Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 14 June 2016

HIKMAH—Belajar Ihsan Kepada Gus Dur


Belajar Ihsan Kepada Gus Dur

Islamindonesia.id—Belajar Ihsan Kepada Gus Dur

 

Sudah menjadi tradisi di negeri kita bahwa saat Ramadhan tiba, masjid dan mushalla pun mulai melakukan persiapan dan aktivitas ekstra. Dari sebelum waktu berbuka hingga menjelang sahur, baik di masjid maupun mushalla, selalu saja ramai jamaahnya. Maka “kebisingan” dua tempat ibadah itu di hari-hari biasa, hampir dapat dipastikan meningkat “kualitasnya” kala bulan puasa tiba. Bagi umat Islam, mungkin hal demikian sudah dianggap biasa. Tapi bagaimana dengan pandangan umat lain yang sedang tak berpuasa? Apakah kebisingan (salah satunya akibat pemutaran kaset tilawah jelang berbuka dan sebelum waktu sahur yang dipancarkan TOA) itu tak mengganggu mereka?

Mungkin kita masih ingat anjuran Wakil Presiden Jusuf Kalla agar masjid-masjid tidak memutar kaset tilawah sebelum Subuh, yang memantik beragam komentar dan memunculkan berbagai tanggapan, baik yang bernada mendukung maupun mencibir. Hal itu pun kembali mengingatkan sebagian orang pada artikel berjudul Islam Kaset dan Kebisingannya yang ditulis Gus Dur beberapa tahun silam.

Mirip anjuran JK, Gus Dur pun menyarankan adanya upaya peninjauan kembali “kebijaksanaan” suara lantang di tengah malam, kala itu. Berporos pada pandangan fikih, Gus Dur  dalam artikelnya mengutip hadis Nabi tentang diangkatnya kewajiban syariat dari tiga orang, menyinggung terma ‘illat (sebab yang sah menurut agama), menyebutkan orang-orang yang selayaknya “tidak diganggu” dengan kebisingan suara tengah malam, dan seterusnya.

Jika diamati sepintas, pendapat Gus Dur tentang kaset dan TOA, tampak seolah tak jauh berbeda dengan pandangan JK. Tapi tak banyak yang tahu, bahwa Gus Dur memakai sudut pandang berbeda, terkait hal yang sama, ketika menyangkut kehidupan pribadinya.

Apakah cara pandang Gus Dur menunjukkan semacam inkonsistensi? Tunggu dulu.

Sudah menjadi rahasia umum di kalangan keluarga dekatnya, Gus Dur punya kebiasaan bangun sebelum fajar dan mendengarkan dengan saksama lantunan ayat yang terdengar dari pengeras suara di masjid. Konon, akibat kebiasannya itu Gus Dur bahkan sampai hafal mana ayat-ayat yang sudah diputar hari sebelumnya dan meminta agar diputarkan ayat yang lain. Lebih dari itu, Gus Dur kerap menjadikan ayat yang terdengar pertama kali sebagai solusi bagi masalah-masalah yang tengah menghinggapinya.

Adalah KH. Muhammad Mustofa (Pak Mus) yang pernah mempertanyakan kebiasaan unik Gus Dur tersebut dan justru balik ditanya, “Memangnya ada yang salah?”

“Ya gak ada sih, Pak,” sahut Pak Mus.

“Ya sudah kalau gak ada yang salah,” lanjut Gus Dur. “Toh coba pikir, siapa yang membuat saya bangun jam segini hingga bisa mendengar kaset Al-Qur’an diputar? Siapa yang membuat si Pak Haji itu bangun dan memutar kaset di masjid? Allah juga to?”

Ditanya begitu, Pak Mus pun mulai memahami kearifan Gus Dur. Kearifan yang berakar pada sikap ihsān. Yakni sikap—dalam bahasa Pak Mus, “menghadirkan Allah setiap saat”. Sikap “mata batin”, sikap roso (rasa, dzauq) dalam “melihat” Allah di balik setiap fenomena. Memandang fenomena tanpa terkurung dan terbatas dalam fenomena tersebut, tapi juga memandang Pencipta segala fenomena. Mungkin inilah kearifan yang lahir dari jantung tauhid yang telah berurat berakar dalam jiwa Gus Dur.

Gus Dur melihat sebuah fenomena dari sisi berlainan dan bisa dibilang pula “bertingkat.” Karena itu sikap yang diambil tidak sebatas hitam-putih, melainkan justru warna-warni sesuai dengan perspektif dan konteksnya. Dari perspektif fikih dan dalam hubungan dengan kemaslahatan orang lain, putaran kaset tengah malam memang dapat mengganggu mereka yang tak berkewajiban shalat. Oleh sebab itu, ia perlu ditinjau kembali. Sementara itu dari perspektif ihsān dan dalam konteks hubungan pribadi dengan Allah, hal yang sama justru dapat menjadi salah satu sumber petunjuk Allah yang harus direnungkan.

Dua sikap itu sama sekali tidak bertentangan. Malah keduanya saling melengkapi dan berhasil membangun pandangan serta sikap yang utuh. Selama kaset Al-Qur’an senantiasa berputar sebelum fajar, usaha merenungi ayat-ayat yang dilantunkan mesti terus berjalan. Namun kalau toh kemudian saran Gus Dur yang bernuansa fikih di atas dilaksanakan sungguh-sungguh dan kaset tak lagi diputar, ya ndak masalah. Toh itu hanya salah satu sumber saja, dan sumber lain masih banyak.

Demikianlah akhirnya lantunan Al-Qur’an itu menjadi “makanan pokok” Gus Dur sehari-hari, “santapan” yang “gizi-rohani”-nya tak habis-habis. Senantiasa bergizi, selalu berisi.

Itulah salah satu cara Gus Dur ber-ihsān dan menghidupi Al-Qur’an. Sikap yang patut kita teladani khususnya di bulan Ramadhan ini; bulan mulia yang di dalamnya Allah sediakan berbagai kenikmatan dan janji dilipatgandakannya pahala segala amal perbuatan baik, bahkan ada di antaranya yang nilainya dihitung melebihi seribu bulan.

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *