Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 10 March 2016

Riwayat Kampung Paseban (2)


riwayat-kampung-paseban-2

“Jangan keluar abis magrib lo ye! Ntar matelo kotok ayam,” kata Nyak Lime kepada anaknya, Dulo.

Lime adalah sapaan akrab orang Betawi untuk nama Halimah. Sedangkan Dulo atau Duloh adalah sapaan akrab untuk nama Abdullah.

Di lingkungan warga Betawi, anak-anak dididik untuk tidak keluar rumah saat matahari terbenam kecuali untuk shalat berjamaah di langgar atawa mushalla. Setelah shalat magrib berjamaah, biasanya dengan berpenerangan lampu tempel, mereka belajar mengaji dengan metode Baghdadi – kala itu belum ada metode Iqro’ – hingga waktu isya’ tiba.

Jika mereka tidak mau ke langgar, orang tua bakal melarang mereka keluar sama sekali sampai waktu subuh. Tidak tanggung-tanggung, mereka akan diancam dengan julukan ‘kotok ayam’, rabun ayam.

Kotok ayam biasanya juga digunakan untuk menjuluki serdadu Belande yang tidak berani mondar-mandir ke kampung Paseban, terutama saat malam tiba. Nyawa mereka terancam jika berani masuk ke kampung Paseban. Apalagi saat pendekar masih banyak di sana.

Guru pencak silat yang dianggap paling tersohor di zaman Belande di Paseban adalah Babe Mat Saleh. Padepokan Sinar Paseban yang didirikannya melahirkan banyak pendekar. Cucunya, Bang Cacang, mendirikan Takwa Betawi dan pernah terdaftar di Ikatan Pencak Silat Indonesia. Namun orang Paseban juga tidak semua yang berguru kepada Babe Mat Saleh. Babe Noar (Anwar), misalnya, adalah pendekar yang membawa masuk aliran Pengasinan ke kampung Paseban.

Lain halnya dengan Kyai Amir yang menggabungkan jurus-jurus tiga pendekar Betawi, Sabeni, Rahmat dan Sinding. Beliau menamakan perguruannya, Serasi. Kyai Amir menjadikan jurus-jurus tiga aliran pendekar menjadi tiga tingkat pendidikan. Pertama, tingkat dasar hingga khatam Rahmat. Kedua, tingkat menengah hingga khatam Sinding, dan ketiga, tingkat lanjutan hingga khatam Sabeni.

Sayangnya, hanya beberapa orang saja yang berhasil menyelesaikan pendidikan hingga jenjang Sabeni. Selain syarat yang berat, Kyai Amir bisa dikatakan wafat di usia muda pada akhir 90-an.

Pelanjut beliau saat ini, Bang Majid yang hijrah ke kampung sebelah, Gang Lontar. Sepeninggal Kyai Amir, bisa dikatakan dunia persilatan di Paseban mati suri.[]

… Bersambung.

Tom/IslamIndonesia

One response to “Riwayat Kampung Paseban (2)”

  1. Dimbro says:

    Ane dulu termasuk murid Buya Amir, di sakral sama anak beliau bang Affan. Mungkin bukan mati suri, karena memang Serasi lebih mengedepankan pelajaran Agama ketimbang Silat. bisa dibilang Silat Pelengkap dari PSM Serasi.

    Sosok Buya Amir memang sangat religius dan amat menjaga yang namanya syariat, pelajaran silat dari beliau memang lain dari yang lain, bukan ingin muridnya jago berkelahi tapi seorang yang lebih rendah hati dan mengedepankan pendekatan religi, karena kekuatan sesungguhnya bukan dari Ilmu silat tapi dari ketakwaannya.

    wasalam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *