Satu Islam Untuk Semua

Monday, 05 September 2016

KHAS—Pesan Kiai Semar Kepada Penguasa: Ojo Na Ni Nu Ne No


Pesan Kiai Semar Kepada Penguasa Ojo Na Ni Nu Ne No

IslamIndonesia.id—Pesan Kiai Semar Kepada Penguasa: Ojo Na Ni Nu Ne No

 

Sebuah negeri dapat disebut Gemah Ripah Loh Jinawi dan Titi Tentrem Kerto Raharjo, bila di tengah karunia kesuburan alamnya, manusia atau rakyat yang hidup di negeri itu berada dalam ketenteraman,  kemakmuran dan kesejahteraan.

Di antara sekian banyak syarat yang mesti dipenuhi agar sebuah negeri mencapai taraf Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur, peran pemimpin dan penguasa di negeri itu adalah salah satu yang terpenting diperhatikan.

Karena itulah Kiai Semar dalam banyak kesempatan selalu mewanti-wanti agar para petinggi negeri yang di pundak mereka teremban amanah rakyatnya, mesti bersikap lebih hati-hati agar tidak menjerumuskan negeri dan rakyatnya ke dalam jurang kesengsaraan dan kutukan Gusti Kang Murbeng Dumadi.

Di antara pesan-pesan pentingnya, maka khusus kepada para penguasa, Kiai Semar menitipkan 5 pesan yang dirangkumnya dalam satu kalimat, yaitu “Ojo Na Ni Nu Ne No”.

Apa yang dimaksud dengan Ojo Na Ni Nu Ne No?

Pertama, Ojo Nakal atau Jangan Nakal. Maksudnya, semua pemimpin negeri yang telah dipercaya rakyat untuk memimpin, hendaknya jangan sampai berbuat nakal, yakni bertabiat jahat, culas, dan curang, terhadap rakyat yang dipimpinnya.

Kedua, Ojo Nipu atau Jangan Menipu dan Berbohong. Maksudnya, semua pemimpin negeri yang sejak awal telah dipercaya rakyat untuk memangku jabatannya, hendaknya jangan justru malah gemar menipu dan suka berbohong terhadap rakyatnya. Karena akibat dari kebohongan itu tidak hanya akan menimpa dirinya tapi juga akan berpengaruh besar bagi rakyatnya.

Ketiga, Ojo Nuduh atau Jangan Menuduh. Maksudnya, semua pemimpin negeri ini jangan suka menuduh yang bukan-bukan terhadap rakyatnya, sebab rakyat itu pada dasarnya setyo ing pandum, siap setia kepada para pemimpinnya yang bisa dipercaya.

Keempat, Ojo Nelikung atau Jangan Memotong Jalan yang Sudah Benar. Maksudnya, semua pemimpin negeri hendaknya jangan suka menelikung, atau memotong jalan yang sudah benar terkait kewajiban-kewajiban, tugas, dan tanggung jawab negara yang harus ditunaikan terhadap rakyatnya. Artinya, jangan sampai para pemimpin dan penguasa justru berlaku korupsi, mengambil hak-hak negara dan hak-hak rakyat, memotong subsidi, sehingga menambah beban penderitaan rakyat. Jangan sampai pula dengan kekuasaan yang ada di tangannya, para penguasa ini justru getol main kongkalikong dengan para pengembang dan pengusaha untuk sekadar membuat proyek akal-akalan yang akibatnya hanya akan merugikan negara dan rakyatnya.

Kelima, Ojo Noto Anging Ora Tumoto atau Jangan Menata Tapi Tidak Tertata. Maksudnya, semua pemimpin negeri jangan sampai asal-asalan dalam membuat peraturan, tapi peraturan-peraturan itu kemudian saling bertentangan, merugikan negaranya, merugikan bangsanya, merugikan rakyatnya, bahkan seringkali justru kerap dilanggarnya sendiri. Jika ini sampai terjadi, maka mustahil hukum dan keadilan bakal bisa ditegakkan di negeri itu.

Itulah 5 pesan Kiai Semar kepada para penguasa dan pemimpin negeri, yang meski sekilas tampak sederhana, namun patut kita renungkan kedalaman maknanya. Karena sekadar mendambakan sebuah negeri yang aman, adil dan makmur-sejahtera tanpa memenuhi kelima syarat penting di atas, akan menjadi sebatas impian yang bakal sulit menjadi nyata.

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *