Satu Islam Untuk Semua

Friday, 13 July 2018

Cara Cerdik Sunan Kalijaga Kenalkan Konsep Tauhid Lewat Lakon Bima Suci (1)


Cara Cerdik Sunan Kalijaga Kenalkan Konsep Tauhid Lewat Lakon Bima Suci (2)

islamindonesia.id – Cara Cerdik Sunan Kalijaga Kenalkan Konsep Tauhid Lewat Lakon Bima Suci (1)

 

Di Jawa, para wali berusaha keras untuk menjelaskan tauhid agar dapat dipahami oleh masyarakat. Namun sepertinya ceramah atau khotbah saja nyaris tidak efektif. Buktinya, perkembangan populasi Muslim kala itu tidak signifikan. Beruntung belakangan hadir Sunan Kalijaga, wali sekaligus budayawan yang tidak menginginkan budaya Jawa tergerus budaya impor termasuk budaya Arab sekalipun.

Menyadari keterbatasan bahasa dan platform arsitektur otak manusia, Sunan Kalijaga lantas berinisiatif untuk memanfaatkan budaya sebagai alat peraga dalam berdakwah. Setidaknya keterbatasan bahasa bisa disiasati dengan peragaan aktif seperti wayang. Rupanya gagasan Sunan Kalijaga disepakati dan didukung oleh para wali lainnya, dan muncullah sejumlah lakon-lakon wayang “carangan” yang terbukti jauh lebih efektif ketimbang pidato atau khotbah semata.

Salah satu lakon yang paling populer adalah “Bima Suci” yang dibukukan dalam Serat Bima Suci, tulisan Yasadipura I.

Lakon ini mencoba menggambarkan bagaimana memahami soal ketuhanan dengan keterbatasan arsitektur otak manusia.

Lakon Bima Suci diawali dengan hasrat Bima untuk mengetahui asal-usul kehidupan (sangkan paraning dumadi) dan tujuan akhir setelah kematian (kasedan jati). Digambarkan dalam lakon tersebut, Bima tidak punya siapa-siapa yang bisa ditanya soal keruhanian tersebut. Satu-satunya guru yang dia miliki hanyalah Dronacharya dan Bima tahu persis bahwa Drona adalah guru perang (kemiliteran), bukan guru agama. Namun Bima nekad menanyakan soal asal-usul kehidupan dan target utama setelah kematian kepada Drona.

Melihat hasrat Bima yang menggebu-gebu, Drona tidak tega untuk mengatakan yang sebenarnya bahwa dia tidak tahu. Drona menggunakan analogi dalam teknik peperangan, bahwa manakala seseorang sudah terjepit karena kalah kekuatan maupun strategi, maka tinggal kesungguhan dan keberanianlah yang mampu mendatangkan keberuntungan untuk berjaya atau setidaknya selamat dalam peperangan.

Dengan analogi ini, Drona lantas menguji sang Bima. Drona berkeyakinan bahwa hasrat yang mulia pasti akan ada jalan jika diupayakan dengan kesungguhan. Ini mirip khi dalam ilmu beladiri. Kepalan tangan kita hanyalah daging (otot) dan puluhan tulang kecil-kecil yang rata-rata lebih kecil dari puntung rokok. Jika kita benturkan dengan tembok atau pohon, secara logika akan rusak. Tapi jika kita sodokkan dengan penuh kesungguhan, ternyata sakit pun tidak. Bahkan jika kesungguhan kita tingkatkan lagi, justru dinding atau pohonnya yang bakal rusak. Drona selaku guru perang, tentu sangat menguasai hal ini.

Bima: “Wahai guru, tolong tunjukkan padaku sangkanparaning dumadi dan kasedan jati”
Drona: “Bima, ada 2 syaratnya.. Kamu harus buktikan mampu mendapatkan kayu gung susuhing angin dan tirta pawitra”
Bima: “Dimana aku harus mencarinya?”
Drona: “Di hutan Candramuka. Hutan itu gawat sekali, sering menelan korban. Kalau tidak siap, jangan berangkat.”

Tanpa pikir panjang Bima langsung menuju ke hutan Candramuka yang konon sangat angker. Disana tidak menemukan apapun selain 2 raksasa yang justru memburunya. Singkat cerita, 2 raksasa dibunuh oleh Bima dan ternyata mereka jelmaan dari Dewa Bayu dan Dewa Indra. Dalam Mahabharata orisinil, Bayu adalah dewanya kekuatan dan angin, sedang Indra dewanya kejayaan. Lakon ini meminjam tokoh 2 dewa tersebut untuk melambangkan bahwa kesungguhan Bima mendapat pertanda baik, mendapat kekuatan dan kejayaan. Merasa tidak menemukan “kayu gung susuhing angin” maka Bima bergegas kembali menghadap sang guru.

Bima: “Waaah ketiwasan guru… Hutan Candramuka ludes dan saya nggak menemukan apapun selain membunuh 2 raksasa yang ternyata Bayu dan Indra”.
Drona: “Tidak apa-apa muridku.. Aku bangga, kamu sudah berhasil mendapatkan kayu gung susuhing angin”.

Drona lantas menjelaskan bahwa “kayu” samaran dari “kayun” atau “karep” yang artinya hasrat. Gung artinya besar dan susuhing angin adalah pusat kekuatan. Hasrat yang besar akan memberi kekuatan dan menuntun kita pada kejayaan. Secara simbolik dilambangkan dengan hadirnya Dewa Bayu dan Dewa Indra. Kemauan keras Bima melambangkan khusuknya doa.

Lantas Drona meminta syarat yang kedua.

Drona: “Bima, kamu harus segera mendapatkan tirta pawitra untuk melengkapi syaratnya”
Bima: “Dimana harus kucari?”
Drona: “Di tengah samudera Minangkalbu”
Bima: “Hah.. dimana itu? Aku baru dengar nama itu”.
Drona: “Terserah kamu mencarinya.. Kali ini kamu harus mampu mencarinya sendiri tanpa petunjuk dari siapapun”.

Bima pun bergegas pergi tanpa banyak bertanya lagi. Dia artikan Minangkalbu adalah apa yang ada di hati. Maka larilah dia lurus tanpa memilih arah sampai mencapai tepi laut. Disana Bima sempat maju-mundur. Ada rasa takut dan keraguan. Karena masuk ke tengah laut memang sangat berisiko. Bahkan untuk memperpanjang pagelaran, Bima juga sempat dicegah oleh ibu dan saudara-saudaranya (Pandawa) serta Hanuman sebagai kakak seperguruan. Namun akhirnya Bima bertekad bulat untuk masuk ke tengah samudera. Loncatan Bima yang terkenal bisa dari gunung ke gunung itu, kini diarahkan ke tengah laut dan … byur … Bima pun tenggelam ke dasar samudera.

Awalnya Bima sempat disergap dan dililit secara tiba-tiba oleh ular raksasa bernama Nagabanda. Lilitan itu sedemikian kuat dan merata dari ujung kaki hingga kepala, sehingga sangat sulit untuk melepaskannya. Terlebih itu terjadi dalam air, dimana Bima tentu glagepan karena tidak memiliki insang. Kekuatan Bima yang konon 80 kali tenaga gajah ternyata tidak terlalu berarti menghadapi lilitan kuat ini karena tidak ada ruang gerak untuk meronta. Namun berkat kuatnya keinginan untuk melanjutkan petualangannya mencari tirta pawitra, Bima tidak putus asa dalam kegelapan yang teramat berat itu. Di sela-sela lilitan ternyata kedua jempol tangannya bebas. Bima lantas menggerakkan kedua jempol tangannya dengan harapan dapat melukai sang ular dengan kukunya yang panjang dan tajam.

Ternyata benar… sang ular terluka sehingga lilitan sedikit mengendor karena kepala sang ular menuju bagian yang terluka. Momentum ini segera dimanfaatkan Bima untuk meronta sekuat-kuatnya hingga mendapat celah untuk menangkap kepala sang Nagabanda. Kuku pancanaka yang sangat tajam itu dihujamkan ke mata dan mulut sang ular sehingga lilitannya makin lemah. Ular itu lantas dirobek-robek layaknya merobek daun pisang tak berdaya. Namun Bima pun terhempas oleh kibasan ular raksasa yang sekarat itu dan jatuh di sebuah pulau karang kecil di tengah samudera.

Bagian ini ingin menyampaikan pesan bahwa pada dasarnya hal yang paling sulit bagi Bima adalah mengalahkan nafsunya sendiri. Ketika dicegah dengan rayuan dan nasihat oleh ibunya dan saudara-saudaranya, Pandawa, dengan mudah Bima mampu mengabaikannya. Padahal Bima adalah figur yang sangat penurut kepada ibunya. Namun kali ini ibunya pun dikesampingkan. Lantas dicegah dengan kekuatan oleh Hanuman, kakak seperguruan yang kondang menaklukkan Rahwana sang raja super sakti. Kali ini pun Bima mampu meloloskan diri dalam sekejap dengan loncatannya yang melampaui ketinggian gunung. Yang paling sulit justru Nagabanda yang melilitnya tiba-tiba begitu Bima mencapai permukaan samudera. Ular raksasa ini mengibaratkan nafsu. Nafsu memang hanya bisa dikalahkan oleh kemauan keras yang disertai keyakinan bahwa dirinya pasti sanggup mengalahkannya.

Bertemu Dewa Ruci

Bima yang jatuh tengkurap di pulau karang lantas merangkak mencari pegangan untuk berdiri. Begitu menengok batu yang dipegangnya, nampak ada manusia kecil yang hanya setinggi mata kaki tetapi seluruh tubuhnya memancarkan cahaya. Manusia kecil ini adalah Dewa Ruci yang berarti ruh suci. Dewa Ruci lantas menyapa Bima lebih dulu.

Ruci: “Wahai Bima, apa yang kau cari jauh-jauh kesini?”

Bima semula agak jengkel karena ada anak kecil menyapa tidak sopan layaknya sapaan teman sebaya. Namun Bima yang cerdas tidak segera mengungkapkan rasa geramnya. Dia amati si manusia kecil yang memancarkan cahaya itu dengan saksama. Ternyata manusia kecil itu seperti miniatur dirinya. Wajah dan proporsi tubuh dan pakaiannya benar-benar mencerminkan dirinya. Dalam hatinya tebersit sangka bahwa ini pasti hal yang luar biasa. Maka Bima menjawab sapaan dan menyapanya balik dengan penuh kesopanan.

Bima: “Saya mencari tirtapawitra. Pukulun ini siapa?
Ruci: “Saya Nawa Ruci Marbudyengrat. Tirta pawitra memang ada disini. Tapi untuk apa?”
Bima: “Untuk membayar pengetahuan yang saya inginkan, sangkanparaning dumadi dan kasedan jati”.
Ruci: “Siapa yang akan menjelaskan itu kepadamu?”
Bima: “Dronacharya guruku”.
Ruci: “Kamu kan sudah tahu bahwa Drona adalah guru perang, dia tidak akan tahu soal keruhanian seperti itu”.
Bima: “Iya, tapi Drona adalah satu-satunya guru yang saya miliki. Maka kepadanya lah tempat saya bertanya.”
Ruci: “Dari mana kamu yakin Drona mampu menjawab?”
Bima: “Dari rasa bhaktiku kepadanya dan ketulusannya kepadaku selama ini. Beliau pernah bilang bahwa orang yang mau bertanya pasti akan mendapat jawaban meskipun bukan dari orang yang ditanya“.
Ruci “Naah.. untuk mendengarkan wejangan gurumu, masuklah ke dalam tubuhku melalui lobang telinga kiriku”.
Bima: “Hua ha ha ha …. mana mungkin saya bisa masuk ke jasad pukulun yang hanya sebesar kelingking”.
Ruci: “Jangan kuatir … kumpulkan segenap tenagamu dan loncatlah setinggi mungkin agar mencapai kupingku”.

Bima pun semakin bingung. Lah wong disuruh masuk ke tubuh yang kecil saja masih bingung kok malah disuruh loncat setinggi-tingginya. Padahal loncatan Bima konon bisa melampaui gunung.

Namun berkat hasrat yang menggebu, meski bingung, Bima tidak berpikir panjang. Dia pilih taat kepada perintah itu ketimbang berkutat dengan kebingungannya, karena dia sadar yang sedang dihadapinya adalah sebuah aura yang luar biasa dan seirama dengan apa yang sedang dicarinya dalam petualangannya ini.

Maka langsung saja Bima meloncat setinggi-tingginya dengan kekuatan penuh. Dan ternyata benar… Bima harus meluncur ke langit untuk mencapai kuping Dewa Ruci. Dewa Ruci yang hanya sebesar kelingking dan hanya setinggi matakaki, ternyata kupingnya berada jauh di atas awan.

Bagian ini ingin menyampaikan pesan bahwa manakala seseorang berpikir sangat keras untuk mencapai sesuatu dan mengesampingkan hal-hal lain selain fokus pada apa yang dituju, maka sebenarnya dia telah memasuki ambang alam ruhani. Yang ada hanyalah interaksi dengan dirinya sendiri.

Ketika Bima bertemu Dewa Ruci, sebenarnya Bima sudah memasuki ambang alam ruhani. Lakon ini mencoba menjelaskan bahwa di alam ruhani, dimensi ruang sudah tidak berlaku. Besar-kecil, tinggi-rendah, jauh-dekat, arah mata angin sudah tidak berlaku seperti yang kasat mata.

[Bersambung…]

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *