Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 09 July 2017

BUDAYA – Mengintip Tradisi Grebeg Syawal di Cirebon


IMG_0115

islamindonesia.id – BUDAYA – Mengintip Tradisi Grebeg Syawal di Cirebon

 

Sepekan setelah Idul Fitri, ribuan warga Cirebon memadati areal kompleks wisata ziarah Makam Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Kec. Gunung Jati, Kab. Cirebon. Mereka bermaksud menyaksikan dan mengikuti ritual yang dilakukan keluarga Kesultanan Keraton Kanoman, yang masih setia menjaga tradisi sejak turun temurun, yaitu Grebeg Syawal, sebuah ritual khusus yang digelar sepekan setelah Idul Fitri.

Mereka rela mengikuti ritual tersebut selama berjam-jam, mengingat acaranya hanya berlangsung selama sehari di setiap tanggal 7 Syawal. Selain ingin bersama-sama mengenang kebesaran Sunan Gunung Jati dengan cara berdoa, juga bersilaturahmi dengan keluarga Keraton Kanoman, utamanya Sultan Kanoman XII, Sultan Raja Muhammad Emirudin.

Warga ini berdatangan dari berbagai daerah. Tidak hanya dari Cirebon dan sekitarnya melainkan juga dari berbagai kota di Indonesia. “Saya ingin ngalap berkah,” tutur Undang Sunaryo, 52 tahun, salah seorang warga asal Jatibarang, yang selalu hadir dalam acara itu.

Ritual tersebut diawali dengan kedatangan Sultan Kanoman XII Sultan Raja Muhammad Emirudin beserta kerabat di kompleks makam sekitar pukul 06.30 WIB. Keluarga besar keraton disambut ribuan orang yang sudah hadir di tempat tersebut sejak satu hari sebelumnya atau pada saat itu.

Rombongan keluarga keraton selanjutnya berjalan melewati sembilan pintu menuju makam Sunan Gunung Jati yang sengaja dibuka khusus pada kegiatan Grebeg Syawal, yaitu diawali Pintu Pasujudan, Pintu Kandok, Pintu Pandan, Pintu Soko, Pintu Kaca, Pintu Bacem, dan Pintu Gusti.

Sekretaris sekaligus Juru Bicara Keraton Kanoman, Ratu Raja Arimbi Nurtina, mengungkapkan, keluarga Kesultanan Keraton Kanoman di ruang Gedong Djinem hanya melakukan doa bersama, tahlilan, dan dzikir. “Kami melakukan tujuh kali doa bersama, tahlil, dan dzikir di tujuh areal pemakaman mulai dari makam Sunun Gunung Jati hingga makam cicit Sunan Gunung Jati yang menjadi raja kanoman generasi kedua. Semuanya dilakukan menghadap kiblat, dan akan diakhiri dengan tutup doa menghadap Pintu Pasujudan sekaligus penutupan kembali pintu tersebut atas izin Sultan,” paparnya.

Ketika rombongan Sultan Kanoman, Gusti Sultan Raja Mochmmad Emirudin, keluar dari makam itu dan bergerak menuju Pendopo, warga berbondong-bondong dan berdesak-desakan mengikut ke pendopo yang berjarak sekitar 30 meter dari makam Putri Ong Tien Nio. Di pendopo itu, semua anggota keluarga Sultan Kanoman mengadakan makan bersama.

Para warga yang terdekat dengan keluarga sultan itu berusaha mendapat jatah, entah itu yang sama sekali belum dimakan ataupun  yang sebagiannya telah dimakan terutama oleh sultan dan patih. Buah, nasi, lauk, dan segelas air mineral dinanti orang-orang tua, muda, dan anak-anak kecil. Sebagian warga memasukkan ke dalam kantong plastik sebagian lagi langsung menikmati makanan atau minuman itu.

Suara riuh dan tangan yang bergerak merebut koin pun tidak bisa dihindari ketika patih dan seorang keluarga Sultan Kanoman melemparkan kepingan uang logam dari dua bokor. Sebagian dilemparkan di dalam pendopo yang menjadi rebutan para keluarga kesultan serta sebagian dilemparkan ke luar, ke arah warga. Rebutan pun terjadi. Koin-koin itu dipercaya membawa berkah.

YS/ Islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *