Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 26 August 2017

Wayang dan Tasawuf ‘Modern’ Hamka


Presiden Soeharto (membelakang) bersalaman dengan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Hamka dengan disaksikan Wakil Presiden Sri Sultan Hamengkubuwono IX (kanan) saat acara halal bihalal pejabat negara di Istana Negara, Jakarta, 1975. [TEMPO/ Syahrir Wahab; 020/204/1974; 02020401]

IslamIndonesia.id – Wayang dan Tasawuf ‘Modern’ Hamka

 

“Sesungguhnya aku tidaklah diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak.”–Hadis

 

Untuk memperkenalkan Islam kepada masyarakat, para pendakwah menggunakan beragam medium. Termasuk dengan menggunakan seni dan budaya. Ada wayang, kidung, sastra, syair, dan lain sebagainya.

Di Indonesia, khususnya pada zaman Walisongo, medium yang paling kental digunakan dan dirasakan dampaknya oleh warga hingga saat ini adalah medium berupa wayang. Dengan cara tersebut, masyarakat menjadi lebih mudah dalam memahami Islam, dan terbukti kini Indonesia menjadi negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Lebih dari sekadar wayang dan syiar Islam, tampaknya kehadiran wayang pun memberikan nilai-nilai positif yang jika ditilik lebih dalam, terkait juga dengan tasawuf, khususnya bila kita tilik pendapatnya Hamka yang ia sebut sebagai tasawuf modern.

Tak bisa dipungkiri, dalam pagelaran wayang yang dilakukan para Walisongo, tiket masuk yang dibebankan pada para pengunjung adalah dengan hanya menggunakan kalimat syahadatain. Ini lah yang kemudian menjadi cikal bakal tasawuf, dengan berpindahnya seseorang dari kondisi kurang baik kepada yang lebih baik, melalui jalan taubat (masuk Islam).

Hamka sendiri mendefiniskan tasawuf sebagai kehendak untuk memperbaiki budi dan men-“shifa’-kan (membersihkan batin)”. Ia menerima dan mengamalkan tasawuf sebagai jalan untuk mendekatkan diri pada Allah, selama ajarannya masih dalam koridor ke-Islam-an yang berdasar pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Kemudian ia pun mengkontekstualisasi dan menginterpretasikannya kembali hingga lebih mudah diterima oleh masyarakat modern.

Bukan tanpa alasan laki-laki yang bernama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah ini menamakan tasawufnya dengan istilah “modern”. Semakin berkembangnya zaman, semakin merajalelanya konsep tasawuf yang beragam, tampaknya Hamka menilai bahwa tasawuf tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang jauh dari dunia, dan berpijak pada zuhud. Sebab jika itu yang terjadi, Islam yang begitu jaya di masa lalu, kelak di masa depan justru terpuruk diakibatkan masyarakatnya yang menjauh dari urusan dunia. Hamka muncul dengan ide racikannya yang berasal dari ilmu tasawuf dan ahli filsafat dengan menawarkan solusi agar umat Islam tidak menyalah artikan zuhud yang harus meninggalkan dunia.

Sesungguhnya, ini pun selaras dengan konsep ajaran Islam yang disyiarkan para Walisongo. Mereka, dengan tanpa meninggalkan dunia (memimpin wilayah kerajaan dan bergelimang harta), tohnyatanya tetap menjaga nilai-nilai luhur tasawuf. Seperti sikap rendah hati, berpikir secara mendalam terhadap suatu peristiwa dengan tidak mudah menyalahkan golongan tertentu, memiliki nilai moralitas yang baik, dan yang terpenting adalah mengamalkan ajaran Islam sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah.

Konsep Islam yang disyiarkan Hamka dan Walisongo, tak ubahnya dengan apa yang diprioritaskan al-Ghazali dalam tasawuf. Yakni, akhlak menjadi inti dari Islam. Pun demikian dengan sabda Muhammad Saw, “Sesungguhnya aku tidaklah diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak.”

 

IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *