Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 14 November 2017

HIKMAH – Salat dengan Iman dan Ihsan Menurut Ibn Arabi


27a76231dc573d369b5b78065411c9be--jean-leon-arabian-nights

islamindonesia.id – HIKMAH – Salat dengan Iman dan Ihsan Menurut Ibn Arabi

 

Tokoh tasawuf Ibn ‘Arabi berbicara tentang shalat dalam karyanya, Fushush Al-Hikam, melalui hadis Nabi Muhammad Saw yang terkenal: Ada tiga hal yang menjadi penyejuk mataku; perempuan, wewangian, dan salat. Tapi, yang paling aku sukai di antara ketiganya adalah salat.”

Salat merupakan kecintaan terbesar Nabi Saw. Karena amalan ini merupakan wahana pengalaman langsung akan Tuhan, penyaksian (musyâhadah) akan Allah, dan percakapan (munâjat) privat antara manusia dan Dia.

Dalam kaitan dengan hal yang disebut terakhir ini, Allah berfirman dalam suatu hadis qudsi mengenai Al-Fâtihah, sebagai berikut:

Aku membagi shalat antara Diriku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Satu bagian untuk-Ku dan satu bagian lagi untuk hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku, apa saja yang ia minta.

Ketika hamba-Ku berkata (waktu membaca Al-Fâtihah): ‘Dalam nama Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,’ Allah berkata: ‘Hamba-Ku memuji-Ku.’

Ketika hamba-Ku berkata: ‘Pujian bagi Allah, Rabb alam semesta,’ Tuhan berkata: ‘Hamba-Ku telah memuja-Ku.’

Ketika sang hamba berkata: ‘Yang Maha Pengasih lagi Penyayang,’ Tuhan berfirman: ‘Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.’

Ketika sang hamba berkata: ‘Penguasa Hari Pengadilan,’ Tuhan berfirman: ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku dan memberikan kekuasaan mutlak kepada-Ku.’”

Paruh pertama Al-Fâtihah ini adalah milik-Nya. Ayat kelima, yang berbunyi “Pada-Mu aku menghamba dan pada-Mu aku minta pertolongan”, adalah sejenis transisi antara bagian (Al-Fâtihah) yang untuk Tuhan dan bagian yang untuk manusia.

Nah, ayat keenam dan ketujuh adalah bagian manusia: “Ketika sang hamba berkata: ‘Tunjukilah aku jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang atasnya Engkau anugerahkan nikmat, bukan (jalannya orang-orang) yang Engkau murkai dan yang tersesat,’ Tuhan berfirman: Maka ayat-ayat ini adalah untuk hamba-Ku dan hamba-Ku dapat memperoleh apa saja yang ia kehendaki.’

Pada puncak pertemuan antara Tuhan dan hamba ini, seorang manusia—yang memiliki penglihatan batin (dhû bashar)—dapat “melihat Tuhan”. Bagi manusia seperti ini, salat berarti penyaksian (musyâhadah) dan visiun (ru’yah) akan Allah.

Orang-orang yang menegakkan salat seperti inilah yang dirujuk oleh ayat Al-Qur’an: “… yang memasang telinganya dan bersaksi”. Inilah orang-orang yang melaksanakan salat dengan iman dan ihsân—ia “melihat” Tuhan.[]

 

AL/ IslamIndonesia/ Sumber: Fushus Al-Hikam, karya Ibn ‘Arabi yang dikutip dan disarikan oleh Haidar Bagir dalam buku Buat Apa Shalat?, Mizania, 2007.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *