Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 29 September 2016

KHAS—Siapa Sejatinya Pandawa dan Kurawa dalam Dakwah Walisongo? Ini Kata Gus Mus


siapa-sejatinya-pandawa-dan-kurawa-dalam-dakwah-walisongo-ini-kata-gus-mus

IslamIndonesia.id—Siapa Sejatinya Pandawa dan Kurawa dalam Dakwah Walisongo? Ini Kata Gus Mus

 

Mengenai prinsip dan etika dakwah yang ramah dan beradab, KH Ahmad Mustofa Bisri mengutip simbolisasi yang ada di dunia pewayangan. Jamak diketahui, wayang adalah salah satu di antara seni budaya lokal yang digunakan Walisongo untuk media dakwah.

Meski sebagian ceritanya dari Mahabharata, wayang mampu dielaborasi oleh para Wali dengan memasukan banyak nilai-nilai luhur kebijaksanaan Islam.

Gus Mus menyontohkan, kisah konflik antara Pandawa dan Kurawa. Jika dipahami dengan jernih, menurutnya Pandawa dan Kurawa itu sejatinya bukanlah simbol untuk menggambarkan secara berlawanan antara golongan yang baik dan buruk.

“Dari sudut pandang kemanusiaan, Pandawa adalah simbol dari golongan yang telah mencapai kebenaran, atau dalam istilah tasawuf, mereka sudah wushul ila al-Khaqq. Sedangkan Kurawa menyimbolkan golongan yang masih berproses atau mencari, bergerak dan menuju kebenaran,” terang Gus Mus, sapaan akrab KH Ahmad Mustofa Bisri di hadapan rombongan Ekspedisi Islam Nusantara beberapa bulan lalu.

Oleh karena itu, lanjut Gus Mus, seburuk-buruknya tindakan dan sikap orang lain yang tampak di mata kita, ia tidak bisa serta-merta dianggap musuh yang harus diperangi. Tetapi sebenarnya ia masih berpotensi untuk menjadi baik. Ia masih berproses dan bergerak mendekati kebaikan.

Gus Mus menguatkan pandangan ini dengan mendasarkannya pada sejarah Islam periode awal. Menurut pengasuh Pesantren Raudlatuh Tholibin Rembang ini, betapa banyak musuh Islam atau mereka yang semula adalah orang-orang “kurawa” pada akhirnya justru berubah menjadi pembela Islam.

Untuk itulah Gus Mus menekankan bahwa dalam berdakwah memang dibutuhkan kebesaran jiwa, kesabaran, dan penghargaan yang tinggi terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Agar semua orang, terutama para pendakwah, tidak merasa sebagai pihak yang paling benar dan paling berhak mengklaim kebenaran lalu dengan sembarangan memandang rendah dan hina pihak lain.

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *