Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 18 January 2017

BUDAYA – Pameran “Lelaku” Dua Perupa: Menggugah Spiritualitas, Memantik Imajinasi dan Mengembalikan Kegembiraan


Pameran “Lelaku” Dua Perupa Menggugah Spiritualitas, Memantik Imajinasi dan Mengembalikan Kegembiraan

islamindonesia.id – Pameran “Lelaku” Dua Perupa: Menggugah Spiritualitas, Memantik Imajinasi dan Mengembalikan Kegembiraan

 

Mengawali tahun 2017 dua perupa melakukan pameran secara bersama di Taman Budaya Yogyakarta. Pameran yang dikuratori oleh Suwarno Wisetrotomo dan Kuss Indarto dibuka secara resmi oleh GBPH Prabukusumo, hari Sabtu (14/1/2017) malam lalu.

Dua perupa Supriyadi atau S.Priadi dan Anwar Musadad dari jalur otodidak (self taught, bukan jalur akademis) menggelar pameran dengan tajuk “Lelaku”. S.Priyadi memamerkan delapan karya rupa sementara Anwar menampilkan 12 karya. Keseluruhan karya yang berukuran relatif besar merupakan karya dua tahun terakhir.

Suwarno Wisetrotomo yang mengkuratori karya Anwar Musadad menjelaskan bahwa lukisan-lukisan Anwar, sekilas mengingatkan pada karya perupa senior Heri Dono dengan figur-figur ganjil dan sejenisnya. Meski begitu karya Anwar memberikan kegembiraan sekaligus dapat memantik imajinasi pengunjung.

Karya instalasi Yang Terlindungi karya S Priyadi

“Seni atau khususnya seni rupa semestinya memiliki peran mengembalikan kegembiraan dan imajinasi tersebut, tanpa kehilangan sikap kritis dan empati,” jelas Suwarno Wisetrotomo.

Hingga usia 15 tahun, Anwar tinggal bersama kedua orang tuanya dan sekolah di wilayah Sleman. Setelah menamatkan sekolah SMP 15 Gamping (kini SMP 3 Gamping), ia berencana melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta (Sekolah Menengah Kejuruan/SMK 3 Kasihan, Bantul). Ternyata ayah Anwar tidak merestui, dan menghendaki Anwar ‘mondhok’ atau ‘nyantri’, sebuah istilah untuk menyebut seseorang yang menjadi siswa di pondok pesantren.

Selama bertualang di berbagai pondok, Anwar sudah terbiasa membaca karya-karya sastra, yang diambil dari perpustakaan kakaknya (Haitamy El Jahid) yang kebetulan bekerja di sebuah penerbitan buku-buku kebudayaan, antara lain buku-buku sastra. Dari berbagai bacaan itu menyadarkan dirinya bahwa dalam bercakap atau berdebat, diperlukan kosakata untuk kepentingan beretorika yang baik dan indah.

Perkenalan dan belajar melukis dari perupa Nasirun, Anwar mulai mengikuti pameran pada 2002. Sempat vakum saat menjadi pengurus pondok pesantren di Beji Sidoarum, Anwar mulai aktif melukis lagi pada tahun 2008. Hingga tahun 2015 tidak kurang sudah 18 pameran bersama diikutinya.

Sebagaimana Anwar, “Lelaku” menjadi duo pameran tunggal pertama perupa kelahiran Lumajang, S.Priyadi setelah sebelumnya sejak tahun 2005 terlibat dalam beberapa pameran bersama baik di Yogyakarta maupun di kota lain.

Kuss Indarto yang mengkuratori karya S.Priyadi menjelaskan bahwa S.Priadi mengetengahkan visualitas yang beragam yang jika dicermati dengan seksama, sebenarnya, bertumpu pada satu titik persoalan yang ingin diperbincangkan, yakni spiritualitas.

Tahun 2001 menjadi tahun penting bagi S.Priyadi saat memutuskan untuk pergi ke Yogyakarta dan bekerja pada seseorang yang mempekerjakannya sebagai penggarap kerajinan figura cermin.

Pameran seni rupa “Lelaku” akan berlangsung hingga 24 Januari 2017.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *