Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 05 July 2018

Haedar Nashir: Muhammadiyah Bukan Organisasi Anti Kebudayaan


IMG_819699

islamindonesia.id – Haedar Nashir: Muhammadiyah Bukan Organisasi Anti Kebudayaan

 

 

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menepis anggapan umum bahwa organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini anti terhadap kebudayaan. Muhammadiyah, kata Haedar, justru melakuka kerja kebudayaan sejak didirikan pada 1912.

“Awalnya, Suara Muhammadiyah berbahasa Jawa dan sejak 1923 mengembangkan bahasa Melayu,” kata Haedar dalam Seminar dan Diskusi Kebudayaan yang digelar di Grha Suara Muhammadiyah pada Senin (2/7) seperti dilansir laman Muhammadiyah.or.id. “Ini bentuk kebudayaan.”

Jika Kongres Pemuda yang dianggap tonggak menjadikan bahasa Melayu atau Indonesia sebagai bahasa persatuan itu lahir 1928, Suara Muhammadiyah telah memulainya jauh sebelum Kongres terjadi. Ketika mendirikan Suara Muhammadiyah pada  1915, menurut Haedar, organisasi ini telah melakukan aktualisasi dari salah satu wujud kebudayaan.

Bahkan sejak Muhammadiyah berdiri, Kiai Dahlan mempelopori pendidikan modern yang juga merupakan kerja kebudayaan.  Demikian juga ketika mendirikan Aisyiyah didirkan pada 1917 dan menjadi pelopor Kongres Perempuan yang juga merupakan kegiatan kebudayaan.

“Muhammadiyah dalam urusan akidah dan ibadah sesuai dengan yang digariskan oleh Quran dan Hadis,” ujarnya. Di luar itu, Muhammadiyah melakukan kreativitas dan dinamisasi. Di sinilah pentingnya memilah antara wilayah yang harus paten dan wilayah yang butuh dinamisasi. “Wilayah kebudayaan jangan dicampur aduk dengan urusan keagamaan.”

Pada Milad Muhammadiyah ke-105, November silam, organisasi ini menggelar rangkaian acara di Pagelaran Keraton Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Hedar bilang, setelah dirinya mempelajari setiap pakem budaya yang ada di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, ternyata selalu dijumpai makna di balik pakem. Makna budaya ini sering tidak dimengerti masyarakat.

Pria 59 tahun ini mencontohkan sisi harmoni bangunan keraton yang menggambarkan arsitektur dulu bukan hanya sekedar pekerjaan profesi. “Tetapi ada suasana kebatinan yang menyatu dengan keselarasan alam, kemudian keselarasan yang di atas (Tuhan) dan sebagainya,” katanya.

 

 

 

 

YS/Islamindonesia/Foto: Muhammadiyah.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *