Satu Islam Untuk Semua

Monday, 05 November 2018

Makna Filosofis Pitutur Mbegegeg Ugeg-Ugeg Hemel-Hemel Sakdulito Langgeng


Makna Filosofis Pitutur Mbegegeg Ugeg-Ugeg Hemel-Hemel Sakdulito Langgeng

islamindonesia.id – Makna Filosofis Pitutur Mbegegeg Ugeg-Ugeg Hemel-Hemel Sakdulito Langgeng

 

Sang Hyang Ismaya yang banyak dikenal dengan nama Semar adalah salah satu sosok yang menampilkan potret kesederhanaan masyarakat Jawa. Dalam kisah pewayangan, Semar adalah nama batur (abdi) dari kesatria Pandawa yang bertugas mengasuh Pandawa, dan yang paling sering diiikuti adalah Raden Harjuno (Raden Janoko). Dalam setiap kemunculannya Semar selalu didampingi oleh putra-putranya yang tergabung dalam grup Ponokawan (yang kerap memancing tawa karena kekonyolannya).

Masih dalam banyak kisah pewayangan Jawa, Semar digambarkan sebagai seorang tua berwajah jelek, dengan hidung pesek, tetapi mempunyai kebijaksanaan yang sejajar dengan Bathara Kresna. Sedangkan dalam filosofi Jawa, Semar banyak digambarkan sebagai lurah yang adil dan bijaksana. Banyak pitutur luhur yang disampaikan Semar kepada para asuhannya (Pandawa).

Filosofi Semar mengajarkan kita untuk tidak melihat segala sesuatu dari luarnya saja, karena bisa jadi apa yang kita lihat tidak seperti apa yang kita bayangkan.

Pitutur luhur yang paling terkenal dari Semar adalah “Mbegegeg, Ugeg-Ugeg, Hemel-Hemel, Sakdulito, Langgeng” karena dalam setiap kemunculan Semar, kata inilah yang pertama muncul.

Bagi masyarakat Jawa zaman sekarang yang mungkin tidak terlalu memperhatikan, bisa jadi tidak akan paham arti dari kata-kata tersebut.

Secara sederhana, kata Mbegegeg berarti Diam, Ugeg-Ugeg berarti Bergerak, Hemel-Hemel berarti Makan, Sakdulito artinya hanya Sakdulit (sangat sedikit), dan Langgeng bisa bermakna Awet atau Berkah.

Pitutur yang mempunyai filosofi sangat luhur ini dalam bahasa Indonesia dapat diartikan, “Jika ingin makan, jangan hanya diam, tapi bergerak(bekerja)lah, biarpun sedikit jika itu hasil jerih payah dari kerja, maka akan membawa keberkahan dalam hidup.”

Pada masa sekarang yang serba instan, orang dididik untuk menjadikan segala sesuatu untuk dapat cepat diraih seringkali tanpa mempedulikan jalan yang diambil, bahkan sebagian orang tidak mau berusaha dan hanya menggantungkan diri kepada orang lain.

Maka filosofi “Mbegegeg, Ugeg-Ugeg, Hemel-Hemel, Sakdulito, Langgeng”, mengajarkan kita untuk bekerja dan berusaha untuk mendapatkan hasil yang bisa untuk menghidupi keluarga. Dengan kata lain,  jika kita ingin bisa makan (sejahtera/sukses) kita harus bekerja dan tidak berpangku tangan, walaupun hasilnya sedikit jika itu hasil dari pekerjaan dan usaha yang halal, insya Allah pasti akan mencukupi semua kebutuhan kita.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *