Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 25 June 2016

KHAS – Cak Nun: ‘Kepemimpinan Membutuhkan Sosok Insan Kamil’


DSC_1578

IslamIndonesia.id – Cak Nun: ‘Kepemimpinan Membutuhkan Sosok Insan Kamil’

 

Bagi budayawan Emha Ainun Najib, sosok Punakawan dalam wayang yang dikenal Bagong itu  merupakan bayangan Semar itu sendiri. Karena seluruh kelengkapan insan kamil (manusia seutuhnya) yang disimbolkan dengan sosok Semar tidak cukup dengan Gareng dan Petruk. Oleh sebab itu, menurut pria yang akrab disapa Cak Nun ini, Sunan Kalijaga menciptakan sosok Bagong yang merupakan refleksi dari semar sendiri.

Jika ditarik garis, Semar yang merupakan simbol insan kamil ini bagaikan garis melingkar. Ia di atas sebagai dewa dan juga di bawah sebagai wong cilik (rakyat kecil). Gareng diciptakan sebagai dasar filosofinya,  aktivis akdemiknya Petruk, dan budayawanya adalah Bagong.

“Kalau diskusi politik dengan Petruk, dia yang paling mengerti,” kata Cak Nun lepas menyaksikan pementasan wayang ‘dramatik reading’ bertajuk ‘Mencari Buah Simalakama’ di Mocopat Syafaat, Yogyakarta, 17 Juni.

Meski demikian, ada sindiran yang menyatakan bahwa untuk memimpin rakyat jadi Petruk saja tidak cukup. Kepemimpinan, lanjut Cak Nun, membutuhkan sosok Semar alias insan kamil. “Karena Semar itu ya mbahnya (moyang) semua dewa. Meski demikian, Semar juga adalah wong cilik yang paling cilik. Anda memiliki kemungkinan (menjadi) salah satu atau keduanya. Dan itulah Muhammad, dimana dia adalah nabi yang paling utama, namun ia juga wong cilik yang paling jelata. Itu karena pilihan (Muhammad sendiri) untuk menjadi jelata.”

Cak Nun pun mengajak generasi muda untuk lebih akrab dengan wacana warisan para leluhur ini dengan mempelajari simbol-simbol yang lahir dari kebudayaan sejak berabad-abad lamanya itu. Pria kelahiran Jombang ini lalu mengingatkan pentingnya simbol dengan menjelaskan ayat Al-Qur’an dimana Allah senantiasa memberi simbol seperti pohon dan nyamuk sebagai perumpamaan.

“Kalau Anda tidak memakai simbol, tidak akan ketemu kenyataan. Maka agama tidak dapat dilaksanakan tanpa kebudayaan,” kata Cak Nun lalu menantang hadirin untuk membuang semua unsur budaya dari Masjid dan rutinias agama seperti shalat mulai besok. Jika seluruh unsur budaya dihilangkan seperti peci dan sarung,  Cak Nun dengan canda menantang hadirin untuk shalat hanya menggunakan daun kelapa.

Nah, di sinilah urgensi Bagong sebagaimana pentingnya kebudayaan, kata Cak Nun. Filsafat tidak tidak akan berguna jika tidak menjadi ilmu, dan ilmu juga tidak akan bisa jika tidak jadi laku (akhlak/syariat), dan laku tidak bisa tanpa budaya. []

 

YS/IslamIndonesia. Foto: Agus Setiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *