Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 02 September 2015

Majid Majidi, Singa Perfilman Iran


Majid Majidi Press Conference

“Kita semua bisa jadi ikut bersalah karena keterbatasan memperkenalkan sosok Nabi Muhammad saw yang sebenarnya. Sudah ada sekitar 200 film tentang Yesus Kristus, 100 film yang menampilkan Nabi Musa , 42 menceritakan Buddha, tapi hanya dua film saja tentang Nabi Muhammad saw.” Kata Majid Majidi sutradara film Muhammad: The Messenger of God dalam sebuah konferensi pers belum lama ini.

Tahun 2006, menyusul adanya kartun yang melecehkan pribadi agung Nabi Muhammad saw, Majid melakukan protes dengan menarik keikutsertaannya dalam Festival Film Denmark. Sejak saat itu ia bertekad membuat film yang, menurutnya, merepresentasikan kepribadian Sang Utusan Tuhan. Setelah empat tahun riset dan tiga tahun proses pengambilan gambar serta editing, Kamis lalu (27/8) film dengan anggaran $40 juta ini resmi diluncurkan di Montreal World Film Festival.

Majid (56) menyelesaikan studi di Institut Seni Drama di Teheran. Pada usia 14 tahun, ia telah memulai karirnya sebagai aktor drama. Sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979, Majid mulai tertarik dengan dunia film. Ia pernah menjadi pemeran, penulis, produser dan sutradara.

Tahun 1997, lewat karya mengharukan Children of Heaven, film bertema kasih sayang dua kakak beradik yang juga sempat tenar di Indonesia, Majid mendapat nominasi Academy Award untuk film berbahasa asing terbaik. Pada 2008, film Majid yang lain, The Song of Sparrows, mendapatkan penghargaan dengan menjadi tayangan pembuka pada Festival Film Internasional Visakhapatnam di India.

Terence Ward, penulis berkebangsaan Amerika Serikat dalam bukunya Searching For Hassan, mencatat pertemuannya yang menarik dengan Majid. Ketika Ward bertanya kenapa ia memilih media film untuk menyampaikan cerita-ceritanya, Majid menjawab, “Dalam film, saya bisa menyampaikan kepada dunia melalui bahasa yang universal. Ada banyak orang yang sedang mencari Tuhan. Mereka pergi ke masjid, ke gereja, ke sinagoge, dan mereka masih saja bertanya, ‘Di mana Dia?’ Saya yakin bahwa Tuhan ada di dalam diri setiap manusia.”

“Saat kanak-kanak,” dia melanjutkan, “saya selalu ingin menyentuh Tuhan. Jika seseorang ingin melihat Tuhan, suruh saja dia mencermati alam. Tokoh utama dalam dalam salah satu film saya (berjudul Color of God -penj.), bernama Muhammad, adalah seorang anak laki-laki yang buta. Pada suatu hari, saat kami mengambil gambar, dia menyentuh sebongkah batu kecil dan mengucapkan, ‘Tuhan.’ Saya menandai batu itu dan mencampurnya dengan batu-batu yang lain yang berukuran sama, lalu memintanya untuk memi­lih salah satu. Dia persis mengambil batu yang sama dan berkata, ‘Pak Majidi, nama Tuhan ada di sini. Aku akan mengambil batu ini dan menerjemahkannya untukmu.’

Ketika ditanya tentang pembuat film yang dia ka­gumi, Majid menjawab, “Film-film yang sarat pendidikan hanya meme­ngaruhi mereka yang terdidik. Film laga selalu laris, namun tidak akan bertahan lama. Karena itulah, para pembuat film yang menyasar hati, seperti John Ford, Hitchcock, Rosellini, dan Pasolini tidak pernah kehi­langan kekuatan.”

Majid jarang menggunakan aktor-aktor profe­sional; alih-alih, dia mengumpulkan pemain filmnya dari kehidupan nyata. Tema yang diusung selalu universal dan dapat dinikmati oleh penonton di seluruh dunia. Seperti pendongeng, Majid menggali hal-hal yang tersembunyi dalam rumah dan kehidupan sederhana lalu memperkenalkannnya dengan indah.

Dalam Muhammad: The Messenger of God, ia sedikit berbeda. Kali ini Majid menunjukkan kepiawaiannya mempersembahkan film kolosal yang tak lagi sederhana.

SB/berbagai sumber. Foto: AFP

2 responses to “Majid Majidi, Singa Perfilman Iran”

  1. najah fauzy says:

    Saya suka informasi/berita dalam situs ini,sangat bermanfaat.

  2. najah fauzy says:

    Berita/informasi dalam situs ini berimbang dan tidak memihak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *