Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 11 November 2015

REPORTASE – Bersama Rumi di Tepi Kali Tayu


DSCN5522

Ya imamarusli ya sanadi
Anta babullohi mu`tamadi
Wa bidunyaya waakhiroti
Ya Rasulullah khud biyadi….

Lantunan shalawat para hadirin malam itu disambut guyuran hujan. Hujan pertama yang sekian lama ditunggu tidak membuyarkan konsentrasi peserta pengajian budaya di Desa Sambiloto Kecamatan Tayu, Pati, Jawa Tengah. Lantunan kerinduan umat Nabi Muhammad Saw kepada kekasihnya itu serasa mendapat jawaban kala air hujan turun dengan derasnya.

DSCN5530Ngaji budaya dengan tema JogoKali dihelat masyarakat pesisir yang umumnya nelayan itu untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan dan mengkaji kembali filosofis sungai yang sudah memudar di masyarakat. Acara pekan kemarin itu didahului dengan bersih-bersih sampah sepanjang tepi sungai Bendokaton sampai Sambiroto yang ikuti berbagai kalangan.

“Orang selalu mencemaskan sampah, padahal Jalaluddin Rumi bilang di atas sampah kita bisa tumbuhkan mawar,” ujar Kiai Amin Budi Harjono selaku pembicara malam itu.

Kiai asal Semarang yang selalu berpeci hitam dengan bagian atas lancip yang dililit kain hitam itu, berharap ngaji budaya yang dilakukan bisa menumbuhkan mawar diatas tumpukan sampah, yaitu menggali dan menumbuhkan cinta ilahiah. “Cinta yang bisa merubah hal biadab menjadi beradab,” katanya.

Rasulullah berkata bahwa rukun dan suasana damai itu adalah suasana sorga yang diturunkan ke bumi, kata Kiai Budi. Sebaliknya suasana neraka yang ada di dunia adalah perkelahian, saling hujat dan bunuh-bunuhan.

Menungso kok paten-patenan, lha wong bakal mati dewek-dewek…kepie nalare!” di sambut tepuk riuh hadirin.

Manusia sekarang tinggal menuruti tradisi peradaban yang sudah dirancang pini sepuh (para pendahulu). Para pendahulu hidupnya selalu sibuk dan teratur. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi selalu ada yang dikerjakan, maka mereka tidak berpikir untuk menyakiti orang lain apalagi saling bunuh. Menurut Kiai Budi inilah mutiara-mutiara hidup yang tersimpana di desa-desa di pedalaman Nusantara.
DSCN5544Kiai Budi mengurai filosofis Caping atau penutup kepala yang biasanya dipakai petani; bahwa caping adalah simbol gunung, dan puncaknya adalah Tuhan yang Maha Tinggi. Namun caping jika dibalik serupa samudra, perlambang ciptaan Allah yang menerima curahan rahmat Tuhan. Curahan air dari gunung mengair melalui sungai menuju samudra, dan dari samudra menjadi hujan kemudian kembali ke gunung, dan begitu terus menerus.

“Dan manusialah sungai-sungai itu yang mengalirkan arus cinta antara Tuhan dan semesta. Maka jiwa manusia jangan dikotori karena akan megganggu sirkulasi cinta Ilahi. Sebagaimana kita jangan mengotori sungai dengan sampah,” katanya.

Dahulu kala rumah-rumah menghadap sungai dan sungai menjadi nadi kehidupan, makanya terjaga, lanjutnya. Namun sekarang sungai dibelakangi dan jadi tempat pembuangan sampah. Namun Kiai dengan penampilan khas ini yakin bahwa ketika ada pelaku ketimpangan alam pasti ada manusia-manusia penyeimbang, peduli kebersihan lingkungan. “Dan suatu saat sungai akan kembali menjadi nadi kehidupan.

Dalam setiap ceramahnya, Kiai Budi selalu meramunya dengan seni dan helatan budaya. Lantunan shalawat dan tabuhan rebana di iringi Tari Sufi, karya Jalaludin Rumi

Kiai Budi mengutip sabda Nabi, bahwa Rasulullah adalah perahu di lautan semesta raya. Maksudnya kalau umat terobang-ambing masalah naiklah ke perahu dan berpeganglah erat dengan agama, katanya.

“Ketika kita berkumpul kemudian melantunkan shalawat, kita sedang menyerap kepribadian Rasulullah. Yaitu Rasulullah yang peduli dan penuh rahmat (merujuk ayat al Quran Attaubah:126), bahagia dengan kebahagiaan orang lain dan bersedih dengan kesedihan orang lain,” katanya.

Kiai yang sering sepanggung dengan Emha Ainun Najib ini juga mengungkapkan peran penting Indonesia sebagai model Islam rahmatan lil Alamin. Karena negara-negara luar jika ingin belajar kerukunan datang ke Indonesia. Di nusantara ada ratusan suku, bahasa dan budaya dan dipisahkan oleh ratusan bahkan ribuan pulau namun rukun dan damai. Sedangkan di Timur Tengah perang tidak pernah berhenti. “Saudi berani menyerang dan menghancurkan tetangganya, Yaman, padahal bahasa dan agamanya sama.”

Sedangkan di Nusantara penjajah ratusan tahun berusaha mengadu domba antar anak bangsa, namun mereka gagal. Maka ketika sekarang muncul aliran yang sukanya mengkafirkan dan mebidahkan amalan kelompok lain, sebenarnya mereka ingin menghancurkan kebhinekaan yang ada.

“Sebenarnya mereka terlalu lemah untuk menghancurkan kerukunan nusantara yang sudah tercipta berabad-abad. Biaya berapapun dan selama apapun upaya mereka akan sia-sia menghancurkan peradaban dan kerukunan nusantara ini.”

IMG_8170Alumnus IAIN Walisongo itu menyebutkan satu tradisi penting Nusantara yaitu tradisi nyekar di kuburan, tabur bunga dan menghadiahi ahli kubur dengan doa dan bacaan Quran. Menurutnya, maksud dari tradisi ini adalah agar kita menghormati jasa orang tua dan pendahulu karena mereka sudah menjaga alam sehingga di wariskan ke kita saat ini. Mereka ibarat akar yang tak terlihat dan yang hidup adalah pohon yang tumbuh. Pohon tidak akan kuat dan tumbuh jika tidak ada akarnya.

Selain kajian, acara malam itu juga menampilkan keahlian pelukis setempat, Citra Dwi Kurniawan, yang sudah punya nama di kancah nasional dengan mengusung tema bersulang di air keruh. Juga alunan kecapi suling Sunda Kang Ujang, yang mampu mengkolaborasikan dengan nada dan lagu Jawa.

Tepat tengah malam selepas doa, acara malam itu pun di tutup dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

MA/IslamIndonesia

One response to “REPORTASE – Bersama Rumi di Tepi Kali Tayu”

  1. Fatkhul Majid says:

    #plukuthuk apik, ˆ⌣ˆ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *