Satu Islam Untuk Semua

Friday, 12 February 2016

LIPUTAN – Sufisme ‘Terancam’ di Pakistan


0,,17229454_303,00-2

Pakar Sufisme Eropa mengkhawatirkan masa depan keberagaman agama di tengah ekstremisme yang terus berkembang di Pakistan. Kini peran mistisisme Islam tidak lagi sebesar di masa lalu.

Sufisme, paham mistik dalam Islam untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, telah dipraktekkan selama berabad-abad dalam dunia Islam. Ilmu ini juga banyak mempengaruhi individu, filsuf, penulis serta ahli teologi di luar negara-negara Muslim.

Pakar ilmu sosial Jerman Jürgen Wasim Frembgen dan ahli sejarah Perancis Michel Boivin adalah dua akademisi yang telah meriset secara mendalam Sufisme, musik Sufi serta kuil Sufi di Pakistan.

Kedua pakar berbagi pikiran terkait semakin berkurangnya kebudayaan Sufi di Pakistan dalam sebuah acara di Goethe Institut di Karachi baru-baru ini. Frembgen, yang juga mengajar studi Islam di Universitas München, menyampaikan kekhawatirannya akan masa depan Sufisme di Pakistan yang terancam punah.

Sang akademisi memuji betapa plural dan inklusif setiap tempat ibadah Sufi di Pakistan. Frembgen menambahkan bahwa orang luar dan orang asing selalu diterima dan ditoleransi di tempat-tempat suci tersebut. Sufisme menyediakan jembatan bagi cinta, harmoni dan toleransi selama berabad-abad, katanya.

“Sufisme tidak memegang peranan penting lagi di tengah masyarakat Pakistan. Kami mengetahui bahwa sejumlah gerakan politik dan Islam garis keras tidak menyukai sufisme di Pakistan. Sufisme dinilai ‘haram’ atau terlarang dalam ideologi mereka,” ungkap Frembgen.

 

Pengaruh Wahhabisme

Pakistan, sebuah negara berpenduduk 170 juta lebih dengan mayoritas Islam Sunni, memiliki ratusan tempat suci yang didatangi para penganut Sufisme untuk mencari ketenangan batin. Namun lokasi ibadah tersebut juga menjadi target serangan teroris yang terus meningkat.

Pada festival Sufi tahunan di Karachi bulan Oktober lalu, jumlah peserta terlihat jauh lebih sedikit ketimbang tahun sebelumnya. Tempat suci Abdullah Shah Ghazi menjadi target dua pelaku bom bunuh diri 2 tahun lalu menewaskan 10 orang.

Para militan – kebanyakan dari kelompok Islam Wahhabi – menyerang beberapa tempat suci Sufi di banyak kota Pakistan dalam beberapa tahun terakhir, menewaskan sejumlah pengikut, yang sebagian besar anggota kelompok Islam minoritas Syiah atau mayoritas Sunni-Barelwi.

Ahli sejarah mengatakan bahwa baik Syiah maupun Barelwi meyakini interpretasi budaya Islam secara meluas dan mencari inspirasi dari orang-orang suci bangsa Persia dan Arab, yang berperan menyebarluaskan Islam ke seluruh sub benua India. Orang-orang suci Muslim tersebut juga banyak dicintai oleh penganut Hindu, Sikhisme, Kristen dan Yahudi di Asia Selatan. Namun banyak juga penganut Syiah dan Barelwi yang memuja mistik asal India dan mengunjungi tempat ibadah mereka.

Sebaliknya, penganut Wahhabisme yang jumlahnya lebih sedikit daripada Sunni, memuja ‘puritanisme’ dan menilai beribadah di tempat-tempat suci di luar keyakinan Islam bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Frembgen juga prihatin akan renovasi arsitektur sejumlah tempat suci Sufi di bawah pengaruh Wahhabisme. Ia menilai kecantikan artistik tempat-tempat suci tersebut telah ternoda oleh ubin keramik monoton yang menjadi bagian renovasi. Para pakar melihat perkembangan ini sebagai bukti bahwa semakin banyak warga Pakistan yang mengadopsi kebudayaan Wahhabisme.

 

0,,16340530_303,00-2

Optimisme

Tapi belum semuanya hilang, tegas akademisi Perancis Michel Boivin. “Tempat-tempat Sufi tidak hanya terancam tapi diserang di berbagai penjuru Pakistan, namun festival Sufi masih dihadiri banyak pengikut,” ucap Boivin.

Attiya Dawood, seorang penulis dan aktivis perdamaian, memandang kecintaan terhadap orang-orang suci telah mendarah daging bagi ratusan ribu warga Pakistan dan banyak yang datang ke tempat suci dan mendengarkan qawwali, atau musik Sufi.

“Taliban ingin menciptakan ketakutan di tengah masyarakat dengan menyerang tempat ibadah mereka sehingga dapat membatasi kebebasan dan mobilitas sosial,” tambahnya.

 

Sumber: http://m.dw.com/id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *