Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 29 September 2018

Menak Amir Hamza, Kisah Berbahasa Jawa tentang Hamzah Bin Abdul-Muttalib tersedia secara Online


Hamzanama

islamindonesia.id – Menak Amir Hamza, Kisah Berbahasa Jawa tentang Hamzah Bin Abdul-Muttalib tersedia secara Online

 

Dua salinan Menak Amir Hamza, kisah berbahasa Jawa tentang Amir Hamza, paman Nabi Muhammad SAW – nama Amir Hamza mengacu kepada Hamzah bin Abdul-Muttalib, sekarang tersedia secara online berkat Proyek Digitalisasi Manuskrip Jawa dari Yogyakarta ( Javanese Manuscripts from Yogyakarta Digitisation Project).

Buku tersebut menceritakan kisah tentang perang dan asmara Amir Hamza, saat dia dan sahabat-sahabatnya berjuang melawan musuh-musuh Islam, pada masanya kisah tersebut populer di dunia Muslim. Kisah-kisah tersebut pada awalnya banyak ditemukan salinannya dalam bahasa Persia, yang lebih dikenal dengan sebutan Hamzanama. Hingga akhirnya pada tahun 1562 Kaisar Agung Mughal, Akbar, menugaskan untuk membuat salinannya yang disusun dalam satu jilid besar. Tugas tersebut baru selesai 15 tahun kemudian.

Hamzanama pada awalnya kemungkinan menyebar ke seluruh Asia Tenggara dalam bahasa Melayu, yang kemudian diterjemahkan ke bahasa daerah lainnya, termasuk Jawa, Bugis, dan Makasar. Bukti penyebarannya dikisahkan dalam sebuah episode terkenal tentang Kerajaan Malaka, Sulalat al-Salatin, atau Sejarah Melayu. Pada tahun 1511, suatu malam sebelum Malaka diserang oleh Portugis, para bangsawan, untuk membangkitkan keberanian, meminta Sultan Mahmud Shah untuk membacakan Hikayat Muhammad Hanafiah – sebuah kisah berdarah-darah tentang rangkaian pertempuran Muhammad Hanafiah, saudara tiri Hasan dan Husain (cucu Nabi), pada masa-masa awal Islam.

Sultan menguji ketetapan hati mereka dengan menyatakan bahwa mereka tidak pantas menerima kisah pejuang besar ini, dan sebagai gantinya menawarkan mereka untuk dibacakan Hikayat Amir Hamza, yang menurutnya lebih cocok untuk mereka. Tetapi para bangsawan Melayu memprotes dan bertahan, dan akhirnya Sultan Mahmud Shah mengabulkan permohonan mereka untuk dibacakan Hikayat Muhammad Hanafiah.

Sementara Hikayat Muhammad Hanafiah mungkin dikaitkan dengan nilai keberanian kelas atas dalam tradisi Melayu, kisah Amir Hamza ternyata lebih populer dalam sastra Jawa. Di Jawa, Amir Hamza dianggap sebagai pahlawan dan diberi gelar Jawa kuno, Menak, dan gelar ini sekarang diterapkan ke seluruh siklus kisah-kisah epik Islam, yang segera dilokalisasi sesuai dengan konvensi sastra Jawa. Dengan demikian dalam Menak Amir Hamza, juga dikisahkan tentang dua punakawan (sahabat), mereka yaitu Marmaya (yang mengacu kepada sahabat sehidup-semati Amir Hamza dalam Hamzanama, yaitu ‘Umar Umayya), dan Marmadi, seorang mentor dan pelayan licik pahlawan, sebagaimana sering dikisahkan dalam kisah-kisah pada wayang kulit.

Kedua manuskrip Jawa yang baru saja dibuat versi digitalnya, keduanya menceritakan kisah Menak Amir Hamza dalam bahasa Jawa, tetapi dalam dua skrip berbeda. MSS Jav 45  ditulis dalam aksara Jawa, berasal dari bahasa prototype India (Brahmi Selatan akhir), dan dibaca dari kiri ke kanan. Naskah ini disalin oleh Mas Ajĕng Wongsaleksana dari Jipang pada tanggal 9 Rabingulakir, dengan kronogram panca tri pandita jalma yang berarti ditulis pada tahun 1735 Jawa, atau sama dengan 4 Juni 1808 M. Teks ini ditulis dalam bentuk ayat dan terdiri dari 85 cantos.

Salah satu contoh halaman dalam  MSS Jav 45 yang sudah didgitalkan dan dapat diakses secara online.

Salah satu contoh halaman dalam MSS Jav 45 yang sudah didgitalkan dan dapat diakses secara online.

Naskah kedua dari Menak Amir Hamza adalah MSS Jav 72, ditulis dalam naskah pegon, yaitu aksara Arab dengan penambahan tujuh huruf yang mewakili bunyi konsonan yang diperlukan untuk bahasa Jawa tetapi tidak ditemukan dalam bahasa Arab, dan dengan demikian dibaca dari kanan ke kiri. Dua halaman pertama diatur dalam bingkai dekoratif yang dibatasi oleh tinta hitam, dengan dekorasi berlian yang ditumpangkan pada bingkai persegi panjang. Bentuk ini adalah bentuk khas dekorasi Jawa klasik yang berbingkai ganda, yang terdiri dari kumpulan elegan garis vertikal, horizontal, dan diagonal. Bingkai yang sangat mirip juga ditemukan dalam mushaf Al-Qur’an berbahasa Jawa yang berada di British Library, Add 12343.

Menak Amir Hamza  MSS Jav 72 dalam naskah pegon.

Menak Amir Hamza MSS Jav 72 dalam naskah pegon.

Salinan ketiga Menak Amir Hamza dari Yogyakarta yang akan menjadi koleksi British Library adalah Add. 12309, juga sedang didigitalkan sebagai bagian dari proyek yang sedang berlansung. Dari pengantarnya jelas bahwa buku ini ditulis untuk Ratu Ageng (sekitar 1730-1803), istri Sultan Hamengku Buwono I dan ibu dari Hamengku Buwono II, beberapa waktu setelah tahun 1792. Karena naskah ini mungkin adalah jilid terbesar dari seluruh naskah Jawa yang dikenal, terdiri dari lebih dari 3.000 halaman yang ditulis dalam naskah pegon, ada beberapa tantangan teknis yang harus diatasi sebelum salinan ini dapat tersedia online, tetapi mudah-mudahan dapat segera dapat terpublikasikan. Ikuti terus perkembangannya.

Menak Amir Hamza versi ketiga yang khusus dibuat untuk Ratu Ageng, istri Sultan Hamengku Buwono I. Terdiri lebih dari 3.000 halaman.

Menak Amir Hamza versi ketiga yang khusus dibuat untuk Ratu Ageng, istri Sultan Hamengku Buwono I. Terdiri lebih dari 3.000 halaman.

 

PH/IslamIndonesia/Sumber: British Library

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *