Satu Islam Untuk Semua

Friday, 24 June 2016

KHAS – Cak Nun: Dewa itu Hasil Ijtihad Orang Timur Mencari Tuhan


sddefault

IslamIndonesia.id – Cak Nun: Dewa itu hasil Ijtihad orang Timur yang Mencari Tuhan

 

Di depan ribuan jamaah Maiyah yang memadati pekarangan TK Alhamdulillah Bantul, Cak Nun menjelaskan bahwa Semar itu gagasan Jawa-Islam tentang Insan Kamil atau manusia seutuhnya. Di dalam Semar itu, ada raja, wong cilik (rakyat kecil), dewa dll.

“Dewa itu siapa? Dewa itu hasil dari orang Timur yang berijtihad mencari Tuhan,” kata Cak Nun lepas menyaksikan pementasan wayang ‘dramatik reading’ bertajuk ‘Mencari Buah Simalakama’ di Mocopat Syafaat, Yogyakarta, 17 Juni.

Penulis buku ‘Slilit Sang Kiai’ ini lalu menjelaskan awal mula manusia (Jawa) dalam sejarah kebudayaannya. Awalnya manusia tidak mungkin menemukan Tuhannya secara langsung. Namun yang pertama ia temukan, misalnya angin, lalu ia berkesimpulan ada pengaturnya yang disebut dewa angin. Di Jawa, ada yang menemukan pengatur abu vulkanik itu Mbah Petruk, Kiai Gringsing sebagai pengatur lahar  dan Sayyid Jumadil Kubra yang membawahi teritorial Merapi.

“Jadi orang Jawa itu mencari,” katanya sambil menjelaskan tokoh pewayangan seperti Betoro Guru sebagai fenomenologi pencarian manusia Jawa dalam sejarah kebudayan sejak beradab-abad lalu.

Untuk sampai puncaknya, lanjut Cak Nun,  dibutuhkan informasi dari Tuhan itu sendiri dengan alasan kita tidak mungkin langsung bisa mengetahui Diri-Nya. “Kecuali Tuhan yang memberi tahu kita; Aku ini Allah, sifat-Ku rahman, rahim, …”

Nah, agama bagi Cak Nun adalah informasi dari Allah tentang kehidupan, tujuan dan asal usulnya. Sayangnya Al-Qur’an tidak diprioritaskan sebagai sumber informasi ilmu, tapi hanya dipakai sebagai dogma menghakimi orang lain.

“Hanya dipakai untuk meden-medeni (menakut-nakuti) secara hukum. Kamu salah, bid’ah, sesat, kafir…,” katanya sembari menyindir orang yang meninggalkan Gusti Allah hanya untuk mencari surga.

Seperti diketahui, pewayangan tidak lepas dari Mahabarata dan Ramayana. Keduanya merupakan cerita besar tentang filsafat hidup dan konstelasi sejarah manusia. Epik dari India, kata Cak Nun, yang dulu merupakan bagian provinsi dari kita.

“Yang suka nulis dulu itu orang dari daerah India. (Lalu) kita suruh nulis mengenai mbah-mbah (moyang) kita. Dari India dikembalikan ke kita dan diceritakan antara lain dengan menggunakan wayang.”

Selain bisa menceritakan Ramayana dan Mahabarata, wayang juga bisa dipakai menceritakan apa saja. Adapun di dalam Mahabarata asli, tidak ada sosok Punakawan yang merupakan modifikasi Sunan Kalijaga. Karena, kata Cak Nun, yang kita suruh tulis di India itu kurang lengkap.

“Yang ditulis cuman raja-raja dan struktur politik. Tapi tidak meneyeluruh tentang manusia, maka para wali menciptakan karakter lain yang disebut Punawakan,” katanya sambil mengurai sosok Semar, Petruk, Gareng dan Bagong.

Malam itu, sebagaimana pengamatan IslamIndonesia, pementasan wayang berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam. Sejumlah teaterawan  senior Yogyakarta tampil memerankan sejumlah tokoh Punakawan. Dengan gaya khas masing-masing tokoh, wayang yang bertajuk ‘Mencari Buah Simalakama’ ini berbicara tentang fenomena yang sedang terjadi di Indonesia.

“Buah simalakama itu kan dimakan bapak mati, tidak dimakan ibu mati. Saya membayangkan ‘bapak’ itu pemerintah kita ini, dan ibu itu alam (tanah air) yang memberi kita kehidupan. Saat ini bapak dan ibu ini sedang tidak akur, bertentangan terus. Nah, kita, rakyat sebagai anak dihadapkan untuk memilih bapak atau ibu.” kata Simon, salah satu penulis naskah.

Sebetulnya tanpa ‘bapak’, kata Simon, kita juga bisa hidup dari alam yang berlimpah ruah ini. “Malah justru dari adanya pemerintah hidup justru jadi sulit,” katanya disambut tawa dan tepuk tangan oleh hadirin. []

 

YS/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *