Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 02 November 2016

Tapa Pepe vs Demo 4 November: Aksi Protes Ala Jawa vs Demo Masa Kini


tapa-pepe-vs-demo-4-november-aksi-protes-ala-jawa-vs-demo-masa-kini

islamindonesia.id – Tapa Pepe vs Demo 4 November: Aksi Protes Ala Jawa vs Demo Masa Kini

 

Tiga hari ke depan, demo 4 November bakal digelar. Dari beragam pamflet yang beredar, diperkirakan peserta yang siap berpartisipasi turun ke jalan tak akan kurang dari setengah juta orang. Aksi massa ini adalah sebentuk cara penyampaian aspirasi dan tuntutan kepada penguasa, agar mengambil tindakan sesuai permintaan para demonstran. Hak yang dijamin sepenuhnya oleh undang-undang di sebuah negara yang menganut sistem demokrasi, di era modern seperti sekarang.

Tapi benarkah bahwa tradisi demonstrasi yang digelar untuk membangunkan penguasa yang tidur lelap mengabaikan kepentingan rakyat itu merupakan “barang impor” dari luar? Apakah leluhur Nusantara dulu sama sekali tak mengenal aksi protes semacam demonstrasi itu?

Langit Kresna Hariadi, yang menulis buku tentang Gajah Mada, patih Majapahit yang terkenal itu, sempat menyentil praktek aksi protes di era Majapahit. Ia menyebut tentang adanya tradisi pepe atau berjemur beramai-ramai untuk menyampaikan aspirasi kepada penguasa.

Dahulu, di masa Kerajaan Surakarta, misalnya, tradisi protes ini juga sudah dikenal. Kegiatan protes tidak hanya dilakukan secara berkelompok, tetapi juga secara perorangan. Tempat untuk menggelar aksi protes pun sudah disiapkan secara khusus. Biasanya tempat aksi protes, yang sering disebut “tapa-pepe”, sering dilakukan di alun-alun keraton.

Protes ini tidak dianggap “pembangkangan” terhadap raja. Sebab, dengan posisi raja sebagai “pengemban keadilan”—perwujudan Ratu Adil, maka aksi protes atau “tapa pepe” itu dianggap sah dan diakui sebagai hak dasar rakyat. Menariknya, sekalipun pelaku “tapa pepe” hanya perorangan, raja biasanya langsung merespon dengan memanggil dan menanyakan maksudnya.

Begitulah Tapa Pepe (lafal “e” seperti pada kata “enak”) merupakan demonstrasi asli warisan leluhur Nusantara. Sangat berbeda dengan demonstrasi modern yang kerap dilakukan oleh masyarakat melalui ormas ataupun mahasiswa Indonesia saat ini. Demonstrasi dan demokrasi memang dua hal yang tidak bisa dipisahkan, namun pada masa lalu tanpa demokrasi pun masyarakat sudah mengenal sebuah cara untuk protes kepada penguasa jika ada kebijakan atau ingin mendapatkan perhatian rajanya.

Demonstrasi jadul itupun jauh dari kekerasan dan keberingasan, karena demonstrasi jadul itu tidak membawa senjata, baik pentungan, parang, golok, apalagi megaphone maupun toa untuk berteriak-teriak tak karuan. Pada masa lalu, orang atau sekelompok orang yang ingin berdemo cukup datang ke alun-alun, kemudian melepas baju dan duduk bersila berdiam diri menghadap tepat ke arah kerajaan. Itulah mengapa demonstrasi jadul itu disebut “pepe” karena jika dialihbahasakan ke bahasa Indonesia, pepe berarti berjemur.

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, biasanya seorang penguasa atau raja yang menjumpai situasi ini akan langsung turun menemui atau meminta demonstran jadul itu untuk menghadap.

Itulah bedanya, ketika demonstrasi dilakukan dengan cara yang halus, hasilnya juga baik. Bandingkan dengan demonstrasi modern saat ini: berteriak-teriak, kadang anarkis. Maka penguasa pun membalas dengan meminta polisi (kebanyakan polisi muda yang masih mudah terpancing emosi) mengatur demostran itu. Hasilnya, kerusuhan.

Dengan mencermati tradisi tapa pepe, betapa sebenarnya banyak sekali tradisi asli warisan leluhur yang sebenarnya sarat mengandung pesan-pesan yang baik, dan khas Nusantara. Karena bagaimanapun leluhur Nusantara ini adalah orang-orang yang sangat mengenal karakteristik Nusantara, baik dari segi geografis maupun sosialnya. Maka akan sangat baik jika masyarakat Indonesia saat ini kembali menengok ke belakang, mempelajari kembali warisan-warisan leluhur sebagai modal menghadapi masa depan. Apalagi jika kita tahu, konon masyarakat Nusantara merupakan golongan ras manusia tertua, yang jika ditelusuri silsilahnya, akan sampai kepada Nabi Nuh as.

Maka alangkah baiknya bila kita tidak terlalu silau dengan modernitas yang ditawarkan negara-negara maju, karena sesungguhnya di dalam kehingar-bingaran modernitas mereka, terdapat kesunyian akan nilai-nilai, norma-norma, dan spiritualitas.

Banggalah menjadi Indonesia yang tetap menjunjung tinggi budaya dan tradisi leluhur Nusantara.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *