sekuat tenaga mencengkam tanah.

Sang Pucuk menari, bukan hanya mengikut arah angin, namun terkadang ia membuat gerakan yang membingungkan Sang Akar dalam mempertahankan keseimbangannya.

Dan, Sang Akar pun menegurnya; “Hai, pucuk. Berhentilah menari! Aku bingung melihatmu!”

“Kenapa mesti bingung, Akar? Aku tahu benar situasi yang ada. Ikut sajalah!”

“Bagaimana aku hendak mengikuti tarianmu, kalau kamu susah diikuti.”

“Percayalah, akar. Aku di atas mampu melihat semuanya. Bukan hanya batang, daun, dan kau akarku sendiri. Tetapi jarak puluhan batu di sekeliling kita pun dapat aku lihat dengan jelas.”

“Hai, apa salahnya aku mengingatkanmu, pucuk?”

“Kau salah akar, harusnya kau ikut saja apa kataku. Kerana posisimu di bawah, dan kau tidak tahu apa-apa tentang dunia ini!”

“Aduhai… angkuh nian kau, pucuk! Kalaulah tak ada aku, mana mungkin kau dapat berdiri dan berada di atas sana!”

“Sudahlah, kenapa kalian malah bertengkar, hah?!” Sang Daun menegahi suasana yang semakin panas.

“Kerana dia mulai merasa angkuh, daun!” akar mengarahkan serabut akarnya kepada Sang Pucuk.

“Apa urusanmu, akar?! Ikuti sajalah kataku, dan kau akan selamat.”

“Apakah kalian lupa, hah? Kalian itu saling memerlukan! Tidak akan ada kehidupan kalau tidak aku, kau, dan si akar itu. Sadarlah, saudaraku! kawanku!” Sang Daun kembali berujar dengan perasaan sedih menyaksikan percekcokan saudaranya sendiri.

Perdebatan demi perdebatan terus bergulir di antara keduanya. Sang Pucuk tidak merasa harus mengalah sedikit pun terhadap Sang Akar. Ia merasa bahwa ialah segalanya, dialah ketua karena berada di tempat yang paling atas. Ia merasa ditakdirkan Tuhan untuk berada di atas dengan segala penglihatannya yang luas akan dunia ini. Ia merasa Tuhan telah memberikan kekuasaan mutlak kepadanya untuk berbuat sesuka hati.

Sementara, Sang Akar merasa kecewa, Sang Pucuk telah mengambil langkah yang keliru dalam melaksanakan upaya menjaga kelangsungan hidup seluruh bagian pohon tersebut. Dan, Sang Daun yang berusaha melerai perdebatan itu pun tak berdaya menenangkan keduanya, meski ia tak pernah merasa lelah untuk mendamaikan perseteruan dua saudara satu tubuh itu.

Waktu yang digariskan mungkin saja telah tiba, karena perdebatan yang berlarut-larut itu, Sang Akar bermalas-malasan untuk menyerap air dan zat-zat yang dibutuhkannya. Demikian juga Sang Daun, karena kelelahan melerai perdebatan kedua saudaranya, ia lupa untuk mengolah makanan meskipun matahari terus bersinar sepanjang hari.

Dan, Sang Pucuk rupanya semakin terlena. Ia tidak menyadari dua saudara di bawahnya sudah mengalami gangguan. Ia tetap berlenggak-lenggok mengikuti arah angin dengan irama yang menghibur hatinya. Hingga tibalah saat ketika angin justeru berhembus dengan sangat perlahan.

Sang Pucuk terlena karena desirnya, ia merasa ngantuk dan ia biarkan gerakannya yang tidak beraturan, dan ia pun mulai terpejam. Terlelap dalam tidur yang tidak disadarinya, dan angin datang menyerang. Tubuhnya terkulai. Sang Daun yang lapar tidak berdaya menahan tubuh Sang Pucuk yang datang tiba-tiba. Ia ikut terjatuh. Sementara di bawah, Sang Akar yang bermalas-malasan tidak lagi memiliki cengkeraman yang kuat terhadap tanah di sekelilingnya. Sang Akar tak kuasa menahan tubuh kedua saudaranya yang terjatuh lebih dulu. Ia tercabut, tercerai-berai.

Beginilah akhirnya kisah pohon cantik, sebuah cerita yang menyedihkan.Para pencari kayu bakar yang baik hati bermuram durja, sementara para penebang liar bergelak tawa, “Tak perlu kita robohkan, kawan. Mereka roboh sendiri karena permusuhan…!!”

“O, bahkan tak perlu angin yang kencang rupanya……. kasihan betul…..” demikianlah kata penebang pohon yang liar.

Sampai di sini, dapatkah kita mengambil hikmah dari cerita ini?

Marilah kita jauhi permusuhan yang mencerai-beraikan silaturahmi di antara kita. Janganlah suka menyimpan dendam karena dendam itu tidak membawa pada kedamaian.

Bukankah perumpamaan orang-orang beriman yang saling berkasih sayang, saling menghormati dan saling menjaga, di dalam persaudaraan sesama mereka itulah mereka seperti satu tubuh, apabila satu anggota merasa sakit, maka seluruh tubuh akan turut merasakannya?

Maka saling hormat menghormati dan bersatu padulah kita agar syiar Islam dapat diteruskan dan digemilangkan. Dan agar kita tetap menjadi orang yang beriman.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *