Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 01 November 2018

KOLOM – Saya Bermimpi


b

islamindonesia.id – KOLOM – Saya Bermimpi

 

Oleh: Haidar Bagir

 

Saya bermimpi, suatu saat orang akan melihat kehidupan bukan sebagai gelanggang pertarungan memojokkan dan menyingkirkan orang lain demi menguasai semua sarana pemuas syahwat untuk diri sendiri. Syahwat harta, syahwat kekuasaan, syahwat politik, dan syahwat-syahwat lainnya. Suatu saat di mana orang percaya bahwa kebahagiaan terletak dalam hidup sebagai manusia, manusia biasa, yang lahir keluarbiasaannya justru karena dia hidup sebagai manusia biasa. Manusia yang mencari ketenteraman hidup di tengah manusia-manusia lainnya, di tengah semua kerabat Tuhan yang ditempatkan-Nya di planet ini. Yang memperoleh makna hidupnya justru dengan memberi, bukan meminta, apalagi mengangkangi semuanya. Orang-orang yang sadar bahwa hidupnya baru genap justru ketika bersama-sama yang lain. Bahwa menolong yang lain sama saja dengan menolong diri sendiri. Bahwa melukai yang lain hanyalah melukai diri sendiri. Karena seorang manusia tak pernah utuh. Manusia baru selesai ketika menjadi satu keluarga, bersama manusia-manusia lain, bersama dengan semua unsur semesta selebihnya. Karena sesungguhnya sendiri itu tidak ada.

Saya bermimpi, melihat planet ini sebagai kumpulan tempat-tempat tinggal untuk manusia, bukan tempat tinggal kecerdasan-kecerdasan buatan yang—betapa pun pintarnya—tak akan pernah punya kelembutan etika dan keluhuran cita estetika seperti manusia biasa. Kota-kota yang tidak dibangun seperti Gotham City dalam kisah Batman, ketika manusia-manusia sudah kehilangan kemanusiaannya. Pencakar langit di mana-mana, jalan-jalan raya bertingkat-tingkat, dihiasai bangunan-bangunan raksasa yang konon berarsitektur masa depan, tapi telah kehilangan keindahan-alaminya: menekan, dingin, kelam, dan “mati”.

Saya bermimpi kota-kota dikembangkan untuk manusia-manusia biasa, keluarga-keluarga yang hangat, rukun-rukun tetangga yang akrab, yang mengembang secara organik sesuai kebutuhan hidup yang sebenarnya sederhana-sederhana saja. Yang rumah-rumahnya berdiri oleh dorongan untuk berkumpul hangat dengan keluarga, dengan tetangga, dengan siapa saja. Yang di dalamnya, kita bisa terus memelihara kemanusiaan kita, dari ancaman segala yang serba besar, serba banyak, serba tinggi, serba cepat, tapi justru menekannya. Serba batu, serba besi, serba raksasa. Menekan kemanusiaan yang sesungguhnya menyimpan kedahsyatan tak tepermanai, jauh mengatasi semua itu. Manusia yang “lebih besar dari hidup”, yang dunianya tak dibatasi oleh ruang tiga dimensi dan waktu yang memecah-mecah. Manusia yang sangup menerobos dunia rendah, terbang tinggi ke dunia keluhuran khayal yang real, ke dunia ruhani tanpa batas, ke dalam Keberlimpahan sempurna yang tak terperikan.

Saya bermimpi hidup di kota-kota kecil, tempat semua manusia adalah keluarga manusia yang lain. Di mana kehijauan dan keasrian alam mendapatkan tempat sebanyak-banyaknya. Di mana kecepatan, ketinggian, dan kebesaran tidak disembah seperti dewa. Saya bermimpi kedai-kedai hangat dan bersahaja lebih disukai ketimbang mal-mal atau emporium-emporium besar, sesak, dan bising, yang dikerumuni orang bukan karena hendak menghilangkan rasa lapar yang biasa, rasa letih yang manusiawi, atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang secukupnya, melainkan karena kepanikan melawan kesepian kehidupan. Ya, saya bermimpi kota-kota, dan desa-desa, yang ruang publiknya terserak di mana-mana. Ada gedung-gedung kesenian yang tak harus besar tapi aksesnya mudah dicapai siapa saja, ada galeri-galeri mungil, museum-museum yang ramah, perpustakaan-perpustakaan yang berlimpah, dan ada pusat-pusat hiburan yang sopan dan ramah keluarga.

Saya bermimpi bahwa semua medan kehidupan adalah sekolah. Karena sesungguhnya, manusia adalah bak benih, yang menyimpan segenap kesempurnaan dalam dirinya. Lemparlah begitu saja di tanah yang subur, siram seperlunya, rawat dengan penuh cinta, dia akan jadi tumbuhan yang segar, rimbun, dan mengeluarkan banyak bunga indah, serta buah-buahan bermanfaat yang berlimpah. Tak ada, memang, sekolah yang lebih baik dari lingkungan kehidupan yang baik, lingkungan manusia-manusia biasa. Tak ada sekolah yang bisa menggantikan sekolah kehidupan.

Saya bermimpi orang-orang sadar bahwa sesungguhnya sekolah-sekolah yang kita kenal hanyalah ban serep yang buruk, sebagus apa pun sekolah itu. Saya bermimpi melihat anak-anak yang tumbuh menjadi pintar, karena lulus dari universitas kehidupan seperti ini. Bukan hanya pintar karena gumpalan otaknya yang terus dirawat, tapi hatinya justru menjadi compang-camping. Bukan yang hanya diagul-agulkan setelah menjadi jawara olimpiade dan kompetisi sains dan matematika. Yang kreativitasnya mencuat ke mana-mana karena rehatnya pikiran, jiwa dan sukmanya. Yang budi-pekertinya mengembang sehingga menjadi seperti Tuhan. Mahabisa, tapi di atas semuanya juga mahabijak, dan mahakasih. Yang keahliannya lahir dirawat oleh vocation (panggilan jiwa), yang mendorongnya belajar terus ke mana-mana, yang profesionalismenya lahir dari cinta (passion) kepada pekerjaan dan konsumen karyanya. Anak-anak dan orang-orang yang sejahtera bukan karena banyak harta, yang tenteram bukan karena besar kuasa, yang menjulang bukan karena dikenal siapa saja. Yang luar biasa bukan karena menjadi super-manusia. Anak-anak yang bahagia karena hidup sebagai manusia.

 

NB:   Mimpi saya ini melayang sepulangnya saya menonton sebuah pertunjukan musikal kecil-sederhana, di suatu teater kecil sederhana—di antara beberapa teater besar, pusat pertunjukan, dan rumah opera yang tegak di area yang sama—di pinggir pantai suatu ibu kota suatu negara pulau jauh di selatan Indonesia. Kota nyaris tanpa pencakar langit, tanpa mal-mal raksasa. Juga setelah saya menyambangi perpustakaan-perpustakaan komunitas yang terserak di mana, mana. Setelah menikmati safari anjing laut, dan menyawang dari ketinggian pemandangan kota yang serba hijau, sejuk, bersih dan asri, yang saya datangi dengan naik trem listrik tanpa minyak. Pun setelah saya mengagumi museum geohistori planet kita yang dibuka gratis untuk siapa saja. Yang membuat anak saya berseru: “Kalau saja dulu begini cara kita belajar geografi …!” Dan … setelah saya berkerut dahi mempelajari konsep materi uji publik kurikulum baru di negeri kita.[]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *