Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 28 May 2017

Gus Mus: Tegakkan Kebenaran Karena Allah, dengan Syarat Tetap Berlaku Adil


Gus Mus Tegakkan Kebenaran Karena Allah, dengan Syarat Tetap Berlaku Adil

islamindonesia.id – Gus Mus: Tegakkan Kebenaran Karena Allah, dengan Syarat Tetap Berlaku Adil

 

Dalam salah satu tausiyahnya, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, KH Ahmad Mustafa Bisri menyatakan bahwa untuk bisa meneladani dan ikut mempraktikkan apa yang diajarkan dan dilakukan oleh Rasulullah termasuk dalam upaya menyempurnakan akhlak, ada satu yang sangat penting, dan karena itu disebut berulang-ulang di dalam kitab sucinya umat Islam Al-Qur’anul Karim, yaitu sikap adil atau yang dalam bahasa Jawa disebut jejeg.

Lebih lanjut Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini menyebutkan banyak sekali bahkan ada yang selalu diucapkan oleh khatib di waktu khotbah Jumat, innallaaha ya’murukum bil ‘adli wal ihsan, yang artinya sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan. Ada juga sebagaimana yang disebutkan dalam surah Al-Maidah ayat 8:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُواْ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلۡقِسۡطِۖ

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil.

Seolah-olah ini memberikan pengertian kepada kita, kalau tidak adil, tidak bil qisthi, berarti tidak lillah. Kalau lillah, berarti harus bil qisthi.

Sayangnya, al qisthi atau adil ini bisa jadi sulit karena kita mempunyai yang namanya ‘atifah, mempunyai emosi yang karakternya condong kesana condong kesini. Condong kesana benci, condong kesini cinta.

Karena itu Rasulullah SAW selalu mengajarkan sikap tengah-tengah. Karena adil itu memang tidak mungkin bisa dilakukan oleh mereka yang ekstrem kesana, ekstrem kesini. Artinya, kalau kita terlalu benci, maka kita tak mungkin bisa adil. Jika kita terlalu cinta, maka kita tidak akan bisa adil. Karena adil itu ada di tengah, sedangkan terlalu cinta itu kesini, terlalu benci itu kesana. Dengan sikap tengah-tengah, kita bisa menjaga lebih mudah, agar kita tetap mampu bersikap adil.

Ada yang menarik dalam surah Al-Maidah, seperti yang selanjutnya disebutkan:

وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَ‍َٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْۚ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ٨

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ingat, dalam awal surah ini ditekankan, Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil, atau dengan kalimat lain, jadilah kamu sekalian orang-orang Mukmin, penegak-penegak kebenaran. Jadi kalau kita ingin menegakkan kebenaran, sikap adil itu adalah suatu keharusan. Bil qisthi, dengan adil dan lillah, karena Allah, jangan karena nafsu, jangan karena apapun.

Lha ini kalau kita lihat sekarang, lanjut Gus Mus, betapa banyak orang yang ingin menegakkan kebenaran-kebenaran itu. Cuma ya itu tadi, kalau kita terlalu semangat, lalu kita lupa bahwa kita harus adil. Ya, meskipun dalam menegakkan kebenaran atau terutama, karena demi menegakkan kebenaran.

Ada firman Allah selanjutnya, wa la yajrimannakum sanaanu qaumin ‘ala alla ta’dilu. Jangan sekali-kali, ada taukidnya, jangan sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum, menyeretmu, mendorongmu untuk tidak berlaku adil. Jadi, berbuat adil lah.

Kalau kita baca tafsir-tafsir ayat itu, kebanyakan mufassir akan mengatakan bahwa qaumin yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang kafir.

Nah, kalau kepada orang-orang kafir saja kita tidak boleh atau dilarang tidak berlaku adil, apalagi dengan sesama kaum yang beriman.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *