Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 05 June 2016

KHAS–Tafsir Sosial Manunggaling Kawula Gusti (2)


20150915_omnipresence

Islamindonesia.id–Tafsir Sosial Manunggaling Kawula Gusti (2)

Salah satu cara agar masyarakat—utamanya kaum awam, agar lebih mudah memahami perilaku Al Hallaj dan Syekh Siti Jenar, menurutnya  adalah melalui penjelasan sederhana tentang karakterisasi Empat Khalifah; Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.

Abu Bakar as-Shiddiq khalifah pertama itu manusia kultural: dia memandang sesuatu, mendekatinya, mengapresiasinya, belajar memahaminya, melakukan pendekatan kultural untuk mendekati kebenaran dan “menemukan Tuhan”.

Umar bin Khattab manusia radikal: dia memerlukan semacam benturan untuk menemukan kebenaran dan menyadari kehadiran Tuhan.

Utsman bin Affan manusia timbangan: tawazzun dengan rasio, kalkulasi, simulasi, untuk memperoleh resultan atau sintesis di titik tengah kebenaran Tuhan.

Sementara Ali bin Abi Thalib, tidak memerlukan ketiga metode itu. Artinya, kalau pandangan Ali hinggap pada daun, yang tampak olehnya adalah Allah; kalau bunyi menyentuh gendang telinganya, yang terdengar olehnya adalah Allah. Ali tidak bisa menemukan apa pun kecuali Allah, karena selain Allah hanya seakan-akan ada—inilah yang kelak membuat para fisikawan dan biolog pun sibuk menggeremat menjelaskan hal itu.

Dengan pemahaman serupa Ali itu, lanjut Cak Nun, maka wujud ini, badan ini, fisik ini, besi atau daging dan apa pun, bahkan cahaya: semua itu bukan benda, melainkan sekadar simptoma yang untuk sementara disepakati sebagai benda. Kalau pakai persepsi linier, kita menyimpulkan: bagi Ali gunung adalah Allah, sungai adalah Allah, dedaunan, debu, langit, tak terkecuali kecebong dan bahkan gathul pun “adalah” Allah.

Kita tak berani bilang Ali murtad, penganut Wahdatul Wujud, Manunggaling Kawula lan Gusti. Karena dalam sebuah majelis yang segar, penuh humor namun cerdas, sesudah Rasulullah Muhammad SAW “menguji” ketercerahan akal Ali dengan suatu “drama” komikal yang jenaka namun tak bisa saya kisahkan di sini, Rasulullah menyatakan betapa cerdas dan terbimbingnya akal Ali. Maka, kata Rasul, Ali adalah Babul ‘Ilmi, Pintunya Ilmu Pengetahuan. Meskipun kemudian cerah akalnya Ali dituntun Allah juga untuk mengucapkan “pidato balasan”: ke manakah langkahmu pergi sesudah kau lewati pintu ilmu, kecuali masuk ke dalam Kota Ilmu? Rasulullah lah kota ilmu itu bagimu. Begitu kata Ali.

Andaikan saja pengalaman spiritual, penemuan teosofis, dan pandangan teologis dilindungi oleh pelakunya jangan sampai tampil dalam konteks eksistensi, melainkan membumikan dirinya melalui tafsir dan aplikasi sosial. Maka, kalau engkau yakin bahwa engkau nabi, sudahlah, tolonglah saja dunia ini, selamatkanlah manusia, terutama manusia Indonesia yang sudah mencapai puncak kebingungan, keputus-asaan, kebebalan, kekosongan, kehilangan—tak penting sama sekali orang mengerti kita nabi atau bukan.

Tentu engkau bebas merdeka menjadi siapa pun, tapi mengalahlah, pilih pekerjaan menolong sajalah dalam peta kehidupan bernegara ini. Bikinlah kesepakatan dengan Tuhan untuk secepat mungkin memusnahkan penjahat-penjahat negara ini yang terus merajalela mengisap darah rakyat dan memboros-boroskan harta alam Nusantara.

Umpama engkau menemukan lubuk makna sangat mendalam secara sangat pribadi dari “Manunggaling Kawula lan Gusti”, menyatunya hamba dengan Tuhan, umpamanya, maka sebaiknya rahasiakanlah. Rakyat pusing cari makan dan bayar sekolah anaknya, jangan tambahi persoalan dengan suruh berpikir tentang nabi, Tuhan, Al ini Al itu.

Tafsirkan saja secara sosial bahwa “Manunggaling Kawula lan Gusti” adalah menyatunya Tuhan dengan rakyat di dalam kalbu dan akal sehat para Pemimpin. Sehingga Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, Menteri, Wakil Rakyat, Presiden, tidak akan pernah memisahkan “pernikahan” antara kepentingan rakyatnya dan kasih sayang Tuhan.

Jika semua itu berhasil mereka amalkan, maka secara otomatis mereka tak akan melakukan tindakan yang menyakiti rakyat, karena Tuhan pasti marah. Mereka juga tak akan menyakiti hati Tuhan, karena lambat atau cepat, apa yang dilakukannya tak mustahil akan menghasilkan pergolakan rakyat.

EH/IslamIndonesia/Sumber: Rahasiakan Kenabianmu, Emha Ainun Nadjib

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *