Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 28 July 2016

HIKMAH—Gus Mus: Orang Jujur Ndak Gampang Sakit


Gus Mus Orang Jujur Ndak Gampang Sakit

IslamIndonesia.id—Gus Mus: Orang Jujur Ndak Gampang Sakit

“Orang yang jarang berbohong memiliki kesehatan fisik dan pikiran yang lebih baik dibanding yang suka bohong.”

Begitu #FatwaAhad Gus Mus mengutip hasil riset America Psychological Association, yang dengan kata lain dapat diartikan bahwa orang yang jujur cenderung ndak bakal gampang sakit dan sebaliknya mereka yang suka bohong biasanya akan sakit-sakitan, baik sakit badan (fisiknya) maupun pikiran (jiwanya).

Seperti sebelumnya, cuitan khas dengan hashtag #FatwaJumat dan #FatwaAhad dari Kiai kharismatik asal Rembang dengan akun @gusmusgusmu ini hampir selalu menjadi bahan perbincangan para netizen.

Ibarat jampi-jampi, tak terhitung banyaknya pitutur luhur sosok sahaja yang pernah menolak posisi sebagai Rais Aam PBNU ini dikoleksi banyak orang dan tak jarang kemudian dimodifikasi dalam bentuk meme kata mutiara oleh para “penggemar” yang mengidolakannya.

Begitu pun #FatwaAhad yang meskipun merupakan kalimat kutipan hasil riset sebuah Asosiasi Psikologi negeri Paman Sam, tapi ketika yang menyampaikannya adalah Gus Mus, tetap saja terasa istimewa. Bahkan tak luput dari penafsiran para netizen yang terkadang—maaf, boleh dikata lebay. Di antaranya, penafsiran yang menyebut bahwa cuitan itu sedikit banyak ada kaitannya dengan kondisi salah seorang petinggi MUI Pusat yang beberapa hari lalu dikabarkan sedang sakit.

Sebagai pihak yang mengenal dekat sosok Gus Mus, hampir dapat kita dipastikan bahwa #FatwaAhad menyangkut “tukang bohong cenderung sakit-sakitan” itu sama sekali tak beralasan untuk ditafsirkan lebih dari sekadar upayanya untuk berbagi kebaikan kepada sesama, khususnya kaum Muslimin yang menjadi follower setianya. Bahwa betapa pentingnya perilaku jujur dan sedemikian berpengaruhnya kebohongan pada kondisi fisik dan kejiwaan seseorang.

Betapa tidak? Bagaimana mungkin pribadi tawadhu dan penyabar yang menyatakan dirinya sebagai “orang bodoh yang tak kunjung pandai” ini bakal mentolo (tega) menggurui apalagi menyinggung orang lain, terlebih jika orang lain yang dimaksud itu sekaliber petinggi MUI Pusat? Naudzubillahi min dzalik..

Lalu bagaimana pandangan Islam tentang bahaya kebohongan dan dampak buruknya bagi kesehatan raga dan jiwa manusia?

Bohong adalah penyakit yang menghinggapi masyarakat di segala zaman. Ia adalah penyebab utama bagi timbulnya segala macam bentuk kejelekan dan kerendahan. Suatu masyarakat takkan lurus selamanya jika perbuatan bohong ini merajalela di antara individu-individunya. Dan suatu bangsa takkan bisa menaiki tangga kemajuan kecuali jika berlandaskan pada kejujuran.

Perbuatan bohong akan menimbulkan rasa saling membenci antara sesama teman. Rasa saling mempercayai antar sesama akan hilang, dan akan tercipta suatu bentuk masyarakat yang tidak berlandaskan asas saling tolong-menolong atau gotong royong.

Apabila bohong sudah merajalela ke dalam tubuh masyarakat, maka hilanglah rasa senang dan keakraban antara anggota-anggotanya.

Mengingat dampaknya yang sangat negatif dan membahayakan masyarakat itulah, maka Islam melarang (mengharamkan) berbohong dan menganggap perbuatan ini sebagai perbuatan dosa besar. Bahkan berbohong dalam Islam dipandang sebagai salah satu sifat kekufuran dan kemunafikan.

Di dalam Al-Qur’an Surah An-nahl ayat 105 Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا يَفۡتَرِي ٱلۡكَذِبَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِ‍َٔايَٰتِ ٱللَّهِۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ١٠٥

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah mereka yang tidak mengimani (percaya) ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah, dan mereka itulah kaum pendusta.

Dalam Al-Qur’an Surah Ghafir ayat 28 Allah SWT berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ كَذَّابٞ ٢٨

Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.

Dan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al Imran ayat 61:

فَمَنۡ حَآجَّكَ فِيهِ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ فَقُلۡ تَعَالَوۡاْ نَدۡعُ أَبۡنَآءَنَا وَأَبۡنَآءَكُمۡ وَنِسَآءَنَا وَنِسَآءَكُمۡ وَأَنفُسَنَا وَأَنفُسَكُمۡ ثُمَّ نَبۡتَهِلۡ فَنَجۡعَل لَّعۡنَتَ ٱللَّهِ عَلَى ٱلۡكَٰذِبِينَ ٦١

 Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.

Kemudian Nabi SAW berwasiat agar kaum Muslimin berpegang teguh pada kejujuran dan membuang jauh-jauh sifat pembohong.

Sebagaimana dalam suatu kesempatan Beliau SAW diriwayatkan bersabda, “Sesungguhnya kejujuran akan menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menghantarkan kepada surga. Seseorang yang berbuat jujur oleh Allah akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kebohongan itu akan menunjukkan kepada kelaliman, dan kelaliman itu akan menghantarkan ke arah neraka. Seseorang yang terus menerus berbuat bohong akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah SAW pun menggolongkan para pembohong termasuk orang-orang yang memiliki karekteristik kemunafikan.

Beliau bersabda, “Empat hal jika semuanya ada pada seseorang itu adalah munafik semurni-murninya munafik. Jika satu di antara yang empat itu ada pada dirinya maka padanya ada satu kemunafikan sampai ia dapat membuangnya; Jika berbicara ia berdusta, jika diberi amanah ia khianat, jika berjanji ia melanggar dan jika membantah ia berbohong.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Itulah beberapa bahaya dan dampak buruk kebohongan bagi individu dan masyarakat.

Lalu bagaimana jika si pembohong adalah mereka yang di tengah masyarakat menduduki posisi sebagai ulama?

Sebagian besar ulama akhlak menegaskan bahwa jika seorang alim berbohong atau menipu, maka dosanya adalah sangat besar. Alasannya, “Kalau orang alim melakukan suatu hal yang bagi orang awam tergolong makruh, atau dengan kata lain: kalau orang alim melakukan suatu hal yang makruh, maka orang awam akan melakukan hal yang haram, kalau orang alim melakukan hal yang haram, maka orang awam akan terjerumus ke lembah kekufuran!”

Justru hukum belajar kepada orang yang suka menipu ini adalah ilegal karena mereka termasuk golongan yang melakukan kezaliman. Sedangkan Allah SWT melarang kita bersekongkol dengan orang yang melakukan kezaliman.

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Hud ayat 113 menyebutkan:

وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ ١١٣

Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tidak memiliki seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.

Adapun terkait #FatwaAhad Gus Mus, yang oleh banyak netizen semula sempat dianggap sebagai sindiran halus bagi seseorang, tentu tidak pada tempatnya kita ikut-ikutan berburuk sangka dan terpengaruh olehnya.

Ala kulli hal, mungkin lebih baik bagi kita semua untuk berharap dan berdoa: semoga saja kita tidak termasuk ke dalam golongan orang yang suka bohong dan dikarunia Allah kemampuan meneguhi kejujuran, agar kita dikaruniai oleh Allah SWT bukan saja kesehatan fisik dan kesehatan jiwa di sepanjang hidup kita melainkan juga keselamatan dan kasih-sayang sampai kelak kita kembali kepada-Nya.

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *