Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 01 June 2016

KHAS—Tafsir Sosial Manunggaling Kawula Gusti (1)


Tafsir Sosial Manunggaling Kawula Gusti

IslamIndonesia.id—Tafsir Sosial Manunggaling Kawula Gusti (1)

 

Beberapa bulan lalu, kita dikejutkan oleh berita pengakuan dari Jari bin Supardi (44), pengasuh Pondok Pesantren Kahuripan Ash-Shirot di Dusun Gempol, Desa Karangpakis, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur yang mengklaim dirinya sebagai nabi atau pertanda akhir zaman.

Jari mengaku mendapat wahyu pada tahun 2005 di daerah Brangkal-Mojokerto dan diangkat oleh Allah menjadi Nabi Isa dengan gelar Isa Habibullah. Saat itu, tutur Jari, dirinya sedang shalat. Pada saat sujud dia mendengar suara yang memanggil dirinya dengan panggilan Yasin sebanyak tujuh kali. Suara yang sama juga memanggilnya Isa Habibullah sebagai pertanda penunjukan dirinya menjadi utusan untuk meluruskan ajaran Nabi Muhammad SAW.

“Meski awalnya keberatan, namun akhirnya saya menyanggupi tugas tersebut,” kisah Jari.

Sejak itulah Jari rutin menggelar pengajian umum di pesantrennya. Tak hanya rakyat biasa, bahkan ada anggota Polri dan TNI yang menurutnya sudah menjadi pengikutnya.

“Saya bukanlah nabi penutup, tetapi nabi yang ditunjuk sebagai tanda-tanda akhir zaman untuk meluruskan syariat, thariqat, hakikat dan makrifat,” ujarnya. “Tak hanya masyarakat biasa, sejumlah aparat dari TNI maupun polisi  juga sering datang dan menanyakan hal ini kepada saya. Bahkan beberapa di antaranya rutin ikut pengajian dan tidak pernah satu pun yang menegur.”

Sepuluh tahun berlalu, status “kenabian” Jari sama sekali tak terganggu.

Belakangan, sempat pula tersiar kabar bahwa Jari sempat berkirim surat kepada beberapa tokoh ulama Jawa, yang isinya memaklumkan diri sebagai nabi atau pertanda akhir zaman, sekaligus permintaan restu atas statusnya tersebut kepada para ulama yang dikiriminya surat itu.

Selain KH Mustofa Bisri alias Gus Mus, Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun pun konon juga menjadi salah seorang penerima surat dari Jari. Tak ada yang tahu pasti apakah para tokoh itu telah membaca isi surat Jari. Tapi kata Jari, baik Gus Mus maupun Cak Nun, belum mengirim balasan atas surat yang dikirimkannya.

Belum lama ini dikabarkan bahwa Jari sudah mengaku salah dan sudah bertobat atas apa yang dilakukannya, kembali menjalani hidup normal, keluar dari aktivitas “kenabian” yang sudah sepuluh tahun lebih dilakoninya bersama para pengikutnya.

Kejadian unik ini kembali mengingatkan penulis pada peristiwa serupa beberapa tahun silam, saat Ahmad Mushaddeq melalui Al-Qiyadahnya juga mengaku dirinya seorang rasul. Sedangkan Lia Eden dan anaknya,  juga memproklamirkan diri mereka sebagai Mahdi akhir zaman.

Entah apakah ketiganya juga pernah berkirim surat kepada Cak Nun seperti halnya Jari atau tidak. Tapi yang jelas, saat itu Cak Nun sempat mempublish sebuah tulisan berjudul Rahasiakan Kenabianmu, yang seolah merupakan penyikapan pribadi “Kyai Mbeling” itu atas maraknya kemunculan nabi-nabi dan rasul-rasul baru (untuk tak mengatakannya palsu) kala itu.

Dalam tulisannya, Cak Nun pun lalu membandingkan mereka yang mengaku nabi dan rasul itu dengan Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar.

Cak Nun bilang, Al-Qiyadah kalah seram alias tak ada apa-apanya dibanding Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar. Ahmad Mushaddeq, pemimpin aliran itu, menyatakan bahwa dirinya adalah rasul. Sedangkan Al-Hallaj bahkan menemukan “Akulah Kebenaran”, dengan penegasan bahwa Kebenaran, al-Haq, yang dia maksud adalah Allah itu sendiri.

Cak Nun kemudian berkisah. Utusan para Wali menemui Siti Jenar untuk memanggil beliau menghadap pengadilan para Wali. Jenar, kabarnya, menjawab: “Syekh Siti Jenar tak ada. Yang ada hanya Allah.” Pulang balik, para utusan membawa “diplomasi” antara kedua belah pihak. Jawaban Jenar disampaikan dan utusan balik lagi kepada Jenar membawa kalimat: “Allah dipanggil menghadap para Wali.” Jenar menjawab: “Allah tidak ada, yang ada Syekh Siti Jenar.”

Proses berlanjut: “Allah dan Syekh Siti Jenar dipanggil menghadap para Wali.” “Allah dan Syekh Siti Jenar tak ada, yang ada Syekh Siti Jenar dan Allah”….

Di puncak teater teologi-teosofi ini nanti, Jenar dipenggal lehernya.

Sampai di situ, kita paham bahwa Cak Nun ingin menggambarkan, betapa tak sederhananya yang namanya urusan, bila sudah menyangkut kenabian dan apalagi bila sudah menyenggol soal ketuhanan. Pendek kata, sedikit saja salah langkah, bisa-bisa taruhannya nyawa melayang.

Hal inilah yang juga diakui Cak Nun dalam tulisan tersebut. Lebih dari persoalan kemunculan nabi dan rasul baru, betapa tak mudah memuaskan rasa penasaran banyak orang terkait pengakuan Al Hallaj dan misteri yang menyelimuti ajaran Manunggaling Kawula Gusti Syekh Siti Jenar hingga kini.

“Wilayah ini memang rawan,” aku Cak Nun dalam tulisannya. “Sering saya ‘nekat’ menjawab pertanyaan banyak orang dengan upaya agar berkurang kerawanannya.”

Bagaimana cara nekat yang dimaksud budayawan nyentrik asal Jombang ini dalam menjawab pertanyaan tergolong pelik itu?

Bersambung

EH/IslamIndonesia/Sumber: Rahasiakan Kenabianmu, Emha Ainun Nadjib

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *