Satu Islam Untuk Semua

Friday, 23 September 2016

KHAS—Thukulan Jagad Ki Ageng Suryomentaram tentang Penyembahan kepada Yang Kuasa


thukulan-jagad-ki-ageng-suryomentaram

IslamIndonesia.id—Thukulan Jagad Ki Ageng Suryomentaram tentang Penyembahan kepada Yang Kuasa

 

Berbeda dengan kebanyakan orang, Ki Ageng Suryomentaram adalah seorang penempuh jalan spiritual yang menjadikan dirinya sendiri sebagai laboratorium penelitian, nyaris di sepanjang usianya.

[Baca: KHAS – Mengenal Sosok Guru Kawruh Begja, Ki Ageng Suryomentaram]

Kritik-kritiknya terhadap praktik keberagamaan masyarakat di sekitarnya sangat keras, namun dia tidak pernah melabeli wejangan-wejangannya sebagai ilmu agama, budi pekerti, atau apa saja yang mengandung perintah dan larangan.

Tapi dengan kerendahan hatinya, Ki Ageng justru mengistilahkan temuan-temuan hasil kontemplasinya itu hanya sekadar thukulan jagad, ibarat sesuatu yang thukul atau tumbuh di alam semesta tanpa bisa diklaim oleh sesiapa pun, termasuk juga oleh dirinya sendiri.

Terkait tentang Yang Maha Kuasa misalnya, kebanyakan orang akan terhenti pada pemahaman berdasarkan kata ini dan itu atau dugaan berdasarkan otak-atik logika, sehingga akan mandeg pada sebatas keyakinan belaka.

“Karena hanya menjadi keyakinan, maka orang pun bisa semau-maunya memperlakukan Yang Maha Kuasa,” demikian penegasan Ki Ageng.

Padahal Yang Maha Kuasa dalam pandangan Ki Ageng Suryomentaram, ternyata tidak hanya bisa dimakrifati, tetapi juga dapat diweruhi atau di-ru’yah-i sebagaimana ketika kanjeng Nabi Muhammad mi’raj.

Lalu bagaimana Ki Ageng memaknai keberadaan Yang Maha Kuasa?

Dalam salah satu thukulan jagad-nya, Ki Ageng menyebutkan bahwa salah satu ajaran kehidupan menerangkan bahwa rumah itu ada pembuatnya yakni manusia, maka bumi dan langit dengan semua isinya pasti ada juga pembuatnya, yaitu Yang Kuasa. Ia dinamakan Yang Kuasa sebab ia kuasa membuat apa saja yang tak mungkin dibuat oleh manusia. Bahkan Yang Kuasa itu pun memberikan hidup serta penghidupan jiwa dan raganya. Malah, anak, istri, dan suaminya juga pemberian Yang Kuasa. Angin, hujan, matahari dan lain-lain termasuk pemberian Yang Kuasa.

Oleh karena Yang Kuasa itu yang memberikan segala sesuatu, maka pantas sekali jika orang memohon dan menghaturkan terima kasih kepada-Nya. Andaikata ia tidak diberi matahari, betapa besarnya biaya langganan listrik yang harus dibayarnya. Oleh karenanya orang lalu menyembah dan memohon kepada Yang Kuasa.

Adapun cara menyembahnya berbagai macam. Ada yang dengan membakar dupa atau kemenyan di depan pohon besar. Ada yang memberi sesajen di jalan perempatan atau simpang empat. Ada yang memuja sesuatu dan sebagainya.

Pertanyaannya: apakah penyembahan yang dilakukan dengan tujuan semata menghaturkan terimakasih sudah cukup?

Menurut Ki Ageng, menyembah Yang Kuasa dengan menghaturkan terima kasih tidak selalu dapat dijalankan, karena pada waktu orang menderita sakit atau mengalami kesusahan, ia tidak yakin bahwa sakitnya dan kesusahannya itu pemberian Yang Kuasa, sehingga ia mengurungkan niatnya. Pikirnya, mustahil Yang Kuasa memberikan sakit dan kesusahan pada umatnya. Perbuatan itu bertentangan dengan kekuasaan-Nya yang bisa dianggap sewenang-wenang.

Apabila timbul masalah seperti di atas, orang lalu diberi penjelasan, bahwa pemberian yang lebih baik dari Yang Kuasa ialah setelah orang meninggal dunia. Apabila ia menyembah dengan sungguh hati, ia akan memperoleh kemuliaan abadi setelah mati.

Di sini maksud menyembah sudah berubah. Kalau maksud semula untuk menghaturkan terima kasih, sekarang untuk memperoleh kemuliaan setelah mati, dengan kata lain sebagai sogokan.

Lagi pula orang menderita kesusahan pada waktu sekarang, sabarkah ia menanti kemuliaan setelah mati? Tentu tidak, sebab daya upayanya mengatasi kesusahan belum habis.

Dalam persoalan di atas kepada orang itu diajarkan lagi, apabila ia benar-benar memohon sepenuh hati kepada Yang Kuasa, pasti akan dikabulkan keinginannya dalam hidupnya sekarang. Peribahasanya: siapa patuh akan dikaruniai.

Hal tersebut jika dipikirkan, jelas tidak nalar. Karena kalau semua permohonan bisa dikabulkan, jagat dengan semua isinya menjadi kacau. Misalnya petani mohon hujan, sedang pemain ketoprak mohon cuaca terang. Sulitlah dua macam permohonan yang bertentangan itu dilaksanakan. Maka menyembah demikian itu tidak masuk di akal.

Jadi, menyembah dengan maksud menghaturkan terima kasih, tidak dapat dilakukan bila orang sedang sakit atau susah. Menyembah dengan maksud memperoleh kemuliaan setelah mati, orang pasti tak sabar menanti. Menyembah dengan maksud agar dikabulkan permohonannya, pasti tidak dapat terkabul semua.

Lalu apa yang harus dilakukan agar manusia dapat menyembah dengan benar?
Adapun cara menyembah yang masuk di akal, menurut Ki Ageng ialah apabila orang mengerti hal-hal sebagai berikut:

Pertama, yang menyembah itu apa? Kedua, yang disembah itu apa? Ketiga, bagaimana cara menyembah yang benar?

Supaya jelas, ketiga hal tersebut perlu diteliti tanpa henti, sebelum manusia mati. Penelitian tanpa henti itulah yang nantinya akan melahirkan beragam thukulan jagad dalam setiap diri.

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *