Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 25 June 2017

Saatnya Mengenal Ketupat Lebih Dekat  


Saatnya Mengenal Ketupat Lebih Dekat

islamindonesia.id – Saatnya Mengenal Ketupat Lebih Dekat

 

Ketupat adalah salah satu makanan khas hari raya Idulfitri di Indonesia, terutama di tengah masyarakat Tanah Jawa. Tapi siapa sangka kuliner khas Lebaran yang terbuat dari beras berbalut anyaman daun kelapa muda (janur) ini ternyata memiliki makna tak sesederhana namanya.

Pada mulanya, ketupat diperkenalkan oleh Raden Mas Sahid, yang kita kenal sebagai Sunan Kalijaga. Ketupat kemudian, menurut H.J. de Graaf dalam Malay Annals, menjadi simbol perayaan hari raya umat Islam sejak masa pemerintahan Demak di bawah kepemimpinan Raden Patah di awal abad ke-15.

Upaya memperkenalkan ketupat –dengan dukungan para Walisongo— oleh kerajaan Islam pertama di Jawa ini menjadi salah satu cara untuk penyebaran agama Islam, serta membangun kekuatan politis dengan pendekatan kebudayaan agraris.

De Graaf menyebutkan, seperti dikutip dari Historia, bahwa penggunaan janur sebagai bungkus makanan ini menunjukkan identitas budaya pesisiran yang banyak ditumbuhi pohon kelapa. Pemilihan janur berwarna kuning kemudian dimaksudkan sebagai pembeda dari Timur Tengah dengan warna hijau, dan merah dari Asia Timur.

Selain sebagai identitas, janur diceritakan merupakan kependekan dari jatining nur, atau hati nurani. Janur kemudian dibentuk menjadi anyaman, yang merupakan simbol kompleksitas masyarakat Jawa.

Sementara beras, sebagai isinya melambangkan nafsu duniawi. Bukan hanya itu, beras menjadi upaya peralihan dari Dewi Sri yang dipuja sebagai dewi kesuburan, menjadi bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Maka ketupat menjadi simbol nafsu duniawi yang dibungkus oleh hati nurani.

Nama ketupat pun, berdasar kepercayaan masyarakat Jawa, berasal dari kata kupat yang merupakan parafrase ngaku lepat, mengaku bersalah. Hal ini sejalan dengan tradisi bermaafan atau halalbihalal yang menjadi ciri khas, kebiasaan yang dianjurkan setiap Idulfitri.

Bentuk ketupat menandakan empat penjuru mata angin, yang bermakna ke mana pun manusia pergi tidak boleh melupakan pancer (kiblat) sebagai arah salat, atau kiblat papat limo pancer.

Begitulah ketupat hingga kini bertahan, sebagai makanan khas hari raya, dan dikenal di berbagai daerah dengan nama dan bentuk yang berbeda-beda.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *