Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 17 July 2016

Di Desa Tempat Wudhu Sunan Kalijaga, Festival Seni Religi Resmi Dimulai


photo_2016-07-17_00-24-31

IslamIndonesia.id – Di Desa Tempat Wudhu Sunan Kalijaga, Festival Seni Religi Resmi Dimulai

Festival Kesenian Religius di Desa Wisata Grogol, Sleman, Yogyakarta resmi dimulai, Jum’at, 15/7. Festival yang diikuti oleh 17 grup kesenian religi dari berbagai daerah ini diadakan dalam rangka melestarikan tradisi seni religius kerakyatan khususnya yang ada di Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

“Untuk melestarikan dan mengembangkan tradisi seni religius kerakyatan khususnya yang bersifat religius dalam bingkai kearifan lokal dan dalam rangka mendukung Yogyakarta Istimewa,” kata penyelenggara, Ibu Uut dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman, 15/7

Selain itu, festival merupakan upaya untuk membangkitkan kembali grup-grup seni religius di tengah tantangan arus globalisasi.  Karena itu, meski diadakan hanya dua malam, kegiatan seperti ini diharapkan menjadi bagian dari ruang gerak dalam berekspresi bagi seniman-seniman religius.

“(Kesenian kami) mengangkat sejarah perkembangan Islam di Indonesia khususnya perjalanan Wali Songo yang menyebarkan Islam dengan damai dalam berbagai cara, baik lewat seni, budaya, politik, perdagangan hingga peperangan,” kata salah satu grup kesenian ‘Kubro Siswo Fajar Mudho’ menjelaskan sejarah dan makna kesenian daerahnya sebelum para penarinya tampil.

photo_2016-07-17_00-27-38

Dari pantauan IslamIndonesia, arena festival yang dipadati pengunjung dari berbagai usia dan daerah itu juga dihadiri sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat. Menurut penyelenggara, alasan diadakan di Desa Wisata Grogol, agar bentuk-bentuk kesenian bersejarah ini diharapkan bisa menjadi bagian dari aktivitas pariwisata. Seperti diketahui, pengunjung desa ini ialah umumnya para penikmat wisata alam, kesenian tradisional, makanan khas dan juga upacara daur hidup.

Di desa ini juga terdapat wisata ziarah ke tempat mata air  yang tidak pernah kering sepanjang musim. Menurut cerita rakyat yang berkembang, ketika ingin berwudhu dan tidak menemukan air, Sunan Kalijaga menghantamkan tongkatnya ke tanah dan dari tanah tersebut keluarlah air yang sampai saat ini tempat ziarah petilasan itu disebut ‘Tuk Sibeduk’.

Diriwayatkan, nama Desa Grogol sendiri berasal dari kata ‘gregel’, yang dalam bahasa Jawa “rontok” atau “jatuh”. Ketika Sunan Kalijaga beristirahat di desa ini, rambutnya disisir dan jatuh ke tanah. Demikian pula kuku jarinya setelah dipotong.  Sebagai tanda sang wali pernah ke desa ini, kuku dan rambut yang jatuh itu ditanam oleh para sahabatnya yang hingga kini, menurut warga setempat, volume gundukan tanah ‘makam’ itu bertambah tiap tahun. []

 

YS/IslamIndonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *