Satu Islam Untuk Semua

Monday, 21 August 2017

Cak Nun: Gusti Allah Tidak ‘Ndeso’  


Cak Nun Gusti Allah Tidak ‘Ndeso’

islamindonesia.id – Cak Nun: Gusti Allah Tidak ‘Ndeso’

 

Suatu kali, budayawan nyentrik Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun, ditodong dengan pertanyaan beruntun.

“Cak Nun,” kata sang penanya, “Misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba Sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pertama, pergi ke masjid untuk shalat Jumat.
Kedua, mengantar pacar berenang, dan ketiga, mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari. Mana yang Sampeyan pilih?”

Cak Nun menjawab lantang, “Ya nolong orang kecelakaan.”

“Tapi Sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?” kejar si penanya.

“Ah, mosok Allah ndeso gitu,” jawab Cak Nun. “Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak,” katanya lagi. “Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi. Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di masjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu.”

“Kata Tuhan,” lanjut Cak Nun, “Kalau engkau menolong orang sakit, Aku-lah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Aku-lah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Aku-lah yang kelaparan itu.”

Masih kata Cak Nun, kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Shalat memang wajib tapi untuk Allah… (tidak dipamerkan kepada orang lain). Sedangkan tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya. Yakni kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, dan membantu sesama.

Idealnya, orang beragama itu seharusnya memang mesti shalat, ikut misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Karena agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Agama mengajarkan pada kesantunan, belas kasih dan cinta kasih sesama.

“Bila kita cuma puasa, shalat, baca Al-Quran, pergi ke kebaktian, ikut misa, datang ke pura.
Menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, menyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama,” terang Cak Nun.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan hanya dari kesalehan personalnya, melainkan juga kesalehan sosial. Maka dari itulah, orang beragama adalah orang yang mestinya bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang mestinya menghormati orang lain, meski beda agama.
Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas), juga tidak korupsi dan tidak mengambil apa yang bukan haknya.

“Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan…” tandas Cak Nun.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *